Rabu, 28 October 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Pemuda dan gagasan persatuan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Mohammad Yamin merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan pemuda Indonesia. Namanya berkaitan erat dengan Kongres Pemuda Kedua pada 27–28 Oktober 1928, peristiwa yang kemudian dikenang melalui ikrar Sumpah Pemuda.
Dalam sejarah Indonesia, Yamin dikenal sebagai sastrawan, pemikir kebangsaan, politikus, dan tokoh yang aktif dalam perdebatan mengenai identitas nasional. Perhatiannya terhadap bahasa, sejarah, dan kebudayaan menjadi bagian penting dari perjalanan intelektualnya.
Namun, gagasan persatuan Indonesia tidak lahir dari pemikiran satu orang. Kesadaran kebangsaan berkembang melalui pertemuan berbagai organisasi, pengalaman pendidikan, kegiatan pers, dan diskusi antarpemuda pada masa kolonial.
Memahami peran Mohammad Yamin berarti menempatkannya dalam proses kolektif tersebut. Ia merupakan salah satu penyumbang gagasan, bukan satu-satunya tokoh yang membentuk arah gerakan pemuda.
Dari Sumatera Barat Menuju Pergerakan Nasional
Mohammad Yamin lahir pada 23 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia tumbuh pada masa ketika pendidikan modern mulai melahirkan kelompok terpelajar pribumi yang semakin aktif mempertanyakan kehidupan di bawah pemerintahan kolonial.
Yamin menempuh pendidikan di sejumlah lembaga pada masa Hindia Belanda dan kemudian melanjutkan studi hukum di Batavia. Pendidikan tersebut mempertemukannya dengan pemikiran modern mengenai masyarakat, hukum, dan kebangsaan.
Ketertarikannya terhadap sastra juga berkembang sejak muda. Melalui puisi dan tulisan, ia mengeksplorasi hubungan antara tanah kelahiran, bahasa, dan identitas yang lebih luas.
Salah satu karyanya yang dikenal adalah kumpulan puisi Indonesia, Tumpah Darahku, yang terbit pada 1928. Karya tersebut menjadi bagian dari perkembangan sastra Indonesia pada masa pergerakan nasional.
Perjalanan intelektual Yamin menunjukkan perubahan penting dalam cara sebagian pemuda terpelajar memandang identitasnya. Kesetiaan terhadap daerah asal tidak harus menghalangi tumbuhnya kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Peran Mohammad Yamin dalam Kongres Pemuda
Kongres Pemuda Kedua berlangsung di Batavia pada 27–28 Oktober 1928. Pertemuan tersebut melibatkan berbagai organisasi pemuda yang memiliki latar belakang kedaerahan dan kebudayaan berbeda.
Kongres dilaksanakan melalui tiga rapat di tempat berbeda. Rapat pertama berlangsung di gedung Katholieke Jongenlingen Bond, rapat kedua di Oost-Java Bioscoop, dan rapat ketiga di Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat 106.
Soegondo Djojopoespito memimpin kongres sebagai ketua, sedangkan Mohammad Yamin bertugas sebagai sekretaris.
Dalam kongres tersebut, Yamin juga menyampaikan pandangan mengenai persatuan dan kebangsaan. Ia menempatkan bahasa, sejarah, dan kebudayaan sebagai unsur yang dapat memperkuat kesadaran bersama.
Gagasan mengenai bahasa persatuan memiliki arti penting karena para peserta berasal dari lingkungan yang menggunakan bahasa daerah berbeda.
Bahasa Melayu, yang kemudian ditegaskan sebagai bahasa Indonesia, telah digunakan secara luas sebagai bahasa perhubungan. Perkembangan pers, pendidikan, dan organisasi turut memperluas penggunaannya dalam komunikasi antarkelompok.
Peristiwa Kongres Pemuda Kedua memperlihatkan bagaimana bahasa dapat menjadi sarana membangun identitas nasional tanpa harus menghapus keberadaan bahasa daerah.
Lima Faktor yang Memperkuat Persatuan
Dalam rapat pertama Kongres Pemuda Kedua, Mohammad Yamin mengemukakan lima faktor yang dapat memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Kelima faktor tersebut memperlihatkan bahwa persatuan tidak cukup dibangun melalui keinginan politik. Persatuan juga membutuhkan pengalaman bersama, komunikasi, dan kesadaran untuk mengatasi batas-batas kedaerahan.
Sejarah memberi masyarakat pemahaman mengenai pengalaman yang saling berhubungan. Bahasa memungkinkan komunikasi antarkelompok, sedangkan pendidikan membantu memperluas pengetahuan tentang kehidupan bersama.
Hukum adat menunjukkan kekayaan tradisi yang perlu dipahami dalam membangun hubungan antarmasyarakat. Sementara kemauan mencerminkan kesadaran bahwa persatuan membutuhkan pilihan dan tindakan nyata.
