Logo

Cara Aman Beraktivitas di Bawah Terik Matahari

Panas sering terasa biasa sampai tubuh mulai kesulitan mengimbanginya.
Reporter:,Editor:

Kamis, 06 August 2026 08:00 UTC

Cara Aman Beraktivitas di Bawah Terik Matahari

Ilustrasi: Aman di Bawah Terik. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM- Aktivitas di bawah terik matahari menjadi bagian yang sulit dihindari selama Agustus. Di Surabaya, persiapan 17 Agustus membuat banyak warga lebih lama berada di luar rumah, dari mengecat gapura hingga menyiapkan arena lomba.

Persoalannya, panas tidak bekerja seperti hujan yang langsung membuat orang mencari tempat berlindung. Selama masih sanggup beraktivitas, seseorang bisa merasa semuanya baik-baik saja. Tubuh sebenarnya terus bekerja menjaga suhu internal agar tetap aman.

Pada cuaca tertentu, kombinasi suhu, kelembapan, paparan matahari, pakaian dan aktivitas fisik dapat membuat kemampuan tersebut kewalahan.

 

Panas Surabaya Bukan Cuma Soal Angka Suhu

Surabaya memiliki karakter kota pesisir yang hangat. Data Badan Pusat Statistik Kota Surabaya yang bersumber dari pengamatan BMKG Stasiun Meteorologi Juanda mencatat suhu udara selama 2024 berkisar 21,2–35,4 derajat Celsius, sementara kelembapan berada pada rentang 42–100 persen.

Rentang tahunan tersebut tentu tidak dapat digunakan untuk menebak suhu tepat pada satu siang di Agustus 2026. Untuk keputusan aktivitas harian, prakiraan dan peringatan terbaru BMKG tetap menjadi rujukan yang lebih tepat.

Namun, suhu udara bukan satu-satunya hal yang menentukan bagaimana panas dirasakan tubuh.

Kelembapan tinggi dapat menghambat penguapan keringat. Padahal, penguapan itulah salah satu mekanisme penting tubuh untuk membuang panas. Aktivitas fisik kemudian menambah produksi panas dari dalam tubuh sendiri.

Bayangkan warga mengecat pembatas jalan pukul 11 siang. Ia berdiri di permukaan yang ikut menerima radiasi matahari, mengenakan pakaian tertentu, bergerak berulang, lalu bekerja cukup lama. Angka suhu udara hanya menceritakan sebagian dari paparan panas yang diterimanya.

 

Jam 10 Pagi hingga 4 Sore Perlu Perhatian

Sinar matahari juga membawa persoalan lain, yaitu radiasi ultraviolet atau UV. World Health Organization menggunakan UV Index sebagai ukuran intensitas radiasi ultraviolet matahari. Skalanya dimulai dari 0 dan semakin tinggi angkanya, semakin besar potensi kerusakan pada kulit dan mata.

WHO menyarankan perlindungan terhadap matahari ketika UV Index mencapai 3 atau lebih. Salah satu anjurannya adalah membatasi waktu berada di bawah matahari tengah hari.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau EPA menggunakan rentang pukul 10.00 hingga 16.00 sebagai periode ketika paparan sinar UV umumnya paling kuat. Bayangan juga dapat menjadi petunjuk sederhana: ketika bayangan tubuh lebih pendek daripada tinggi badan, paparan UV cenderung sedang kuat.

Konteksnya cukup relevan untuk jadwal lomba dan kerja bakti. Kegiatan fisik berat tidak harus ditempatkan pada tengah hari hanya karena panitia ingin semua agenda selesai sebelum sore.

Jadwal bisa dibagi. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar dilakukan pagi, sementara siang digunakan untuk persiapan yang dapat dikerjakan di tempat teduh.

Menunggu satu atau dua jam terkadang lebih masuk akal daripada memaksa satu kampung bekerja ketika matahari sedang terasa paling menyengat.

 

Berteduh Bukan Berarti Acara Berhenti

Jeda sering dianggap membuang waktu, terutama ketika panggung belum selesai atau garis lapangan belum dicat. Dalam cuaca panas, cara berpikir itu perlu sedikit diubah.

