Manfaat Ilmiah Berpuasa untuk Kesehatan Tubuh dan Mental

Dyah Ayu Pitaloka

Selasa, 14 Mei 2019 - 14:18

JATIMNET.COM, Surabaya - Metode puasa memiliki banyak varian, serta diteliti manfaatnya secara ilimiah, sejak era Yunani hingga saat ini.

Lebih dari 1.400 tahun lalu, Yunani kuno merekomendasikan puasa sebagai metode penyembuhan, dan saat ini sejumlah ilmuwan menyarankan puasa dengan modifikasi tertentu, untuk mendapatkan keuntungan mental dan fisik, dikutip dari Aljazeera, pada Selasa 14 Mei 2019.

Dikenal dengan puasa selang-seling, kegiatan ini mengharuskan untuk tidak makan selama 12,16, atau 24 jam sesekali. Metode lain, dikenal dengan 5:2, perbandingan dalam membatasi kalori yang masuk, dalam periode 36 jam, dua kali sepekan.

Buku "Eat Stop Eat", dari Brad Pilon yang diterbitkan pada 2007, menyarankan untuk berpuasa selama 24 jam, sekali atau dua kali, dalam sepekan, dengan membebaskan kapan individu memulai dan mengakhiri puasanya.

BACA JUGA: Mahathir Mohamad Ingatkan Umat Islam jangan Berlebihan Berbuka Puasa

Tahun 2012, Michael Mosley merilis TV dokumenter 'Eat, Fast and Live Longer," dan menerbitkan buku larisnya, "The Fast Diet", keduanya berdasar pada konsep puasa selang-seling 5:2.

"Dalam The Fast Diet saya menyarankan sejumlah bentuk puasa disebut "waktu larangan untuk makan,' kata Mosley.

"Ini melibatkan hanya makan pada jam-jam tertentu, serupa dengan bentuk puasa yang dipraktikkan oleh Muslim selama Ramadan,".

"Bukti keuntungannya termasuk memperbaiki tidur, dan mengurangi risiko terserang sejumlah kanker, khususnya, kanker payudara,".

BACA JUGA: Dinkes Jatim Siapkan 1.584 Faskes Saat Arus Mudik

Para ahli juga menemukan pembatasan makan di siang hari, mampu mencegah gangguan kesehatan, seperti kolesterol tinggi, penyakit jantung dan obesitas, serta memperbaiki kesehatan mental dan kebugaran.

Dengan tidak mengonsumsi makanan apapun, badan mampu berkonsentrasi untuk menghilangkan racun, selama sistem pencernaan beristirahat.

Ahli nutrisi Claire Mahy mengatakan, "Puasa memungkinkan usus untuk membersihkan dan memperkuat lapisannya. Ia juga mampu merangsang proses yang disebut autophagy, dimana sel membersihkan diri sendiri, menghilangkan kerusakan dan partikel berbahaya,".

Ilmuwan juga telah mempelajari kaitan antara diet, kesehatan usus dan kebugaran mental, dan seperti yang dijelaskan Mosley, puasa mampu menghadirkan kondisi BDNF (faktor neurotropik yang diturunkan dari otak).

BACA JUGA: Kopi Bisa Menyembuhkan Sakit Kepala atau Memperparah?

"Telah dibuktikan dalam melindungi sel di otak dan mampu mengurangi depresi serta keresahan, serta risiko perkembangan pikun," kata Mosley.

Banyak orang melakukan puasa juga mendapatkan manfaat, dalam bentuk menghilangkan lemak dan mendapatkan massa otot.

Namun, seperti halnya dalam diet atau perubahan gaya hidup, ada pula risiko berpuasa yang bisa jadi tidak tepat bagi semua orang.

Individual dengan kesehatan yang berkompromi, atau yang sedang dalam perawatan fisik, harus berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba berpuasa, sehingag bisa diawasi efek sampingnya.

BACA JUGA: Ini Manfaat Kurma untuk Kesehatan dan Vitalitas Pria

"Puasa bisa menyebabkan turunnya gula darah (BGL), yang menyebabkan berkurangnya konsentrasi dan meningkatkan kelelahan," kata nutrisionis berlisensi, Nazmin Islam.

Islam menambahkan, jika turunnya berat tubuh yang paripurna hanya bisa dilakukan dengan puasa secara regular. Sehingga, kehilangan berat badan saat Ramadan, bisa segera kembali, sekali individu tersebut kembali ke pola makan awal.

"Bagaimanapun, manfaatnya lebih besar daripada kontra. Dalam jangka panjang, puasa, jika dilakukan dengan benar, dapat memperbaiki sistem pencernaan dan metabolisme tubuh secara keseluruhan,".

Baca Juga

loading...