Minggu, 07 June 2026 07:30 UTC

Ilustrasi: Belajar dari Kesalahan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kesalahan investasi pemula masih menjadi tantangan besar di tengah meningkatnya jumlah investor muda di Indonesia.
Kemudahan membuka rekening investasi memang berhasil menarik jutaan investor baru, tetapi tidak semua diikuti dengan pemahaman yang memadai mengenai risiko dan strategi pengelolaan aset.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal telah melampaui 20 juta SID pada akhir 2025.
Sebagian besar pertumbuhan tersebut datang dari kelompok usia muda yang mulai aktif berinvestasi sejak kuliah atau awal bekerja.
Fenomena ini tentu positif. Namun di balik pertumbuhan tersebut, banyak investor baru yang masih melakukan kesalahan mendasar. Kesalahan-kesalahan ini sering terlihat sederhana, tetapi dalam jangka panjang dapat mengurangi potensi keuntungan bahkan menyebabkan kerugian yang sebenarnya bisa dihindari.
Berinvestasi Tanpa Tujuan yang Jelas
Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah memulai investasi tanpa tujuan keuangan yang spesifik. Banyak orang membuka akun investasi karena melihat teman memperoleh keuntungan atau karena sedang menjadi tren di media sosial. Akibatnya, keputusan investasi sering berubah-ubah mengikuti suasana pasar.
Ketika harga naik, mereka bersemangat membeli. Saat harga turun, mereka panik menjual. Pola seperti ini membuat strategi investasi kehilangan arah.
Padahal, tujuan investasi berfungsi sebagai kompas dalam mengambil keputusan. Investor yang menyiapkan dana rumah lima tahun ke depan tentu memiliki pendekatan berbeda dibanding investor yang sedang membangun dana pensiun selama tiga dekade.
Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan lebih mudah terpengaruh sentimen jangka pendek dibanding fokus pada target yang ingin dicapai.
Terlalu Mengejar Keuntungan Cepat
Media sosial membuat banyak cerita sukses investasi terlihat sangat mudah. Tidak sedikit konten yang menampilkan keuntungan besar dalam waktu singkat.
Sayangnya, yang sering terlihat adalah hasil akhirnya, bukan proses, risiko, dan kerugian yang mungkin pernah dialami.
Keinginan memperoleh keuntungan cepat mendorong sebagian investor pemula mengambil risiko yang sebenarnya belum mereka pahami.
Fenomena ini juga terlihat dalam berbagai kasus investasi spekulatif yang pernah muncul dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang masuk saat harga sedang tinggi karena takut tertinggal tren, lalu menjual saat pasar terkoreksi.
Dalam dunia keuangan, perilaku tersebut dikenal sebagai fear of missing out atau FOMO. Investor membeli karena dorongan emosi, bukan berdasarkan analisis.
Padahal investasi yang sehat umumnya membutuhkan waktu, konsistensi, dan disiplin. Membangun aset jarang terjadi secara instan.
Mengabaikan Risiko dan Profil Diri
Setiap instrumen investasi memiliki tingkat risiko berbeda. Namun banyak investor pemula hanya fokus pada potensi keuntungan. Mereka sering bertanya berapa persen imbal hasil yang bisa diperoleh, tetapi lupa mempertimbangkan seberapa besar penurunan yang mampu mereka toleransi.
Kesalahan ini menjadi semakin berbahaya ketika seseorang menggunakan dana yang sebenarnya dibutuhkan dalam waktu dekat.
Misalnya, dana kuliah semester depan, uang sewa kos, atau dana darurat ditempatkan pada instrumen yang sangat fluktuatif. Saat nilai investasi turun, kebutuhan tetap harus dibayar.
Akibatnya investor terpaksa menjual aset dalam kondisi rugi. Otoritas Jasa Keuangan melalui Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 mencatat tingkat inklusi keuangan Indonesia mencapai 80,51 persen, sementara tingkat literasi keuangan berada pada 66,46 persen.
Angka tersebut menunjukkan akses terhadap produk keuangan tumbuh lebih cepat dibanding pemahaman masyarakat terhadap produk yang digunakan.
Kondisi ini menjelaskan mengapa edukasi mengenai risiko masih menjadi kebutuhan penting bagi investor baru.
Tidak Melakukan Diversifikasi
Kesalahan berikutnya adalah menempatkan seluruh dana pada satu jenis investasi. Sebagian investor pemula merasa yakin terhadap satu aset tertentu lalu menaruh hampir seluruh modal di sana. Mereka berharap keuntungan maksimal tanpa menyadari bahwa risiko juga ikut terkonsentrasi.
Diversifikasi hadir untuk mengurangi dampak jika salah satu aset mengalami penurunan. Prinsipnya sederhana. Ketika dana ditempatkan pada beberapa instrumen atau sektor yang berbeda, risiko tidak bertumpu pada satu sumber saja.
Diversifikasi memang tidak menjamin keuntungan. Namun strategi ini dapat membantu menjaga kestabilan portofolio dalam berbagai kondisi pasar.
Karena itu, investor berpengalaman biasanya lebih fokus mengelola risiko dibanding sekadar mengejar keuntungan tertinggi.
Terlalu Sering Memantau Pergerakan Harga
Kemudahan aplikasi investasi membuat banyak orang bisa memeriksa portofolio kapan saja. Sayangnya, kemudahan ini kadang justru memicu keputusan impulsif.
Investor pemula sering membuka aplikasi berkali-kali dalam sehari. Setiap perubahan harga kecil dianggap sebagai sinyal untuk membeli atau menjual.
Padahal fluktuasi harian merupakan hal yang normal dalam berbagai instrumen investasi. Terlalu sering memantau pergerakan jangka pendek dapat memicu stres dan keputusan emosional.
Dalam banyak kasus, keputusan yang dibuat karena panik justru menghasilkan kerugian yang lebih besar dibanding tetap berpegang pada rencana awal.
Investor yang memiliki tujuan jangka panjang biasanya lebih fokus pada perkembangan tahunan dibanding perubahan harga harian.
Mengabaikan Kekuatan Konsistensi
Banyak orang menganggap investasi harus dimulai dengan modal besar. Padahal salah satu kekuatan terbesar dalam investasi justru berasal dari konsistensi.
Setoran rutin dalam jumlah kecil selama bertahun-tahun sering memberikan hasil yang lebih baik dibanding investasi besar yang dilakukan sesekali tanpa disiplin.
Prinsip ini didukung oleh efek pertumbuhan majemuk atau compounding, yaitu keuntungan yang terus berkembang karena hasil investasi ikut menghasilkan keuntungan baru pada periode berikutnya.
Karena itu, kebiasaan menunda investasi sambil menunggu dana besar sering menjadi kesalahan yang tidak disadari. Waktu sering kali lebih berharga daripada jumlah modal awal.
Kesalahan investasi pemula sebenarnya bukan sesuatu yang memalukan. Hampir semua investor pernah mengalaminya dalam bentuk yang berbeda.
Yang membedakan investor yang bertahan dan yang berhenti di tengah jalan adalah kemauan untuk belajar. Semakin cepat seseorang memahami kesalahan-kesalahan dasar ini, semakin besar peluangnya membangun portofolio yang sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
