Logo

Ogah Relokasi, Tukang Jagal Sapi Gelar Aksi Mogok Kerja dan Unjuk Rasa

Jika berlanjut bisa berdampak pada stabilitas daging di Surabaya
Reporter:,Editor:

Senin, 12 January 2026 10:30 UTC

Ogah Relokasi, Tukang Jagal Sapi Gelar Aksi Mogok Kerja dan Unjuk Rasa

Para jagal sapi di Surabaya saat melakukan mogok dan aksi unjuk rasa untuk menolak relokasi ke RPH baru di Tambak Osowilangun, Senin, 12 Januari 2026. Foto: Januar.

JATIMNET.COM, Surabaya – Pasokan daging sapi ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Kota Surabaya berpotensi terhambat. Kondisi ini dampak dari aksi mogok kerja yang dilakukan para tukang jagal di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Pegirian, Kota Surabaya, Senin, 12 Januari 2026.

Aksi mogok ini dipicu penolakan para tukang jagal terhadap rencana Pemerintah Kota Surabaya yang akan memindahkan aktivitas pemotongan hewan dari RPH Pegirian ke RPH baru yang berada di kawasan Tambak Osowilangun.

Para jagal menilai relokasi tersebut akan berdampak pada biaya operasional serta akses distribusi daging ke pasar-pasar di wilayah kota. Karena alasan itu, mereka juga menggelar unjuk rasa sebagai bentuk protes terhadap kebijakan relokasi tersebut.

Koordinator aksi, Abdullah Mansyur mengatakan bahwa penutupan aktivitas di RPH Pegirian berpotensi menghentikan peredaran daging dalam jumlah besar setiap harinya. Menurutnya, RPH Pegirian selama ini menjadi salah satu pemasok utama daging sapi untuk pasar-pasar tradisional di Surabaya.

“Penutupan aktivitas di RPH Pegirian berpotensi menghentikan peredaran lebih dari 50 ton daging dan tulang sapi per hari. Jika aksi berlanjut, pasokan daging ke Surabaya bisa terganggu hingga ratusan ton,” ujarnya.

“Kalau dikalkulasi, penutupan RPH itu sekitar ada 50 lebih ton daging dan tulang per hari. Kalau sampai beberapa hari (mogok kerja), ya bisa mencapai 200 ton dan tidak ada suplai daging dari RPH Pegirian,” ungkap Abdullah.

Menurutnya, para tukang jagal akan melakukan aksi mogok kerja hingga Wali Kota Surabaya membatalkan rencana relokasi RPH tersebut. "Kami siap mogok hingga tuntutan dikabulkan," tegasnya.

Ia berharap pemerintah kota dapat membuka ruang dialog dengan para tukang jagal. "Hal ini dilakukan agar relokasi tidak merugikan pelaku usaha kecil dan tidak berdampak pada stabilitas pasokan serta harga daging sapi di pasaran," jelasnya.