Kamis, 06 August 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Aman Ikut Lomba. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Cedera lomba 17 Agustus kadang bermula dari situasi yang sangat biasa. Peserta baru datang, sandal dilepas, nama dipanggil panitia, lalu beberapa menit kemudian sudah harus berlari atau menarik tambang sekuat tenaga.
Di kampung-kampung Surabaya, suasananya bisa semakin ramai. Gang yang biasanya menjadi jalur motor berubah menjadi arena balap karung. Lapangan kecil dipenuhi peserta, penonton, kursi plastik, pengeras suara, dan anak-anak yang hilir mudik.
Lomba memang dibuat untuk bersenang-senang. Namun, tubuh peserta belum tentu terbiasa dengan gerakan eksplosif yang muncul mendadak.
Peserta Dadakan Punya Tantangan Tersendiri
Ada alasan sederhana mengapa persiapan fisik layak mendapat perhatian. WHO mencatat 31 persen orang dewasa di dunia belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik pada 2022. Pada kelompok remaja, proporsinya bahkan mencapai 80 persen.
Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia 2023 juga memperlihatkan 37,4 persen penduduk usia 10 tahun ke atas tergolong kurang melakukan aktivitas fisik. Salah satu alasan yang paling banyak disampaikan adalah tidak mempunyai waktu untuk beraktivitas fisik.
Profil seperti ini mudah ditemukan dalam perlombaan warga. Senin sampai Jumat banyak duduk bekerja, Sabtu masih sibuk mengurus rumah, Minggu pagi mendadak ikut balap karung karena RT kekurangan peserta.
Masalahnya terletak pada perubahan beban yang terlalu cepat.
Tarik tambang menuntut genggaman, kaki dan punggung bekerja keras dalam waktu singkat. Balap karung melibatkan lompatan berulang dengan keseimbangan terbatas.
Permainan yang mengharuskan berlari cepat memberi beban berbeda lagi pada otot dan persendian.Tubuh yang jarang menerima pola gerakan tersebut membutuhkan penyesuaian.
Lima Menit Sebelum Peluit Bisa Berarti Banyak
Pemanasan sering kalah oleh kesibukan mencari peserta. Padahal, beberapa menit sebelum pertandingan dapat digunakan untuk menaikkan intensitas gerak secara perlahan.
Tidak perlu membuat sesi pemanasan seperti atlet profesional. Berjalan cepat, menggerakkan sendi secara terkendali, lalu mencoba gerakan yang menyerupai aktivitas lomba sudah lebih masuk akal daripada langsung bergerak maksimal.
Untuk perlombaan yang banyak berlari, peserta bisa memulai dengan berjalan dan joging ringan. Pada tarik tambang, bahu, lengan, pinggul dan tungkai perlu mendapat kesempatan bergerak terlebih dahulu. Pemanasan juga menjadi waktu untuk mengenali keadaan badan hari itu.
Ada orang yang merasa segar saat bangun, tetapi ternyata betisnya masih kaku setelah aktivitas sehari sebelumnya. Ada pula peserta yang sedang kurang tidur atau belum pulih dari keluhan tertentu. Informasi kecil semacam itu lebih berguna daripada memaksakan diri karena teman sudah berteriak dari pinggir lapangan.
WHO merekomendasikan orang dewasa mendapatkan 150–300 menit aktivitas fisik aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas berat. Polanya dibangun melalui aktivitas rutin, bukan satu ledakan aktivitas pada hari perlombaan.
Arena Kampung Juga Perlu Diperiksa
Pencegahan cedera tidak seluruhnya berada di tangan peserta. Panitia mempunyai pekerjaan yang sama pentingnya: melihat arena dengan mata orang yang akan berlari di atasnya. Jalan kampung yang tampak baik untuk dilewati sehari-hari belum tentu ideal untuk perlombaan.
Lubang kecil, paving tidak rata, permukaan licin, kabel, pot tanaman, tiang dekorasi atau batu dapat menjadi masalah ketika peserta bergerak cepat.
