JATIMNET.COM, Surabaya – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur menyatakan pertumbuhan hotel baru tahun ini diperkirakan melambat di kisaran 3-4 persen. Angka tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan hotel di Jatim tahun 2018 yang menyentuh 7 persen.

Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim Herry Siswanto menilai, perlambatan tersebut disebabkan makin terbatasnya lahan dan menjamurnya hotel-hotel berbintang dari berbagai kelas.

“Seperti di Surabaya, mulai dari ujung timur sampai barat sudah penuh dengan hotel,” ujar Herry, Minggu 10 Februari 2019.

BACA JUGA: Bisnis Hotel Tahun 2019 Kian Berat

Herry menjelaskan sekitar 10-12 hotel di Surabaya yang masuk sebagai anggota baru PHRI sepanjang tahun 2018, dengan didominasi hotel bintang tiga dan empat.

“Tahun ini saya perkirakan masih akan ada tambahan lagi (hotel baru). Tetapi jumlahnya tidak sebanyak tahun kemarin,” ungkapnya.

Melambatnya pertumbuhan hotel baru tahun ini disebabkan meningkatnya jumlah apartemen yang kian pesat. Kehadiran apartemen menjadi pilihan banyak orang atau badan hukum untuk membeli apartemen yang kemudian disewakan.

BACA JUGA: Mural Masuk Hotel

“Bisa dikatan bisnis hotel terselubung karena non badan hukum. Sekarang kondisinya seperti itu, apartemen sudah mulai menjamur,”sebutnya.

Meski demikian tahun 2019 ini Herry memprediksi pertumbuhan hotel baru didominasi non bintang. Hotel jenis itu masih terus tumbuh terutama di daerah wisata. Tumbuhnya hotel di wilayah resort terbilang cukup tinggi.

Sampai saat ini anggota PHRI di Jawa Timur kurang lebih memiliki 630-650 anggota. Jumlah tersebut mencerminkan jumlah hotel yang beroperasi di provinsi paling timur Pulau Jawa. Sementara Surabaya sudah memiliki 95 anggota PHRI. Jumlah tersebut dinilai sudah sangat cukup.