WHO memperkirakan sekitar 489.000 kematian terkait panas terjadi setiap tahun secara global pada periode 2000–2019. Sekitar 45 persen terjadi di Asia dan 36 persen di Eropa. Angka tersebut mencakup dampak panas dalam skala luas, bukan aktivitas Agustusan secara khusus. Namun, risiko panas memang bukan perkara kenyamanan semata.

WHO juga mencatat mortalitas terkait panas pada kelompok usia di atas 65 tahun meningkat sekitar 85 persen antara periode 2000–2004 dan 2017–2021. Lansia termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih ketika suhu meningkat.

Di lingkungan RT, implikasinya sangat praktis. Warga lanjut usia tidak perlu mendapat tugas yang mengharuskan berdiri lama di bawah matahari. Anak-anak juga sebaiknya mempunyai area tunggu teduh ketika belum mendapat giliran lomba.

Panitia dapat menempatkan kursi di bawah tenda, pohon atau teras warga. Air minum dibuat mudah ditemukan. Jadwal istirahat tidak perlu menunggu seseorang mengeluh pusing.

Tempat teduh memang tidak menurunkan suhu seluruh Surabaya. Setidaknya, tubuh mendapat kesempatan keluar dari paparan matahari langsung.

 

Topi, Baju, dan Tabir Surya Punya Fungsi Berbeda

Pakaian untuk kegiatan luar ruang tidak perlu rumit. Prinsip dasarnya adalah membantu tubuh tetap nyaman sekaligus mengurangi paparan matahari.

WHO menganjurkan penggunaan pakaian yang menutup kulit, topi bertepi lebar dan kacamata hitam sebagai bagian perlindungan dari UV. Untuk bagian kulit yang tetap terbuka, tabir surya spektrum luas dengan SPF 30 atau lebih direkomendasikan. Ada detail yang sering terlupakan: tabir surya bukan izin untuk berada lebih lama di bawah matahari.

WHO secara eksplisit menempatkan tabir surya sebagai pelengkap perlindungan, bukan cara memperpanjang durasi paparan. Penggunaannya juga perlu diulang sesuai petunjuk produk, terutama setelah berkeringat banyak.

Untuk kegiatan kampung, pilihan pakaian tetap bisa santai. Baju yang ringan dan nyaman, topi ketika pekerjaan memungkinkan, serta akses ke tempat teduh sudah membantu.

Kaos merah untuk menyambut kemerdekaan boleh saja. Tubuh tidak menilai semangat nasionalisme dari seberapa lama seseorang mampu berdiri di aspal panas.

 

Kenali Saat Panas Mulai Menjadi Masalah

Kelelahan karena panas bisa muncul melalui keringat berlebihan, lemah, pusing, sakit kepala, mual atau rasa ingin pingsan. Orang tersebut perlu menghentikan aktivitas dan dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk.

Situasinya menjadi lebih serius ketika muncul gangguan kesadaran, kebingungan, kejang, atau seseorang kehilangan kesadaran.

Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat menyebut heat stroke sebagai kondisi paling serius akibat panas. Suhu tubuh dapat meningkat hingga sekitar 106°F atau 41,1°C, bahkan lebih tinggi, dalam 10–15 menit. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kecacatan permanen atau kematian apabila pertolongan darurat terlambat.

Dalam situasi seperti itu, acara harus menjadi urusan nomor dua. Bantuan medis darurat perlu segera dicari sambil melakukan upaya pendinginan yang aman.

Tidak semua orang memiliki toleransi panas yang sama. Lansia, bayi dan anak kecil, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, pekerja luar ruang, serta orang yang menggunakan obat tertentu dapat mempunyai risiko berbeda.

Maka keputusan untuk berhenti sebaiknya tidak diperlakukan sebagai tanda kurang kuat.

Aktivitas di bawah terik matahari tetap bisa menjadi bagian menyenangkan dari Agustusan jika jadwal disusun lebih masuk akal. Periksa informasi cuaca, pilih jam yang lebih nyaman, sediakan tempat teduh dan air, gunakan perlindungan dari UV, lalu beri ruang bagi tubuh untuk beristirahat.

Di Surabaya, pekerjaan menghias kampung masih bisa diteruskan sore hari. Cat dan umbul-umbul dapat menunggu beberapa jam; tubuh jauh lebih sulit diganti ketika sudah kepanasan.