Memulihkan Ekonomi Petani Sigi Lewat Usaha Bawang Goreng

Muhammad Taufiq

Rabu, 22 Mei 2019 - 12:00

JATIMNET.COM, Sigi -  Gempa bermagnitudo 7,4 yang disusul tsunami dan likuefaksi pada 28 September 2018 silam tidak hanya menelan ribuan korban jiwa namun juga berdampak pada produksi pertanian di Kabupaten Sigi. 

Para petani di sana mulai kehilangan pekerjaan setelah bencana terjadi. Penyebabnya, ribuan hektare lahan sawah kering akibat irigasi pertanian rusak berat pasca-gempa bumi. 

Sejumlah petani di wilayah itu kini menjadi pekerja serabutan. Misalnya menjadi buruh bangunan. Sementara petani lainnya mencoba menanam palawija yang hanya mengandalkan air hujan.

Di tengah himpitan ekonomi penyintas bencana, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulawesi Tengah terus berikhtiar untuk membantu memulihkan ekonomi warga pascabencana alam melalui program pemberdayaan usaha bawang goreng. 

BACA JUGA: Sahur Bareng Pemulung di Emperan Toko Kota Bandar Lampung

Selasa siang 21 Mei 2019, empat puluh ibu rumah tangga yang tinggal di kompleks Hunian Nyaman Terpadu atau Integrated Community Shelter (ICS) di Desa Langaleso, Kabupaten Sigi memulai usaha mereka dengan memproduksi bawang goreng.

Menyasar ibu rumah tangga  di ICS, program pemberdayaan tersebut diharapkan membantu korban bencana alam untuk bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Hal ini disampaikan oleh Sisi Nursam Labaso selaku pendamping program pemberdayaan usaha bawang goreng di ICS Langaleso.

"Ibu rumah tangga yang terlibat sebanyak 40 orang, terbagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok memproduksi 40 kg bawang goreng," kata Sisi, Selasa siang 21 Mei 2019.

Bahan baku usaha bawang goreng  ini juga dibeli ACT Sulteng dari korban bencana alam di Kabupaten Sigi, seperti dari Desa Watunonju dan Desa Soulowe. Sisi mengatakan hasil produksi bawang goreng ini akan dipasarkan di semua daerah di Sulawesi Tengah bahkan luar Sulawesi Tengah. 

"Saat ini sudah ada sejumlah pengepul yang akan membeli bawang goreng tersebut. Bahkan para pengepul itu berasal dari Sumatera Utara, Bali, dan Jakarta. Bawang goreng hasil produksi penyintas bencana ini dijual seharga Rp 200.000 per kilogramnya," imbuhnya.

Salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di ICS Langaleso, Zufni (58), mengungkapkan apresiasinya terhadap ACT yang terus membersamai warga kabupaten sigi pascabencana alam. Menurutnya, pascabencana alam, ekonomi warga di Sigi khususnya di Desa Langleso cukup lesu, apalagi persawahan di wilayah itu tidak bisa berproduksi.

"Kami sangat senang diberikan pekerjaan seperti ini yang dapat membantu ekonomi keluarga kami. Kami berharap kepada ACT agar program seperti ini terus jalan hingga kami bisa mandiri," tutur Zufni.

Di program pemulihan ini, ACT Sulteng tidak hanya melakukan pemberdayaan kelompok usaha bawang goreng, namun juga pemberdayaan kelompok tani dan peternakan. Khusus pemberdayaan kelompok pertanian, saat ini ACT Sulteng membangun sumur yang tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Sigi. Sumur tersebut diharapkan dapat mengaliri persawahan warga.

Seperti diketahui sebelumnya, Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten penyangga produksi pertanian di Sulawesi Tengah. Bahkan, sejumlah kebutuhan pokok yang dijual di pasar tradisional di Kota Palu diperoleh dari Kabupaten Sigi. 

Baca Juga

loading...