Selasa, 25 August 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Makan Tak Perlu Meniru. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Isi piring harian kini mudah berpindah dari meja makan ke layar ponsel. Format What I Eat in a Day membuat menu seseorang selama sehari terlihat ringkas, menarik, dan gampang ditiru.
Di Surabaya, konten semacam ini terasa dekat dengan keseharian urban. Sarapan praktis sebelum berangkat kerja, kopi di sela aktivitas, makan siang dari warung atau kafe, lalu makan malam setelah perjalanan pulang. Ketika semuanya dikemas dalam video pendek, pola makan seseorang bisa terlihat seperti resep hidup sehat yang sudah jadi.
Padahal, What I Eat in a Day pada dasarnya memperlihatkan pengalaman makan individu. Kebutuhan energi dan zat gizi setiap orang dipengaruhi usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, hingga tujuan kebugarannya.
Satu Video Bisa Terlihat Lebih Meyakinkan dari Semestinya
Daya tarik konten makanan di media sosial memang mudah dipahami. Kita melihat menu secara langsung, mengetahui porsinya, bahkan mengikuti proses memasaknya dalam hitungan detik. Format visual membuat informasi terasa lebih konkret dibanding membaca penjelasan panjang soal gizi.
Jangkauannya pun besar. Data Digital 2025 dari DataReportal mencatat sekitar 212 juta orang Indonesia menggunakan internet pada awal 2025, dengan penetrasi sekitar 74,6 persen dari populasi. Pada periode yang sama terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial, setara 50,2 persen populasi Indonesia.
Di tengah lalu lintas digital sebesar itu, konten makan tidak lagi berhenti sebagai catatan pribadi. Menu kreator dapat berubah menjadi inspirasi sarapan, daftar belanja, sampai acuan untuk mengurangi nasi atau menambah protein.
Masalah mulai muncul ketika konteks ikut hilang. Penonton mengetahui apa yang berada di piring, tetapi belum tentu mengetahui kebutuhan energi kreatornya, aktivitas hari itu, riwayat kesehatannya, atau makanan lain yang tidak masuk rekaman.
Ada pula urusan sederhana yang kerap terlupakan: video adalah hasil kurasi. Apa yang terlihat selama 45 detik belum tentu merupakan gambaran utuh kebiasaan makan seseorang sepanjang minggu.
Tubuh Tidak Bekerja Mengikuti Menu Viral
Dua orang dengan menu serupa belum tentu membutuhkan porsi yang sama. Orang yang banyak duduk di depan komputer mempunyai pola aktivitas berbeda dari pekerja lapangan. Pelari yang sedang mempersiapkan lomba juga berbeda kebutuhannya dengan seseorang yang baru mulai olahraga dua kali seminggu.
Itulah alasan pola makan sehat lebih masuk akal dibaca melalui prinsip dasar, alih-alih menyalin menu individu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang berusia di atas 10 tahun mengonsumsi setidaknya 400 gram buah dan sayuran per hari. WHO juga menyarankan sedikitnya 25 gram serat pangan alami per hari untuk kelompok usia tersebut.
Untuk gula bebas, WHO menetapkan batas kurang dari 10 persen total asupan energi harian. Pada pola makan sekitar 2.000 kilokalori, jumlah tersebut kira-kira setara 50 gram atau sekitar 12 sendok teh gula. Asupan garam juga disarankan kurang dari 5 gram per hari, setara kurang dari 2 gram natrium.
Pedoman itu memberi gambaran yang jauh lebih berguna daripada pertanyaan apakah sarapan harus berupa overnight oats, telur, smoothie, atau nasi.
Bahan lokal yang sangat biasa pun tetap dapat masuk ke pola makan seimbang. Pepaya, pisang, bayam, kangkung, tempe, tahu, telur dan ikan tidak kalah hanya karena penampilannya kurang fotogenik di media sosial.
Piring Sehat Tidak Harus Terlihat Seperti Piring Influencer
Indonesia sebenarnya memiliki rujukan yang lebih dekat dengan kebiasaan makan masyarakat melalui panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan RI.
