Logo

Data Programmer dan Tantangan Pekerjaan di Indonesia

Reporter:,Editor:

Selasa, 17 February 2026 02:00 UTC

Data Programmer dan Tantangan Pekerjaan di Indonesia

Rating bahasa pemrograman utama yang digunakan responden Indonesia dalam survei yang dijalankan JetBrains, perusahaan teknologi asal Ceko. Foto: Ilustrasi by Canva


JATIMNET.COM – Ekosistem teknologi di dunia berkembang pesat seiring melonjaknya pemanfaatan Artificial Intelligence atau akal imitasi (AI) secara masif selama beberapa waktu terakhir. 

Fenomena ini juga memengaruhi perkembangan teknologi di Indonesia. AI telah mengubah gaya hidup, cara berpikir dan lapangan pekerjaan. 

Lantas bagaimana AI memengaruhi pekerjaan para programmer? Apakah mereka akan tergantikan dalam waktu dekat? Yuk, sama-sama kita simak data-datanya mulai dari bahasa pemrograman apa saja yang populer hingga pekerjaan apa saja yang menjadi tren saat ini.

JetBrains, perusahaan teknologi asal Ceko merilis, tidak sedikit para programmer yang akhirnya menggunakan IDE yang mereka buat, seperti Intellij IDEA, PyCharm, WebStorm dan yang lainnya. 

Dalam survei, perusahaan teknologi yang telah menggeluti bidang layanan atau produk penunjang pengembangan software lebih dari 25 tahun ini melibatkan koresponden dari Indonesia. Hasilnya diketahui bahwa profesi pengembang perangkat lunak sudah mencakup berbagai sektor bisnis, mulai dari B2B, B2C, hingga startup teknologi.  

Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa jalan karier sebagai programmer di Indonesia bukan hanya tren sesaat. Namun, menjadi salah satu tulang punggung ekonomi digital dalam jangka panjang.

Jika melihat bahasa pemrograman utama yang digunakan responden Indonesia, Python muncul sebagai bahasa yang paling banyak dipakai, yaitu sekitar 17,3% dari total responden. Di belakangnya, Java (13,6%), Kotlin (12,3%), Go (11,1%), dan JavaScript (9,3%) mengisi posisi penting dalam ekosistem teknologi lokal. 

Bahasa pemrograman web yang mempunyai histori sangat panjang seperti PHP masih menyumbang sekitar 8,6%. Sementara, TypeScript, C#, dan Rust menunjukkan adopsi yang makin meluas meski dengan porsi yang lebih kecil. 

Komposisi ini menggambarkan bahwa pasar Indonesia tidak hanya terpaku pada satu paradigma. Namun, memadukan bahasa yang kuat di backend enterprise (Java, C#), pengembangan modern untuk Android (Kotlin), pengolahan data dan AI (Python), hingga layanan backend dan microservice (Go).

Bahasa Pemrograman Populer. Foto: Dana

Dari sisi fresh graduate perguruan tinggi S-1, survei ini memberikan gambaran menarik tentang mereka. Jika kita definisikan, fresh graduate sebagai responden sekitar berusia 21–24 tahun yang sudah bekerja (full-time, part-time, atau freelancer) dan memiliki peran sebagai Developer / Programmer / Software Engineer, jumlahnya kurang lebih 22,4%. 

Lalu, apakah ini adalah sinyal yang baik untuk fresh graduate? Melihat persentase tersebut, talenta baru di Indonesia sudah mulai mengalir ke industri secara konsisten. Namun, proporsinya masih di bawah mayoritas programmer yang lebih senior. 

Tapi, tantangan untuk fresh graduate pada tahun-tahun mendatang tetap akan menjadi jalan yang terjal. Hal ini karena mereka perlu banyak beradaptasi dengan berbagai pemecahan masalah yang lebih kompleks karena AI yang akan terus berkembang. 

Keberadaan responden di rentang 18–20, meski kecil (4,9%) menunjukkan bahwa profesi programmer tetap terbuka untuk lulusan SMA sederajat.

Distribusi usia programmer Indonesia dalam survei ini cukup jelas, yakni mengerucut pada rentang usia produktif. Kelompok terbesar berada di usia 25–29 tahun dengan porsi sekitar 28,5% responden, disusul usia 21–24 tahun (22,4%) dan 30–34 tahun (20%). 

Setelah itu, proporsi mulai menurun di kelompok 35–39 tahun (13,9%), 40–49 tahun (9,1%), dan hanya sedikit yang berusia 50 tahun ke atas. Pola ini menggambarkan bahwa “puncak” usia produktif programmer dalam sampel ini berada kira kira di rentang 25–34 tahun.

Ketika pengalaman kerja sudah cukup matang, namun masih sangat adaptif terhadap teknologi baru. Tantangan bagi kelompok senior juga tidak kalah menantang karena mereka harus beradaptasi dengan AI dalam waktu yang sangat singkat.

Tapi, hal tersebut tidak akan sulit karena bekal dari pengalaman ditambahkan jika mereka mau menekan ego dan membuka mindset yang baru dengan perkembangan AI tersebut.

Rentang usia programmer. Foto: Dana

Dari sisi tempat kerja, programmer Indonesia dalam survei JetBrains ini banyak tersebar di perusahaan B2B (24,3%) dan B2C (22,2%). 

Selain itu, cukup banyak yang bekerja di perusahaan yang berstatus privately owned (12,6%), startup (12,1%), serta institusi pemerintah dan korporasi multinasional yang masing masing menyumbang sekitar 10,5%. 

Komposisi ini menunjukkan bahwa peluang karier programmer tidak hanya terkonsentrasi di startup, tetapi juga di perusahaan mapan dan lembaga formal pemerintahan.

Jenis perusahaan. Foto: Dana

Dari sisi jenis pekerjaan, tren yang muncul sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Peran Backend mendominasi dengan sekitar 24,5% responden, diikuti Full stack (16,2%) dan Frontend (15,8%). 

Selain itu, Mobile development menyumbang sekitar 11,8% dan Infrastructure / DevOps sekitar 9,8%. Sementara, bidang seperti AI and AI tools (6,8%) dan Data science and ML (3,5%) mulai menunjukkan pertumbuhan namun masih belum sebesar pengembangan aplikasi tradisional.

Jenis pengembangan. Foto: Dana

Kombinasi antara sebaran jenis perusahaan dan jenis pekerjaan ini memberikan gambaran bahwa tren utama di Indonesia masih berpusat pada pembangunan sistem backend dan aplikasi web end to end (full stack). 

Hal ini didukung kebutuhan mobile dan infrastruktur modern (DevOps). Di saat yang sama, munculnya porsi yang mulai naik pada kategori AI dan pengolahan data menunjukkan bahwa transformasi menuju ekonomi berbasis data dan kecerdasan buatan mulai terasa.

Jadi, sudah siapkah kalian para fresh graduate atau bahkan para programmer senior menghadapi tantangan adaptasi AI pada tahun-tahun mendatang? Kalau kalian penasaran dengan data survei nya, kalian bisa download data tersebut disini https://devecosystem-2025.jetbrains.com/