Logo

Kerajinan Lokal yang Cocok Percantik Rumah

Rumah terasa personal ketika benda di dalamnya dipilih karena fungsi, karakter, dan cerita yang dekat dengan penghuninya.
Reporter:,Editor:

Rabu, 12 August 2026 08:00 UTC

Kerajinan Lokal yang Cocok Percantik Rumah

Ilustrasi: Sentuhan Lokal di Rumah. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM, Kerajinan lokal Indonesia punya tempat yang cukup alami di rumah modern. Rotan, kayu, keramik, anyaman, hingga kain tenun sekarang mudah bertemu sofa minimalis, rak modular, dan interior berwarna netral.

Di Surabaya, perpaduan itu terasa masuk akal. Rumah perkotaan membutuhkan barang yang fungsional dan tidak memakan banyak ruang. Cuaca yang hangat juga membuat material dengan kesan ringan dan natural mudah masuk ke berbagai gaya interior.

Ada pula cerita ekonomi yang lebih besar di balik sebuah keranjang rotan atau meja kayu. Produk furnitur dan kerajinan Indonesia sudah bergerak jauh melewati pasar suvenir. Sebagian bahkan berakhir di ruang keluarga konsumen Amerika, Eropa, dan Asia.

 

Rotan dan Kayu Tak Harus Membuat Rumah Terlihat Kuno

Bayangan tentang kerajinan rumah pernah cukup mudah ditebak: ukiran besar, warna kayu gelap, furnitur berat, dan benda dekoratif yang lebih sering dipajang daripada digunakan.

Selera interior perkotaan bergerak. Keranjang anyaman sekarang dipakai menyimpan selimut atau mainan anak. Bangku kayu berukuran kecil bisa menjadi meja samping.

Rotan muncul pada kursi makan, kap lampu, kotak penyimpanan, sampai bingkai cermin. Kerajinan lokal cocok dengan perubahan tersebut karena Indonesia memiliki basis material dan keterampilan yang panjang. Kemampuan produksinya bahkan terlihat dari pasar ekspor.

Kementerian Perindustrian, mengacu pada data Trade Map untuk HS 9401–9403, mencatat nilai ekspor furnitur Indonesia mencapai US$1,91 miliar pada 2024. 

Sementara itu, Kementerian Perdagangan menggunakan cakupan furnitur dan kerajinan yang lebih luas. Untuk periode Januari–November 2024, nilai ekspornya mencapai US$2,22 miliar. Pada 2023, Indonesia tercatat sebagai pemasok furnitur dan kerajinan peringkat ke-19 dunia dengan nilai US$2,46 miliar. 

Perbedaan angka tersebut berasal dari cakupan komoditas yang digunakan. Namun keduanya memberi gambaran serupa: barang yang sering dianggap pelengkap interior ternyata memiliki pasar internasional bernilai miliaran dolar.

 

Dari Jawa Timur, Furnitur Berjalan ke Pasar Dunia

Surabaya mempunyai posisi menarik dalam cerita ini karena wilayah industri di sekelilingnya terhubung langsung dengan aktivitas perdagangan kota.

Pada Juni 2024, Kementerian Perdagangan melepas 11 kontainer furnitur dan komponen bangunan senilai US$440 ribu dari perusahaan di Sidoarjo menuju Amerika Serikat dan Eropa. Bahan bakunya berasal dari dalam negeri. 

Beberapa bulan kemudian, aktivitas ekspor UMKM kembali berlangsung dari Sidoarjo. Pada Desember 2024, empat UMKM Jawa Timur mengirim produk senilai sekitar US$256 ribu atau Rp3,9 miliarmenuju Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan Singapura. Barangnya beragam, termasuk kerajinan serta furnitur daur ulang berbahan plastik. 

Cerita semacam itu membuat istilah “kerajinan lokal” perlu dilihat sedikit lebih luas. Produk lokal tidak selalu lahir dari bengkel kecil dengan proses yang sepenuhnya manual. Ekosistemnya membentang dari perajin rumahan hingga manufaktur yang sanggup memenuhi pesanan ekspor.

Di rumah, konsumen mungkin hanya melihat sebuah kursi. Di belakangnya bisa ada proses pemilihan kayu, pengeringan, pembuatan konstruksi, pengamplasan, finishing, pengemasan, sampai pengiriman. Untuk produk anyaman, keterampilan tangan masih menjadi bagian penting pada banyak tahapan.


Itulah sebabnya harga kerajinan tidak selalu tepat dibandingkan hanya berdasarkan ukuran bendanya.

