Logo

Musim Kemarau Uji Tembakau Ekspor, PTPN I Perkuat Pengelolaan Air

Reporter:,Editor:

Minggu, 07 June 2026 00:00 UTC

Musim Kemarau Uji Tembakau Ekspor, PTPN I Perkuat Pengelolaan Air

Satu dari tujuh unit mesin pompa air bantuan dari PTPN I Regional 5 yang dibagikan untuk menghadapi potensi kekeringan saat musim kemarau bagi petani di wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Foto: PTPN I Regional 5.

JATIMNET.COM, Surabaya – Musim kemarau yang mulai berlangsung menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan tembakau ekspor di Indonesia.

Ketersediaan air yang terbatas serta cuaca yang semakin sulit diprediksi berpotensi memengaruhi produktivitas hingga kualitas daun tembakau yang menjadi syarat utama pasar internasional.

Tantangan tersebut kini dihadapi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 5 yang tengah memperluas pengembangan tembakau di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Pada musim tanam 2026, perusahaan menggandakan luas areal tanam dari 25 hektare menjadi 50 hektare untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Region Head PTPN I Regional 5, Subagiyo, mengakui perubahan cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi dalam budidaya tembakau. Sebab, kualitas daun tembakau sangat dipengaruhi kondisi lingkungan selama masa pertumbuhan tanaman.

Menurutnya, musim kemarau yang berkepanjangan dapat menyebabkan pasokan air berkurang sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.

Kondisi tersebut berisiko menurunkan produktivitas sekaligus memengaruhi mutu daun yang nantinya digunakan sebagai bahan baku cerutu premium.

"Keberhasilan budidaya tembakau sangat ditentukan oleh pengelolaan yang tepat. Karena itu kami terus melakukan berbagai upaya agar produktivitas dan kualitas hasil tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan cuaca yang tidak menentu," kata Subagiyo, Sabtu, 6 Juni 2026.

Untuk mengurangi dampak musim kemarau, perusahaan menerapkan sejumlah strategi budidaya. Mulai dari pengaturan naungan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan berimbang, hingga optimalisasi pengelolaan air di areal perkebunan.

Langkah tersebut dinilai penting karena komoditas yang dikembangkan merupakan tembakau Besuki Na-Oogst yang ditanam di bawah naungan (TBN).

Tembakau jenis ini dikenal sebagai bahan baku cerutu premium yang memiliki permintaan tinggi di pasar internasional, terutama Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa.

Selain memperkuat sistem budidaya, PTPN I Regional 5 juga berupaya meningkatkan ketahanan sektor pertanian terhadap musim kemarau melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

Perusahaan menyalurkan bantuan senilai Rp99,9 juta berupa 38 titik sumur bor dan tujuh unit mesin pompa air.

Bantuan tersebut disalurkan ke tujuh desa, yakni Towangsan, Sukorejo, Jetis, Pluneng, Nglinggi, Manjung, dan Karanglo yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan pasokan air, terutama saat musim kemarau.

Kepala Bagian Sekretariat dan Umum PTPN I Regional 5, Reggy Irawan Setiyobudi, mengatakan dukungan infrastruktur air tersebut diharapkan dapat membantu petani menjaga produktivitas lahan meski berada di tengah ancaman kekeringan.

"Kami berharap bantuan 38 titik sumur bor dan tujuh unit mesin pompa air ini dapat meningkatkan ketersediaan air bagi pertanian sehingga petani dapat meningkatkan intensitas tanam hingga dua kali dalam setahun," ujarnya.

Di tengah tantangan cuaca yang semakin dinamis, perusahaan tetap optimistis target produktivitas tembakau sebesar 1.700 kilogram per hektare dapat tercapai.

Melalui penguatan pengelolaan air dan penerapan budidaya yang adaptif, perluasan lahan tembakau diharapkan mampu menjaga pasokan komoditas ekspor sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.