Mahasiswa Universitas Jember Kembangkan Bioplastik dari Singkong

David Priyasidharta

Kamis, 25 April 2019 - 09:25

JATIMNET.COM, Jember - Meida Cahyaning Putri, mahasiswi Program Studi Teknologi Hasil Pangan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember berhasil mengembangkan plastik pembungkus makanan berbahan dasar singkong alias bioplastik.

Bioplastik ini diyakini dapat menjadi solusi pengganti plastik yang kini telah menimbulkan masalah secara masif bagi lingkungan.

Ketekunan Meida meneliti bioplastik ini membawanya menjadi mahasiswa berprestasi tingkat Universitas Jember 2019, dan bakal mewakili Kampus Tegalboto ke jenjang nasional.

Yang menjadi latar belakang Meida melakukan penelitian ini adalah data penggunaan plastik di Indonesia yang mencapai 4,8 persen pada 2016. Dan ada kecenderungan meningkat sebesar 5 persen setiap tahunnya, padahal semua plastik tadi tergolong plastik yang tidak bisa terurai secara alami.

BACA JUGA: Balitbang Kemenhub Gandeng ITS Bikin Deteksi Angin dan Hujan

Sehingga dapat menjadi bom waktu lingkungan. Sementara, Indonesia adalah produsen singkong ketiga terbesar di dunia, yang pati-nya menjadi bahan dasar pembuat bioplastik yang aman dan ramah lingkungan.

Meida menamakan bioplastiknya dengan dengan SMATIC, Smart Edible Plastic. Ia mengatakan bioplastik sebenarnya sudah dikembangkan di Indonesia.

“Bedanya, SMATIC menggunakan campuran pati singkong dan tepung kulit singkong. Saya juga menambahkan mikroemulsi dalam ukuran nano partikel ke dalam bioplastik yang kami kembangkan," kata Meida didampingi dosen pembimbingnya, Triana Lindriati di laboratorium Rekayasa Produk Hasil Pertanian.

Ia mengatakan mikroemulsi ini bisa dari ekstrak teh, bunga rosella dan bahan alami lainnya. Mikroemulsi berfungsi menjadi antioksidan sehingga bioplastik produksinya mampu mencegah makanan jadi basi atau tengik. Penambahan tepung kulit singkong dan mikroemulsi juga memperkuat daya tarik bioplastik sehingga tidak mudah rusak akibat terkena air.

BACA JUGA: Minuman Kopi Cokelat Ini Bisa untuk Masker Wajah

"Dari pengukuran yang kami lakukan SMATIC memiliki daya tarik 5 megapascal, sementara untuk plastik konvensional daya tariknya mencapai 17 megapascal,” jelas mahasiswi angkatan 2016 ini.

Meida memang sengaja membuat SMATIC yang fungsinya untuk membungkus makanan, khususnya kue basah seperti jenang, dodol atau kue suwar suwir yang khas Jember.

Dengan SMATIC, maka kue seperti suwar suwir tidak mudah basi atau tengik, sementara penambahan mikroemulsi menjadi nilai lebih karena mengandung antioksidan.

“Kue yang dibungkus dengan SMATIC maka bisa dimakan dengan plastik pembungkusnya sekaligus lho karena aman, malah mengandung antioksidan dari teh atau bunga Rosella atau dari bahan alami lainnya. Ini adalah keunggulan SMATIC. Sementara, jika mau dibuang pun akan terurai di alam dengan sendirinya." katanya dalam siaran pers yang diterima Jatimnet.com, Kamis 25 April 2019.

BACA JUGA: Dosen Unej Bikin Detektor Angin Puting Beliung dan Longsor

Proses pembuatan SMATIC tidak memerlukan teknologi tinggi. Meida mencampurkan 4 gram pati singkong dengan 6 gram tepung kulit singkong. Kemudian dicampur dengan bahan-bahan lainnya untuk kemudian dipanaskan.

Setelah menjadi bubur, disapukan dengan ketebalan sesuai kebutuhan ke wadah yang sudah disiapkan. Dengan komposisi bahan tersebut, Meida mendapatkan 30 lembar bioplastik ukuran 21 X 9 centimeter dengan harga 7.700 rupiah.

Harga ini memang masih lebih mahal jika dibandingkan dengan plastik konvensional yang dengan uang sebesar 8.000 rupiah saja mendapatkan plastik ukuran 25 X 12 centimeter sebanyak 40 lembar.

Namun tentu saja perlu diingat, bioplastik sudah pasti ramah lingkungan. “Teknologi pembuatan SMATIC yang mudah saya harapkan dapat membuka peluang usaha baru bagi UMKM di Jember,” kata Meida.

Baca Juga

loading...