Dalam satu kali makan, sekitar 50 persen piring dianjurkan berisi sayur dan buah, sedangkan separuh lainnya terdiri atas makanan pokok dan lauk-pauk. Komposisinya memberi ruang luas terhadap variasi makanan Nusantara.
Ini relevan untuk kehidupan sehari-hari di Surabaya. Makan sehat tidak mensyaratkan seseorang mengganti seluruh isi dapur dengan bahan yang sedang populer di internet.
Sepiring nasi dengan ikan, sayur bening dan buah dapat memiliki tempat dalam pola makan seimbang. Begitu pula pecel dengan komposisi yang disesuaikan, gado-gado, sup, tumisan sayur, tahu, tempe, atau lauk rumahan lainnya.
Yang lebih penting justru pola keseluruhan. WHO menempatkan kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman sebagai empat prinsip utama pola makan sehat. Jadi, satu jenis makanan jarang dapat menjelaskan kualitas pola makan seseorang secara utuh.
Ini juga membuat label seperti clean, guilt-free, atau cheat meal perlu dibaca hati-hati. Makanan tidak otomatis menjadi buruk hanya karena mengandung gula atau lemak. Yang perlu diperhatikan adalah jumlah, frekuensi, komposisi keseluruhan, serta kebutuhan orang yang mengonsumsinya.
Ambil Idenya, Jangan Salin Seluruh Harinya
Konten What I Eat in a Day tetap punya sisi berguna. Orang bisa menemukan cara mengolah sayur yang sebelumnya terasa membosankan, inspirasi bekal, kombinasi lauk, atau ide sarapan ketika pagi terlalu sibuk. Cara mengonsumsinya yang perlu sedikit diubah.
Alih-alih berpikir, “besok saya harus makan persis seperti ini,” penonton bisa mengambil satu bagian yang realistis. Misalnya menambahkan buah saat sarapan, membawa air minum sendiri, atau mencoba memasukkan sayuran lebih banyak saat makan siang.
Kredibilitas pembuat konten juga patut diperhatikan ketika video mulai memberikan klaim kesehatan. Pengalaman pribadi berbeda dari rekomendasi berbasis ilmu gizi. Gelar, kompetensi, sumber informasi, serta ada atau tidaknya promosi produk menjadi konteks penting.
Lebih waspada lagi ketika sebuah konten menjanjikan perubahan berat badan cepat, menghilangkan kelompok makanan tanpa alasan medis, atau menetapkan angka kalori yang harus diikuti semua orang.
Kalori memang dapat menjadi salah satu informasi dalam pengaturan makan. Namun kebutuhan energi tidak identik pada setiap individu. Menjadikan angka milik kreator sebagai target pribadi justru mengabaikan perbedaan tubuh dan aktivitas.
Feed Boleh Seragam, Isi Piring Tak Perlu
Media sosial menyukai sesuatu yang mudah dikenali. Semangkuk makanan berwarna cerah, kopi, camilan tinggi protein, lalu makan malam cantik menghasilkan cerita visual yang rapi. Kehidupan sehari-hari lebih berantakan dari itu.
Ada hari ketika makan siang datang terlambat karena pekerjaan. Ada sore panas Surabaya ketika es terasa jauh lebih menggoda daripada buah potong. Ada pula makan malam bersama keluarga yang porsinya berbeda dari rencana.
Pola makan sehat masih dapat berjalan di tengah situasi tersebut. Pedoman gizi tidak menuntut setiap piring terlihat sempurna untuk kamera.
Justru ukuran yang lebih masuk akal adalah kebiasaan dalam jangka panjang: makanan cukup beragam, sayur dan buah mendapat tempat, sumber protein tersedia, gula dan garam tidak berlebihan, serta porsi menyesuaikan kebutuhan.
Jadi, saat video What I Eat in a Day berikutnya lewat di layar, tak perlu buru-buru mengganti daftar belanja. Simpan resep yang menarik bila memang cocok. Lewati aturan makan yang terasa ekstrem.
