Logo

Nilai Keberlanjutan di Balik Tren Thrifting

Pilihan sederhana saat berbelanja dapat memberi dampak yang lebih besar daripada yang sering kita bayangkan.
Reporter:,Editor:

Senin, 22 June 2026 13:00 UTC

Nilai Keberlanjutan di Balik Tren Thrifting

Ilustrasi: Belanja Lebih Bijak. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Nilai keberlanjutan dalam thrifting menjadi salah satu alasan mengapa tren ini terus berkembang di berbagai negara. Jika sebelumnya pakaian bekas lebih banyak dipilih karena faktor harga, kini semakin banyak konsumen yang melihatnya sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih bertanggung jawab.

 

Perubahan tersebut terlihat jelas di kalangan generasi muda. Mereka tidak hanya mempertimbangkan model dan harga pakaian, tetapi juga mulai memperhatikan bagaimana sebuah produk diproduksi, digunakan, dan berakhir setelah tidak dipakai lagi.

 

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan global, thrifting menawarkan alternatif yang relatif mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak memerlukan teknologi baru atau perubahan gaya hidup yang ekstrem, tetapi mampu memperpanjang umur pakai sebuah produk.

 

Karena itu, thrifting semakin sering dikaitkan dengan konsep konsumsi berkelanjutan yang menjadi perhatian berbagai organisasi internasional.

 

 

Industri Fashion dan Tantangan Lingkungan Global

 

Industri fashion merupakan salah satu sektor ekonomi terbesar di dunia. Namun di balik pertumbuhannya, terdapat berbagai tantangan lingkungan yang semakin mendapat perhatian.

 

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperkirakan industri fashion bertanggung jawab atas sekitar 8 hingga 10 persen emisi karbon global. Angka tersebut menjadikan fashion sebagai salah satu sektor dengan jejak lingkungan yang cukup besar.

 

Selain emisi karbon, produksi tekstil juga membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar. Menurut data UNESCO yang sering dikutip UNEP, produksi satu kaus berbahan katun dapat memerlukan sekitar 2.700 liter air sepanjang proses produksinya.

 

Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan air minum satu orang selama lebih dari dua tahun. Data ini menunjukkan bahwa setiap pakaian memiliki jejak sumber daya yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di etalase toko.

 

 

Memperpanjang Umur Pakai Pakaian

 

Salah satu manfaat terbesar dari thrifting adalah memperpanjang siklus hidup produk. Laporan Ellen MacArthur Foundation menyebutkan bahwa memperpanjang masa penggunaan pakaian selama sembilan bulan tambahan dapat mengurangi jejak karbon, penggunaan air, dan limbah hingga sekitar 20 hingga 30 persen.

 

Konsep ini menjadi inti dari ekonomi sirkular atau circular economy. Dalam sistem tersebut, produk tidak langsung dibuang setelah digunakan, melainkan dimanfaatkan selama mungkin agar nilai ekonominya tetap bertahan.

 

Ketika seseorang membeli pakaian thrift yang masih layak pakai, ia ikut memperpanjang masa manfaat produk tersebut.

 

Meski terlihat sederhana, efek kumulatif dari jutaan keputusan konsumen dapat memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pengurangan limbah tekstil.

 

 

Mengurangi Tekanan terhadap Tempat Pembuangan Sampah

 

Limbah tekstil menjadi salah satu masalah yang terus meningkat di berbagai negara. Menurut UNEP, setiap detik terdapat limbah pakaian setara satu truk sampah yang dibuang atau dibakar di seluruh dunia. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya siklus pembuangan dalam industri fashion modern.

 

Sebagian besar limbah tersebut berasal dari pola konsumsi yang mendorong pembelian produk baru secara terus-menerus, sementara pakaian lama dibuang sebelum habis masa pakainya.

 

Thrifting membantu memperlambat aliran limbah tersebut dengan memberikan kesempatan kedua bagi produk yang masih memiliki fungsi.

 

Meskipun tidak menyelesaikan seluruh persoalan industri fashion, pendekatan ini menjadi salah satu langkah praktis yang dapat dilakukan oleh konsumen sehari-hari.

 

 

Generasi Muda dan Perubahan Cara Konsumsi

 

Perubahan pola pikir konsumen menjadi faktor penting dalam pertumbuhan thrifting. Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey menunjukkan bahwa isu lingkungan semakin memengaruhi keputusan pembelian generasi muda di berbagai negara. Banyak responden mengaku lebih memperhatikan dampak sosial dan lingkungan dari produk yang mereka beli.

 

Kondisi ini menciptakan pergeseran dari konsumsi yang berfokus pada kuantitas menuju konsumsi yang lebih mempertimbangkan nilai jangka panjang.

 

Bagi sebagian anak muda, membeli pakaian bekas bukan lagi sekadar upaya menghemat uang. Aktivitas tersebut juga menjadi cara untuk menunjukkan kepedulian terhadap isu keberlanjutan.

 

Di sinilah thrifting berkembang dari tren fashion menjadi bagian dari identitas gaya hidup modern.

 

 

Keberlanjutan yang Dimulai dari Keputusan Kecil

 

Isu lingkungan sering kali terasa sangat besar dan kompleks. Namun perubahan perilaku konsumen menunjukkan bahwa langkah kecil tetap memiliki arti penting.

 

Memilih pakaian yang masih layak pakai, memperpanjang masa penggunaan produk, serta mengurangi pembelian yang tidak diperlukan merupakan contoh tindakan sederhana yang dapat dilakukan siapa saja.

 

Nilai keberlanjutan dalam thrifting bukan terletak pada kesempurnaan, melainkan pada upaya mengurangi pemborosan dan memanfaatkan sumber daya secara lebih bijak.

 

Karena itulah tren ini terus mendapatkan tempat di tengah generasi muda. Mereka melihat bahwa gaya hidup modern tidak harus selalu identik dengan konsumsi berlebihan.

 

Pada akhirnya, nilai keberlanjutan di balik tren thrifting menunjukkan bahwa keputusan berbelanja dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

 

Sebuah pakaian bekas mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya terdapat pilihan untuk menggunakan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi limbah, dan membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.