Sabtu, 21 February 2026 01:00 UTC
Antarmuka Zed Editor. Foto: Reiza Judis.
JATIMNET.COM - Saya serius mempertanyakan pilihan editor harian sejak beberapa waktu terakhir. Alasannya, saya yang sudah nyaman di ekosistem VSCode semakin penasaran dengan hype seputar Zed. Apalagi yang saya tahu, Zed dikembangkan oleh mantan pengembang Atom dan ditulis dengan Rust yang terkenal cepat dan aman.
Berangkat dari rasa penasaran, akhirnya saya memahami bahwa Zed memang dirancang sebagai editor modern dengan fokus pada performa dan kolaborasi. Sebagai mantan pengguna Atom, maka saya berpiikir: “Sepertinya ini editor yang gaya kerjanya paling cocok dengan saya,”
Awalnya, saya melihat VSCode sebagai editor yang sempurna: ekosistem ekstensi yang luar biasa, linting dan debugging yang kuat, Git terintegrasi (walaupun saya tak pernah memakai fitur ini), dan dukungan lintas platform yang rapi.
Banyak teman-teman sesame programmer juga menggunakan VSCode. Jadi, wajar kalau editor ini terasa seperti standar industri.
Tapi di balik kenyamanan itu, saya mulai gelisah dengan dua hal. Yang pertama, mengapa semakin lama semakin terasa berat, semakin banyak ekstensi yang terpasang akan terasa sangat berat dan mengganggu efektifitas pekerjaan.
Yang kedua, adalah semakin sering saya membaca kabar soal ekstensi berbahaya atau mengandung malware yang lolos ke marketplace. Kekhawatiran bahwa satu ekstensi “nakal” bisa mengintip kode atau environment saya. Bahkan, bisa memuat sesuatu yang lebih berbahaya membuat saya lebih berhati‑hati lagi dan lelah harus terus menyaring mana ekstensi yang benar‑benar aman.
Ketertarikan saya pada Zed, sebenarnya sudah muncul sejak peluncuran pertamanya. Tapi, ada satu penghalang besar, Zed hanya diluncurkan untuk Mac OS.
Sedangkan saya menggunakan Linux sebagai daily driver. Saya sengaja menahan diri, menunggu sampai Zed benar‑benar tersedia dan nyaman dipakai di Linux.
Selama fase itu, saya hanya memantau perkembangan dan membaca pengalaman orang lain, sambil tetap bekerja di VS Code. Zed akhirnya rilis untuk Linux pada Oktober 2024 dan siap dipakai di Linux. Saya langsung menginstalnya, tapi waktu itu saya tidak langsung memakainya karena kendala workload yang lumayan padat.
Hingga setahun Zed terinstall di laptop dan tak pernah terpakai. Hingga pada September 2025, saya membukanya lagi, meng-updatenya dan pelan‑pelan saya mulai memindahkan workflow harian saya ke Zed.
Salah satu hal pertama yang langsung terasa adalah kecepatan. Dengan project yang sama, Zed terasa jauh lebih ringan saat membuka folder besar, berpindah file, dan melakukan pencarian.
Di VSCode, saya sudah terbiasa menunggu sejenak saat workspace besar terbuka atau ketika banyak ekstensi aktif. Tapi di Zed, pengalaman itu jauh berkurang. Editor ini terasa seperti “langsung siap kerja” begitu terbuka, dan itu membuat saya bisa fokus ke menulis kode, bukan menunggu editor bernapas.
Fitur‑fitur bawaan Zed sangat relevan dengan kebutuhan pekerjaan yang saya jalani. Saya sering bekerja dengan source code yang berada di server, jadi kemampuan remote development yang terasa natural di Zed adalah nilai plus besar.
Saya bisa mengakses dan mengedit project di server seolah‑olah itu project lokal, tanpa harus melalui banyak konfigurasi tambahan. Linting dan dukungan LSP juga berjalan rapi, jadi saya tidak perlu lagi mengurusi terlalu banyak ekstensi hanya untuk mendapatkan pengalaman auto‑completion dan diagnosa error yang layak.
Selain itu, Zed menawarkan fitur kolaborasi yang terasa modern. Saya bisa membayangkan pair‑programming, review, atau mentoring berjalan lebih mulus dengan kemampuan editing real‑time, share screen, dan komunikasi yang terintegrasi langsung di editor.
Buru-buru saya mengabarkan kepada rekan-rekan saya di tempat kerja untuk mencoba menginstall Zed dan mencoba fitur kolaborasi itu. Terasa sangat luar biasa! Kami bisa memindahkan rapat yang biasanya menggunakan Google Meet ataupun Zoom ke Zed.
Karena kami terbiasa untuk sharing source code, di Zed terasa sangat natural tanpa kita perlu memilih mana yang harus kita share seperti di Google Meet atau platform lain. Kita bisa follow kursor teman kita yang melakukan presentasi yang tidak terhalang oleh resolusi gambar yang terkompresi seperti sharing screen sebelumnya.
Ditambah lagi, integrasi AI agent (saya menggunakan github copilot) yang sudah menjadi bagian dari pengalaman Zed membuat saya bisa meminta bantuan kode (dengan konfigurasi yang mudah), penjelasan, atau refactoring tanpa harus mengandalkan ekstensi terpisah yang kadang konfigurasi dan kualitasnya tidak konsisten.
Pada akhirnya, alasan saya benar‑benar menyukai Zed sebagai daily editor cukup sederhana. Zed terasa lebih ringan dan cepat, fitur‑fitur penting seperti remote development, linting, kolaborasi, dan AI sudah siap pakai tanpa ritual konfigurasi panjang.
Semuanya berjalan sangat nyaman di lingkungan Linux yang saya gunakan setiap hari. Untuk pekerjaan yang banyak melibatkan remote development dengan source code di server, Zed memberi saya kombinasi performa dan kenyamanan yang selama ini saya rasa kurang di VS Code. Seperti namanya, buka aplikasinya Zeeeeed dan kita langsung siap untuk bekerja.