 

Satu Benda Berkarakter Sering Lebih Cukup

Menggunakan kerajinan lokal di rumah tidak berarti setiap sudut harus dipenuhi rotan, batik, ukiran, dan ornamen tradisional sekaligus.
Pada rumah perkotaan, cara yang lebih mudah justru memilih beberapa benda yang benar-benar bekerja.

Ruang tamu berwarna netral dapat diberi satu kursi rotan. Meja makan sederhana bisa terasa lebih hangat dengan runner tenun. Keranjang anyaman cocok untuk menyembunyikan kabel, majalah, atau barang kecil yang biasanya membuat ruangan terlihat berantakan.

Tekstur menjadi kekuatan utama material semacam ini. Permukaan kayu memiliki serat yang berbeda. Anyaman memberi pola tanpa membutuhkan warna mencolok. Keramik buatan tangan juga sering mempunyai sedikit perbedaan bentuk atau glasir yang membuat tampilannya tidak terasa seperti barang produksi massal

Untuk rumah Surabaya yang menghadapi udara panas hampir sepanjang tahun, material natural juga mudah menciptakan kesan visual yang lebih ringan. Namun pilihan tetap perlu mempertimbangkan ruang sebenarnya.

Rotan sebaiknya tidak terus-menerus terkena hujan atau kelembapan tinggi. Furnitur kayu perlu dijauhkan dari sumber air yang dapat merusak finishing. Keramik dekoratif sebaiknya ditempatkan pada permukaan stabil, terutama jika rumah dihuni anak kecil atau hewan peliharaan. Benda cantik tetap harus bisa hidup bersama penghuninya.

 

Pasar Ekspor Memberi Petunjuk tentang Selera

Produk yang diminati konsumen luar negeri memberi gambaran menarik tentang kekuatan kerajinan Indonesia.

Kementerian Perdagangan mencatat Amerika Serikat menyerap 53,20 persen ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia pada Januari–November 2024. Berikutnya Jepang sebesar 6,04 persen, Belanda 4,48 persen, Jerman 3,73 persen, dan Belgia 2,87 persen. 
Kerajinan rotan mempunyai pola pasar yang lebih tersebar.

Data BPS yang diolah Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai ekspor kerajinan rotan Indonesia ke Amerika Serikat pada semester I 2024 mencapai US$6,68 juta, setara 23,03 persen dari total ekspor komoditas tersebut. Belanda berada di posisi berikutnya dengan US$6,05 juta atau 20,85 persen. 

Beberapa jenis produk tumbuh cukup tajam pada periode yang sama. Ekspor kelompok anyaman rotan tertentu meningkat 69,66 persen, sedangkan tikar, anyaman, dan layar berbahan rotan naik 44,29 persen dibandingkan semester I tahun sebelumnya. 

Selera pasar tentu berbeda-beda. Namun ada satu pola yang mudah dibaca: material tradisional tidak kehilangan relevansi hanya karena gaya rumah berubah. Yang berubah adalah bentuk penggunaannya.

 

Membeli Kerajinan Lokal Perlu Sedikit Lebih Teliti

Label “handmade” atau “lokal” sebaiknya tidak langsung menjadi alasan membeli. Furnitur tetap perlu diperiksa kekokohannya, sementara barang dekoratif perlu disesuaikan dengan fungsi dan ukuran ruangan.

Pada furnitur kayu, cek sambungan dan permukaannya. Goyangkan kursi atau meja untuk mengetahui kestabilannya. Untuk rotan, perhatikan kerapatan anyaman serta bagian serat yang patah atau mencuat. Ukuran sering menjadi jebakan lain.

Sebuah kursi dapat terlihat proporsional di foto produk tetapi terasa terlalu besar ketika masuk rumah. Mengukur area penempatan, pintu masuk, lorong, dan jalur furnitur sebelum membeli jauh lebih berguna daripada mengandalkan perkiraan mata.

Pertimbangkan juga perawatannya. Rumah dengan aktivitas tinggi mungkin lebih cocok menggunakan kerajinan yang mudah dibersihkan daripada benda dengan detail rumit.

Agustus memang memberi alasan tambahan untuk melihat karya buatan Indonesia. Tetapi kerajinan rumah tidak perlu menunggu suasana merah putih untuk terasa relevan.

Pasar global sudah memberi tempat pada furnitur dan kerajinan Indonesia hingga bernilai miliaran dolar. Di Surabaya, barang serupa bisa hadir dalam skala yang jauh lebih sederhana: sebuah keranjang di samping sofa, meja kayu dekat jendela, atau keramik di meja makan.

Jika fungsinya tepat dan kualitasnya baik, kerajinan lokal Indonesia tak perlu terasa seperti dekorasi bertema nasional. Ia cukup menjadi bagian dari rumah yang dipakai setiap hari.