Jarak penonton juga perlu diperhitungkan. Anak-anak biasanya ingin melihat sedekat mungkin, terutama saat lomba mulai seru. Batas sederhana antara arena dan penonton membuat peserta mempunyai ruang untuk berhenti setelah melewati garis akhir.
Untuk tarik tambang, ruang di belakang kedua tim perlu cukup panjang. Peserta bisa mundur atau jatuh ketika keseimbangan berubah.
Alas kaki pun jangan dianggap detail remeh. Beberapa jenis lomba memang memiliki aturan khusus, tetapi untuk aktivitas yang memungkinkan penggunaan sepatu, pilih alas kaki yang stabil dan sesuai permukaan arena.
Agustus 2026 Bertepatan dengan Puncak Kemarau
Ada satu faktor lain yang relevan untuk lomba tahun ini. BMKG pada Juni 2026 memprediksi puncak musim kemarau Indonesia berlangsung sepanjang Juli hingga September.
Khusus Agustus, puncak kemarau diperkirakan terjadi di 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia. Sebagian besar Pulau Jawa termasuk wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan tersebut.
Surabaya tentu punya karakter aktivitas luar ruang yang khas. Matahari pagi yang masih nyaman bisa berubah terasa menyengat ketika perlombaan bergeser menuju tengah hari.
Jadwal menjadi bagian dari strategi keselamatan. Lomba yang membutuhkan banyak tenaga dapat ditempatkan lebih pagi atau menjelang sore, sementara permainan dengan intensitas lebih rendah mengisi waktu lainnya.
Tempat berteduh dan air minum sebaiknya mudah dijangkau peserta. Orang yang menunggu giliran selama satu jam di bawah matahari sudah mengeluarkan energi bahkan sebelum namanya dipanggil.
Panitia juga tidak perlu mempertahankan jadwal secara kaku ketika cuaca terasa kurang bersahabat.
Saat Tubuh Memberi Sinyal untuk Berhenti
Persaingan antar-RT kadang lebih serius daripada yang dibayangkan. Sorakan penonton membuat peserta ingin menyelesaikan pertandingan meski tubuh mulai terasa tidak nyaman.
Rasa lelah setelah bergerak tentu wajar. Namun, nyeri tajam, pusing, mual, kehilangan keseimbangan, sesak yang tidak biasa, atau rasa sakit yang semakin kuat bukan sesuatu yang perlu dibuktikan dengan keberanian.
Berhenti jauh lebih masuk akal. Jika seseorang terjatuh dan mengalami nyeri berat, pembengkakan besar, perubahan bentuk anggota tubuh, tidak mampu menumpu, mengalami benturan kepala, kehilangan kesadaran, atau menunjukkan keluhan serius lainnya, penanganan medis perlu diprioritaskan. Jangan memaksa korban kembali berdiri hanya supaya perlombaan segera dilanjutkan.
Secara global, WHO memperkirakan cedera akibat berbagai penyebab bertanggung jawab terhadap sekitar 4,4 juta kematian setiap tahun dan hampir 8 persen dari seluruh kematian.
Tentu angka tersebut mencakup spektrum cedera yang jauh lebih luas daripada olahraga warga. Namun, datanya mengingatkan bahwa cedera tetap layak diperlakukan secara serius ketika tanda bahayanya muncul.
Untuk cedera ringan sekalipun, peserta sebaiknya tidak buru-buru kembali ke arena hanya karena babak berikutnya akan dimulai.
Mencegah cedera saat lomba 17 Agustus sebenarnya tidak membutuhkan aturan rumit. Tubuh perlu dipanaskan, arena diperiksa, cuaca diperhitungkan, dan peserta diberi kebebasan berhenti ketika merasa tidak sanggup.
Sebab hadiah lomba mungkin habis dibagikan sore itu. Pergelangan kaki masih harus dipakai naik tangga, mengantar anak, pergi ke pasar, atau berangkat kerja pada pagi berikutnya.
