
Reporter
Nani MashitaRabu, 10 April 2019 - 04:56
Editor
David Priyasidharta
Bendera Israel. Pixabay.com
JATIMNET.COM, Surabaya - PM Israel Benjamin Netanyahu mengklaim kemenangan pasca pemungutan suara. Hasil perhitungan awal mengindikasikan dia akan menduduki jabatan itu untuk kelima kalinya.
Dilansir dari reuters.com Rabu 10 April 2019, hasil parsial dengan 95 persen suara dihitung menunjukkan partai Likud pendukung Netanyahu bersaing ketat dengan Blue and White yang mendukung Benny Gantz.
Kedua partai masing-masing mendapat 35 kursi parlemen, mengutip situs web Knesset dan Israel Channel 12. Partai yang menguasai parlemen, Knesset yang memiliki 120 kursi, berhak membentuk pemerintahan.
BACA JUGA: Aksi Perempuan Palestina Menuntut Israel
Walaupun demikian, banyak prediksi Netanyahu dalam posisi yang kuat untuk membentuk pemerintahan koalisi dengan faksi sayap kanan, kunci untuk kemenangan akhir.
"Ini adalah malam kemenangan kolosal," kata Netanyahu yang berusia 69 tahun mengatakan kepada pendukung yang bersorak dalam pidato larut malam di markas Likud.
Dia menekankan pendukungnya untuk menanti hasil resmi. Kembang api menyala di belakangnya ketika istrinya, Sara bertepuk tangan dan menciumnya. Jika dia menang, Netanyahu akan menjadi perdana menteri yang terlama dalam sejarah 71 tahun Israel. Netanyahu mengatakan dia sudah memulai pembicaraan dengan calon sekutu koalisi.
BACA JUGA: Delapan Negara Ini Juga Menggelar Pemilu April
Netanyahu, yang berkuasa berturut-turut sejak 2009, telah berjuang untuk kelangsungan politiknya. Netanyahu kemungkinan didakwa dengan tiga kasus korupsi. Netanyahu menyatakan tidak bersalah di tiga kasus tersebut.
Rivalnya, Benny Gantz sebelumnya juga mengklaim kemenangan, mengutip jajak pendapat awal yang menunjukkan bahwa partainya telah memenangkan lebih banyak kursi daripada Likud. "Kami adalah pemenangnya," kata Gantz, seorang mantan kepala militer yang bertarung dalam pemilihan pertamanya.
"Kami ingin berterima kasih kepada Benjamin Netanyahu untuk layanannya kepada bangsa," ujar pria 59 tahun itu.
BACA JUGA: Indonesia Kecam Kekerasan Israel di Palestina
Analis politik memperingatkan itu terlalu dini untuk memastikan hasilnya. Ofer Zalzberg, analis senior dari International Crisis Group, mengatakan Likud dan Blue and White harus memperhatikan keberadaan partai-partai kecil untuk dukungan koalisi.
"Netanyahu lebih mungkin untuk membentuk pemerintahan sayap kanan baru, tetapi kita harus menunggu dan melihat," katanya.
Kedua kandidat ini sama-sama tidak mengedepankan isu perdamaian dengan Palestina. Gantz berjanji untuk menegakkan perdamaian, tapi tidak mengucap komitmen mendirikan negara Palestina. Adapun Netanyahu malah semakin keras dengan janji kampanye akan mencaplok pemukiman Yahudi di Tepi Barat jika terpilih kembali.