Sabtu, 25 April 2026 03:00 UTC

Ilustrasi buku. Pixabay
JATIMNET.COM – Peringatan Hari Buku Sedunia setiap 23 April menjadi momen untuk meninjau ulang kondisi literasi di Indonesia. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dominasi media sosial, makna membaca di kalangan generasi muda mengalami perubahan signifikan.
Aktivitas literasi kini tidak lagi terbatas pada membaca buku atau teks panjang. Generasi muda semakin terbiasa mengakses informasi dari berbagai platform digital, mulai dari media sosial hingga konten berbasis visual. Perubahan ini membuat literasi berkembang menjadi kemampuan memahami, memilah, dan mengolah informasi dari beragam sumber.
Guru Besar Departemen Sastra dan Bahasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., menilai kondisi literasi generasi muda tidak bisa disamaratakan. Ia menekankan bahwa latar belakang, kebutuhan, serta keterikatan terhadap dunia pendidikan sangat memengaruhi pola literasi seseorang.
“Generasi muda itu banyak sekali ragamnya. Perlu ada kategori-kategori. Generasi yang masih terikat dengan pendidikan dan keliterasian tentu masih perlu bertahan dalam situasi-situasi literatif, apalagi teknologi saat ini justru mendukung,” ujarnya, Sabtu, 25 April 2026.
BACA: Tanamkan Semangat Kartini, SD Almadany Gelar Edukasi di Ruang Publik
Menurutnya, perkembangan teknologi justru membuka ruang baru dalam praktik literasi. Media sosial, misalnya, menghadirkan berbagai bentuk informasi yang dapat diakses dengan cepat. Namun, tidak semua konten memiliki nilai literatif yang sama.
“Sebagian media sosial masih bertumpang tindih dengan kondisi-kondisi literate, tetapi banyak juga yang didominasi konten hiburan dan orientasi ekonomi,” tambahnya.
Aprinus menegaskan bahwa konsep membaca perlu dipahami secara lebih luas. Ia menyebut, membaca dalam konteks akademik berbeda dengan konsumsi informasi di media sosial. Perubahan ini diperkirakan akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi.
BACA: Revitalisasi 60 Ribu Sekolah Digenjot, Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Berkualitas
“Kita perlu mengklarifikasi apa yang dimaksud dengan membaca. Ke depan, dalam situasi yang disebut posthumanisme, pengertian literasi akan semakin berubah. Yang penting adalah bagaimana mengintegrasikan manusia, teknologi, dan lingkungan dalam praktik literasi,” jelasnya.
Dengan perubahan tersebut, Hari Buku Sedunia tidak lagi sekadar menjadi ajakan membaca buku, tetapi juga momentum untuk memahami literasi dalam konteks yang lebih luas dan relevan dengan perkembangan zaman.
