Otak Einstein Dicuri, Setelah Diteliti Tidak Istimewa?

Muhammad Taufiq

Senin, 7 Januari 2019 - 16:37

JATIMNET.COM – Semua pasti tahu siapa Albert Einstein. Fisikiawan terbesar abad ke-20 itu begitu populer karena teori relativitasnya. Ia juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum sebagai cabang ilmu fisika, mekanika statistika, dan kosmologi. Einstein lahir pada 14 Maret 1879 di Jerman.

Prestasi ilmiahnya itulah yang membuat nama Einstein identik dengan 'jenius'. Dia meninggal pada 18 April 1955 di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, gara-gara sakit akibat pecahnya pembuluh darah utama yang membawa darah dari jantung ke organ dan jaringan di bagian bawah tubuh atau aorta (aneurisma aorta perut).

Setelah dinyatakan meninggal, otak Einstein kemudian dicuri oleh ahli patologi bernama Thomas Harvey saat melakukan autopsi di Princeton. Otak itu diambil tujuh jam setelah kematiannya. Sementara tubuhnya dikremasi.

Einstein sebenarnya tidak ingin otak atau tubuhnya dipelajari: Dia tidak ingin disembah. "Dia telah meninggalkan pesan khusus mengenai jenazahnya: mengkremasinya, dan menyebarkan abu secara diam-diam untuk mencegah agar tidak diberhalakan (disembah)," begitu Brian Burrell menulis dalam bukunya Postcards from the Brain Museum: The Improbable Search for Meaning in the Matter of Famous Minds yang terbit pada 2015.

Tetapi Harvey tetap mengambil otak tanpa seizin dari Einstein atau keluarganya. Ketika fakta itu terungkap beberapa hari kemudian, Harvey berhasil meminta restu, lantaran sudah terlanjur, dari putra Einstein, Hans Albert.

"Syarat yang diminta Hans Albert dikenal hingga kini bahwa pengambilan dan penyelidikan otak tersebut akan dilakukan semata-mata untuk kepentingan sains," kata Burrell, seperti dikutip dari National Geographic.

BACA JUGA : 

NASA Ungkap Ultima Thule Obyek Luar Angkasa Mirip Pin Bowling

Begini Foto Kepala Makhluk Asing Di Permukaan Mars

Harvey kemudian kehilangan pekerjaannya di rumah sakit Princeton dan membawa otak Einstein ke Philadelphia. Di tempat itu, otak Einstein dipotong-potong menjadi 240 bagian dan disimpan dalam celloidin berisi sel bakteri (selulosa) yang memiliki bentuk keras dan kenyal.

Dia membagi potongan menjadi dua toples dan menyimpannya di ruang bawah tanah. Belakangan, potongan otak itu kemudian dikirim ke para ilmuan di seluruh dunia untuk diteliti.

Pada 1985, Harvey dan partnernya di California menerbitkan studi pertama otak Einstein. Ia mengklaim otak tersebut memiliki proporsi abnormal dari dua jenis sel, neuron dan glia.

Studi itu diikuti oleh lima peneliti lain (pada 2014), yang melaporkan perbedaan tambahan dalam sel individu atau dalam struktur tertentu di otak Einstein. Para peneliti di balik studi ini mengatakan bahwa otak Einstein dapat membantu mengungkap dasar-dasar kecerdasan neurologis.

Tetapi premis itu tidak masuk akal dan penelitiannya dinilai sebagai omong kosong. Seperti diungkap seorang profesor psikologi di Pace University, Terence Hines, yang mempresentasikan catatannya di pertemuan tahunan Cognitive Neuroscience Society pada 2014. Dalam pertemuan itu Hines membedah kecacatan masing-masing dari enam studi tentang otak Einstein tersebut.

Pada penelitian Tahun 1985 terdapat 28 pengujian dilakukan untuk membandingkan otak Einstein dengan otak 'kontrol' lainnya. Hasilnya, hanya satu yang dianggap akurat dan signifikan oleh para peneliti. Lebih jauh lagi, Hines mengklaim, analisis mikroskopik menemukan secara esensial bahwa tidak ada perbedaan antara otak Einstein dengan otak kontrol lainnya.

"Mempercayai bahwa analisis dari satu atau beberapa irisan kecil otak tunggal bisa mengungkapkan sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan kognitif tertentu dari otak, adalah naif," kata Hines dikutip dari dailymail.co.uk.

Berikutnya Hines membedah penelitian tahun 1999 yang dilakukan Harvey dan kolaborator asal Kanada. Waktu itu Harvey memasukkan otak Einstein ke salah satu jurnal medis paling bergengsi di dunia, The Lancet.

Berdasarkan foto-foto lama yang diambil dari otak Einstein sebelum dipotong, para peneliti mengklaim bahwa Einstein memiliki pola lipatan abnormal di bagian lobus parietal-nya, sebuah wilayah yang telah dikaitkan dengan kemampuan matematika.

Mereka juga melaporkan bahwa lobus parietal-nya lebih lebar 15 persen, dan lebih simetris daripada otak kontrol lainnya. Namun, sekali lagi, kata Hines, para peneliti tidak buta terhadap foto-foto yang menunjukkan otak Einstein tersebut.

Hines lagi-lagi menyangkal dan dapat menunjukkan bahwa Einstein sebenarnya bukan ahli matematika yang hebat. “Tidak ada cara untuk mengetahui apakah benda X di otak Einstein menjadikan Einstein pintar, disleksia, pandai matematika, atau hanya benda X saja di otaknya," kata Hines.

Ia justru menutup argumennya dengan mengutip tulisan Einstein sendiri di papan kantornya, Princeton. "Tidak semua yang diperhitungkan dapat dihitung, dan tidak semua yang dapat dihitung diperhitungkan."

Sebelum sanggahan Heins muncul, dalam foto yang dipublikasikan pada 16 November 2012 di Jurnal Brain, mengungkap kalau Einstein memiliki lipatan di wilayah abu-abu otaknya, tempat pikiran sadar (concious) berada. Secara khusus, lobus frontal (frontal lobes), wilayah yang berkaitan dengan pikiran abstrak dan perencanaan, tak biasanya memiliki lipatan rumit.

“Ini adalah bagian paling istimewa, canggih dalam otak manusia,” kata Dean Falk, penulis pendamping laporan, sekaligus antropolog dari Florida State University, yang menyinggung soal wilayah abu-abu di otak Einstein itu. "Dan milik Einstein sangat luar biasa,"

 

Baca Juga

loading...