Liga Champions 2018-2019 Penuh Kejutan dan Perjuangan

Rochman Arief

Minggu, 2 Juni 2019 - 21:36

JATIMNET.COM, Surabaya – Liga Champions 2018-2019 penuh drama dan kejutan. Dua tim yang melaju ke final Liga Champions musim ini, Liverpool dan Tottenham Hotspur adalah salah satu contoh.

Kedua tim memiliki skema permainan yang berbeda dan sama-sama dinaungi Dewi Fortuna untuk bisa melaju ke partai puncak. Liverpool memiliki taktik gegen pressing dan permainan cepat, sedangkan Spurs, lebih banyak pada penguasaan bola.

Liverpool selain memiliki kualitas pada pelatihnya, Jurgen Klopp, materi antar lini lebih merata dibanding musim lalu. Utamanya lini tengah seiring masuknya Naby Keita dan Fabinho. Begitu juga dengan kehadiran penjaga gawang Alisson Becker, menutup celah di sektor kiper.

BACA JUGA: Liverpool Rebut Gelar Liga Champions Keenam

Disebut memberi kejutan lantaran peluang kedua tim untuk melaju ke final cukup berat. Liverpool misalnya, melaju ke final cukup tipis. Itu setelah mereka dibekuk Barcelona 0-3 di Camp Nou, 2 Mei 2019. Statistik dari Gracenote.com mencatat peluang Liverpool menuju final hanya empat persen.

Siapa sangka Divock Origi dan Giorginio Wijnaldum yang berangkat dari bangku cadangan, masing-masing mencetak dua gol pada leg kedua di Anfield. Hasilnya Liverpool menggilas Barcelona empat gol tanpa balas, dan berhak lolos ke final dengan agregat 4-3.

Begitu juga dengan Spurs. Mereka tertinggal 0-1 dari Ajax Amsterdam pada leg pertama di Tottenham Hotspur Stadium, 1 Mei 2019. Siap sangka Lucas Moura memborong tiga gol dalam tempo kurang dari sepuluh menit untuk berbalik unggul 3-2 di Johan Cruyff Arena, Amsterdam. Dengan hasil ini Spurs berhak lolos ke final berkat gol tandang.

SUPER SUB. Penyerang Liverpool Divock Origi menjadi andalan alternatif Liverpool sekaligus momok bagi lini pertahanan lawan.

BBC Sport mencatat  Liverpool dan Tottenham Hotspur adalah contoh. Sebelumnya Ajax telah dua kali menampilkan kejutan. Mereka menyingkirkan Real Madrid dan Juventus masing-masing di babak 16 besar dan perempat final.

Mereka tertinggal 1-2 di kandang sendiri, kemudian menyingkirkan Real Madrid di Santiago Bernabeu, 4-1. Juventus menderita hal serupa. Ajax ditahan di kandang, 1-1, kemudian menang 2-1 di Turin.

Padahal peluang Ajax, menurut Gracenote, untuk lolos ke perempat final maupun semifinal hanya empat persen. Namun mereka mampu membalikkan keadaan.

Catatan Gracenote.com lainnya menempatkan Manchester United sebagai tim yang memberi kejutan di Liga Champions musim ini. MU kalah 0-2 dari PSG, di Old Trafford, namun mereka berbalik menang 3-1 di Parc des Princes, dan berhak lolos berkat aturan gol tandang. Padahal MU hanya memiliki persentase peluang lolos hanya lima persen. 

BACA JUGA: Klopp Ukir Namanya Sejajar Pelatih Top The Kop

Musim ini penggemar bola di Benua Biru akan mengingat Lionel Messi dan Robert Lewandowski sebagai pencetak gol terbanyak. Sementara untuk mengingat Origi, Moura, Dusan Tadic, dan Matthijs de Ligt cukup sulit. Padahal mereka adalah pahlawan bagi timmya.

Origi menyumbang dua dari empat gol untuk mengantar Liverpool mengalahkan Barcelona. Dia juga sukses mencetak satu dari dua gol kemenangan The Reds di babak final melawan Spurs di Wanda Metropolitano, Madrid, 2 Juni 2019.

LESU. Perjuangan Lucas Moura mengantar Spurs ke final Liga Champions akan selalu dikenang. Foto: Dailymail/reuters.

Tadic (30) bergabung dengan Ajax Juni tahun lalu dari Southampton dengan harga 10 juta poundsterling (Rp 180 miliar). Sebuah bayaran besar untuk standar sepak bola Belanda, tetapi kelas kacang untuk klub elit Eropa.

Tadic mampu mencetak sembilan gol di Liga Champions bersama Ajax. Padahal musim 2017-2018 penyerang Serbia itu hanya mencetak tujuh gol bersama Southampton di Liga Inggris.

Dengan tidak mengesampingkan perjuangan Liverpool dan Spurs, kedua tim telah memunjukkan sebuah perjuangan, determinasi, kegigihan, dan kemauan untuk membalik ketertinggalan.

Baca Juga

loading...