Minggu, 31 May 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Makna sebuah gelar. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Gelar akademik masih menjadi salah satu simbol pencapaian yang dihargai di Indonesia. Meski dunia kerja kini semakin terbuka terhadap keterampilan praktis, portofolio, dan pengalaman nyata, banyak keluarga tetap menempatkan pendidikan tinggi sebagai target penting dalam perjalanan hidup anak-anak mereka.
Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Pendidikan tinggi masih berkaitan erat dengan peluang ekonomi, mobilitas sosial, serta pengakuan di lingkungan masyarakat. Karena itu, gelar bukan hanya dipandang sebagai bukti akademik, tetapi juga representasi usaha, kesempatan, dan status sosial yang berhasil diraih seseorang.
Menariknya, ketika akses informasi semakin terbuka dan berbagai profesi baru bermunculan, posisi gelar akademik justru tetap bertahan sebagai salah satu indikator yang diperhitungkan publik.
Kuliah Masih Menjadi Kesempatan yang Tidak Dimiliki Semua Orang
Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia pada 2025 berada di angka 32,89 persen. Artinya, dari setiap 100 penduduk usia kuliah (19–23 tahun), sekitar 33 orang sedang menempuh pendidikan tinggi.
Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan dibanding beberapa tahun sebelumnya. Namun, data yang sama juga memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi masih belum menjadi pengalaman yang dapat diakses oleh seluruh kelompok usia kuliah di Indonesia.
Ketika sesuatu belum dapat dinikmati oleh semua orang, nilainya dalam masyarakat cenderung tetap tinggi. Dalam konteks ini, gelar akademik masih dipandang sebagai pencapaian yang membutuhkan investasi waktu, biaya, dan komitmen yang tidak kecil.
Karena itu, tidak mengherankan jika wisuda masih menjadi momen yang sangat penting bagi banyak keluarga Indonesia.
Akses Pendidikan Tinggi Masih Menunjukkan Kesenjangan
Data BPS juga memperlihatkan adanya perbedaan akses pendidikan tinggi berdasarkan wilayah tempat tinggal. Pada 2025, APK perguruan tinggi di wilayah perkotaan mencapai 38,58 persen, sedangkan di wilayah perdesaan berada pada 23,14 persen.
Artinya, peluang untuk menempuh pendidikan tinggi masih lebih besar bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan dibanding daerah pedesaan.
Kesenjangan juga terlihat dari sisi ekonomi. Berdasarkan statistik BPS, kelompok rumah tangga pengeluaran terendah (kuintil 1) memiliki APK perguruan tinggi sekitar 17,30 persen, sementara kelompok dengan tingkat pengeluaran lebih tinggi menunjukkan partisipasi yang jauh lebih besar.
Fakta tersebut menjelaskan mengapa gelar akademik sering dipandang sebagai simbol keberhasilan mobilitas sosial. Bagi sebagian keluarga, keberhasilan mencapai bangku kuliah merupakan pencapaian yang melampaui sekadar pendidikan formal.
Pendidikan Tinggi Masih Berkaitan dengan Peluang Karier
Selain faktor sosial, pendidikan tinggi juga masih memiliki hubungan kuat dengan peluang kerja dan pengembangan karier. Laporan pendidikan Indonesia yang dirangkum oleh OECD menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tetap berperan penting dalam penyediaan tenaga kerja terampil, pengembangan riset, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Banyak profesi formal di Indonesia masih mensyaratkan jenjang pendidikan tertentu sebagai bagian dari standar kompetensi. Bidang seperti kesehatan, pendidikan, teknik, hukum, hingga administrasi publik umumnya membutuhkan kualifikasi akademik yang jelas.
Meski perusahaan kini semakin memperhatikan keterampilan dan pengalaman, gelar tetap berfungsi sebagai salah satu indikator awal yang membantu proses seleksi dan evaluasi kandidat.
Generasi Muda Mulai Melihat Gelar dengan Cara Berbeda
Menariknya, cara pandang terhadap gelar mulai mengalami perubahan. Generasi muda tidak lagi melihat pendidikan tinggi sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan.
Munculnya ekonomi digital, profesi kreatif, kewirausahaan berbasis teknologi, serta berbagai platform pembelajaran daring membuat jalur pengembangan karier menjadi lebih beragam dibanding satu dekade lalu.
Namun perubahan tersebut tidak otomatis menghilangkan nilai gelar akademik. Yang terjadi adalah pergeseran fungsi. Gelar tidak lagi dianggap sebagai jaminan kesuksesan, melainkan sebagai salah satu modal yang perlu didukung keterampilan, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi.
Dalam banyak kasus, lulusan perguruan tinggi yang memiliki portofolio kuat, kemampuan digital, serta jaringan profesional yang baik cenderung memiliki daya saing lebih tinggi dibanding hanya mengandalkan ijazah semata.
Pada akhirnya, gelar akademik masih menjadi simbol prestise karena mencerminkan pencapaian yang belum bisa diraih oleh semua orang. Data menunjukkan akses pendidikan tinggi di Indonesia terus meningkat, tetapi belum merata.
Di saat yang sama, masyarakat masih mengaitkan pendidikan dengan peluang ekonomi, mobilitas sosial, dan pengembangan karier. Meski dunia kerja semakin menghargai keterampilan nyata, gelar akademik tetap memiliki makna penting sebagai fondasi yang memperkuat reputasi dan kompetensi seseorang di tengah perubahan zaman.