Pemikiran tersebut muncul ketika organisasi pemuda masih banyak menggunakan identitas daerah. Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, dan sejumlah perkumpulan lainnya menjadi bagian dari perkembangan gerakan kebangsaan.
Perubahan dari kesadaran kedaerahan menuju identitas Indonesia berlangsung melalui perdebatan dan kerja sama. Karena itu, Kongres Pemuda Kedua merupakan hasil proses panjang, bukan peristiwa yang muncul secara tiba-tiba.
Perdebatan tentang Nama Bahasa Indonesia
Salah satu bagian menarik dari sejarah persatuan adalah perdebatan mengenai penamaan bahasa nasional.
Dalam Kongres Pemuda Pertama pada 1926, Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Gagasan tersebut mendapat tanggapan dari Mohammad Tabrani yang menghendaki penggunaan nama bahasa Indonesia.
Tabrani berpandangan bahwa bangsa yang sedang dibayangkan sebagai Indonesia seharusnya memiliki bahasa persatuan dengan nama Indonesia pula.
Perdebatan tersebut tidak langsung menghasilkan kesepakatan. Namun, dua tahun kemudian, rumusan Kongres Pemuda Kedua menggunakan istilah bahasa Indonesia.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa gagasan kebangsaan berkembang melalui pertukaran pemikiran. Yamin memiliki kontribusi penting, tetapi keputusan mengenai bahasa persatuan juga dipengaruhi pandangan tokoh lain.
Dalam sejarah, perbedaan pendapat semacam itu justru membantu memperjelas tujuan bersama. Para pemuda tidak selalu sepakat mengenai setiap persoalan, tetapi mereka dapat menemukan rumusan yang diterima secara kolektif.
Tiga Rumusan yang Menjadi Tonggak Sejarah
Pada 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda Kedua menghasilkan putusan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Putusan tersebut memuat tiga pokok kesepakatan, yakni pengakuan terhadap satu tanah air Indonesia, satu bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Rumusan itu disusun oleh Mohammad Yamin dan dibacakan oleh Ketua Kongres, Soegondo Djojopoespito, pada penutupan pertemuan.
Perlu dibedakan bahwa dokumen hasil kongres pada masa itu dikenal sebagai Putusan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia. Sebutan Sumpah Pemuda kemudian menjadi nama yang melekat dalam ingatan sejarah nasional.
Pada kesempatan yang sama, lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman juga diperdengarkan melalui permainan biola.
Kehadiran lagu kebangsaan dan putusan kongres memperlihatkan bagaimana simbol, bahasa, dan kesadaran politik bertemu dalam satu momentum penting.
Dua tahun sebelumnya, Kongres Pemuda Pertama belum berhasil menyatukan seluruh pandangan mengenai bahasa persatuan. Pada 1928, kesepakatan yang lebih tegas akhirnya dapat dicapai.
Warisan Pemikiran Mohammad Yamin
Mohammad Yamin melanjutkan kiprahnya setelah Kongres Pemuda Kedua. Ia aktif dalam kegiatan politik, kesusastraan, dan pembahasan mengenai dasar serta penyelenggaraan negara.
Pada masa persiapan kemerdekaan, Yamin menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ia turut terlibat dalam perdebatan mengenai dasar negara dan rancangan konstitusi.
Setelah Indonesia merdeka, Yamin juga menduduki sejumlah jabatan pemerintahan. Ia meninggal dunia pada 17 Oktober 1962 di Jakarta dalam usia 59 tahun.
Perjalanan hidupnya memperlihatkan hubungan antara gagasan kebangsaan pada masa muda dan keterlibatan dalam pembangunan negara setelah kemerdekaan.
Namun, penilaian terhadap tokoh sejarah tetap memerlukan ketelitian. Kontribusi Yamin perlu dipahami bersama peran Soegondo Djojopoespito, Mohammad Tabrani, Wage Rudolf Supratman, dan para peserta kongres lainnya.
Persatuan Indonesia bukan karya tunggal seorang tokoh, melainkan hasil perjuangan banyak orang dengan latar belakang dan pandangan berbeda.
Pada peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, pemikiran Mohammad Yamin tetap relevan untuk direnungkan. Pendidikan, bahasa, sejarah, dan kemauan bekerja bersama masih menjadi unsur penting dalam menjaga kehidupan kebangsaan.
Warisan terbesar dari generasi pemuda 1928 bukan hanya tiga rumusan yang terus diucapkan dalam upacara. Mereka memperlihatkan bahwa identitas bersama dapat dibangun melalui dialog, keberanian melampaui kepentingan kelompok, dan kesediaan mencapai kesepakatan.
Mohammad Yamin menjadi bagian penting dari proses tersebut. Melalui sastra, pemikiran, dan aktivitas organisasinya, ia turut membantu memperkuat gagasan bahwa masyarakat dari berbagai daerah dapat memandang dirinya sebagai satu bangsa: Indonesia.
