Logo

Kuliner Pasar Selalu Memiliki Penggemar Setia

Setiap pasar menyimpan rasa yang lahir dari tradisi panjang dan diwariskan lintas generasi.
Reporter:,Editor:

Kamis, 30 July 2026 11:00 UTC

Kuliner Pasar Selalu Memiliki Penggemar Setia

no image available

JATIMNET.COM - Kuliner pasar tetap menjadi magnet yang membuat banyak orang datang ke pasar tradisional, bahkan ketika mereka tidak sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga.

 

Aroma rempah, jajanan tradisional, makanan siap santap, hingga minuman khas menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Tidak sedikit warga Surabaya sengaja meluangkan waktu pada pagi hari untuk menikmati sarapan di pasar sebelum memulai aktivitas.

 

Kekuatan pasar tradisional tidak hanya terlihat dari sisi perdagangan bahan pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia memiliki 17.443 pasar rakyat pada 2024, sementara Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah pasar rakyat terbanyak, mencapai 2.574 unit.

 

Besarnya jumlah tersebut ikut menjaga keberagaman kuliner lokal karena pasar menjadi titik temu antara produsen bahan pangan, pedagang makanan, dan konsumen.

 

 

Pasar Menjadi Rumah bagi Kuliner Tradisional

 

Banyak makanan tradisional bertahan karena terus dipasarkan di pasar rakyat. Lontong balap, rawon, pecel, bubur madura, kue basah, hingga aneka jajanan pasar masih mudah ditemukan sejak pagi.

 

Pedagang umumnya menggunakan bahan baku yang baru dibeli dari area pasar yang sama. Sayuran, bumbu, ikan, maupun daging diperoleh dalam kondisi segar sehingga kualitas rasa tetap terjaga.

 

Di Surabaya, Pasar Pabean dikenal bukan hanya sebagai pusat perdagangan hasil laut, tetapi juga menawarkan beragam makanan khas yang menjadi tujuan warga maupun wisatawan.

 

Aktivitas kuliner berlangsung berdampingan dengan perdagangan kebutuhan pokok sehingga menciptakan suasana yang khas.

 

Keunikan inilah yang membuat pasar tradisional menjadi bagian penting dalam perjalanan kuliner sebuah kota.

 

 

 

Kuliner Tradisional Turut Menggerakkan Ekonomi

 

Usaha makanan berskala kecil menjadi salah satu penggerak ekonomi di kawasan pasar. Banyak pedagang memulai usaha dari gerobak sederhana, kemudian berkembang berkat pelanggan tetap yang terus bertambah.

 

Peran sektor ini cukup besar bagi perekonomian nasional. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan UMKM berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Sebagian besar pelaku usaha kuliner tradisional masuk dalam kategori usaha mikro dan kecil.

 

Kuliner pasar juga menciptakan permintaan yang stabil terhadap hasil pertanian, peternakan, dan perikanan. Mata rantai tersebut membuat manfaat ekonomi tidak berhenti pada pedagang makanan saja, tetapi mengalir hingga ke daerah penghasil bahan baku.

 

Aktivitas sederhana seperti membeli sarapan di pasar ternyata ikut mendukung keberlangsungan banyak usaha lokal.

 

 

 

Rasa Autentik Menjadi Daya Tarik Utama

 

Masyarakat semakin mudah menemukan makanan melalui layanan pesan antar. Meski begitu, banyak orang tetap memilih datang langsung ke pasar karena rasa yang ditawarkan sering dianggap lebih autentik.

 

Resep yang digunakan umumnya diwariskan secara turun-temurun. Teknik memasak tradisional, penggunaan bumbu segar, hingga proses penyajian yang sederhana menghasilkan cita rasa yang sulit ditiru oleh makanan produksi massal.

 

Kuliner pasar juga menawarkan variasi yang terus berubah mengikuti musim dan ketersediaan bahan pangan. Kondisi ini membuat pengalaman berkunjung terasa berbeda setiap waktu.

 

Tidak sedikit wisatawan menjadikan pasar tradisional sebagai destinasi pertama untuk mengenal karakter kuliner sebuah daerah.

 

 

 

Pasar Menjadi Bagian dari Wisata Kuliner Kota

 

Banyak kota besar mulai mempromosikan pasar tradisional sebagai bagian dari wisata budaya dan kuliner. Pasar tidak hanya dipandang sebagai tempat transaksi, tetapi juga ruang yang memperlihatkan identitas lokal.

 

Di Surabaya, pasar seperti Pabean, Keputran, dan Wonokromo menyimpan cerita panjang tentang perdagangan serta perkembangan kuliner khas Jawa Timur. Pengunjung dapat melihat langsung proses jual beli bahan segar sekaligus menikmati makanan yang diolah dari bahan tersebut.

 

Perpaduan aktivitas ekonomi dan kekayaan kuliner menjadikan pasar memiliki daya tarik yang terus bertahan, bahkan ketika gaya hidup masyarakat berubah.

 

Generasi muda pun mulai kembali mengunjungi pasar karena ingin merasakan pengalaman yang lebih autentik dibanding sekadar menikmati makanan di pusat perbelanjaan modern.

 

Kuliner pasar membuktikan bahwa cita rasa tradisional tetap memiliki tempat di tengah perkembangan industri makanan yang semakin modern.

 

Pasar tradisional menghadirkan lebih dari sekadar pilihan menu. Tempat ini mempertemukan sejarah, budaya, pelaku UMKM, serta kekayaan bahan pangan lokal dalam satu ruang yang terus hidup bersama denyut aktivitas masyarakat Surabaya setiap hari.