Senin, 22 June 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Hemat dengan Sadar. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kebiasaan berburu thrift semakin banyak diterapkan oleh generasi muda yang ingin menjaga keseimbangan antara kebutuhan gaya hidup dan kondisi keuangan. Aktivitas ini tidak lagi sekadar mencari pakaian murah, tetapi menjadi bagian dari strategi konsumsi yang lebih terencana.
Di tengah meningkatnya biaya hidup di banyak kota, kemampuan mengelola pengeluaran menjadi semakin penting. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam struktur ekonomi Indonesia. Karena itu, keputusan belanja sehari-hari memiliki pengaruh langsung terhadap kondisi finansial seseorang.
Thrifting hadir sebagai salah satu alternatif yang memungkinkan masyarakat memperoleh barang berkualitas dengan biaya yang lebih rendah. Namun manfaat tersebut hanya bisa dirasakan apabila dilakukan dengan kebiasaan yang tepat.
Tanpa perencanaan, aktivitas berburu thrift justru bisa berubah menjadi pemborosan yang tidak disadari.
Membuat Daftar Kebutuhan Sebelum Berbelanja
Salah satu kebiasaan paling efektif dalam thrifting adalah menentukan kebutuhan sebelum datang ke toko atau bazar. Banyak pembeli tergoda membeli barang yang menarik secara visual meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan. Fenomena ini dikenal sebagai impulse buying atau pembelian impulsif.
Menurut survei yang dilakukan PwC dalam berbagai studi perilaku konsumen global, keputusan pembelian impulsif masih menjadi salah satu penyebab utama membengkaknya pengeluaran rumah tangga.
Dengan membuat daftar kebutuhan terlebih dahulu, perhatian pembeli akan lebih terfokus pada barang yang memang memiliki fungsi jelas.
Cara sederhana ini membantu mengurangi risiko membeli pakaian yang akhirnya hanya tersimpan di lemari.
Menentukan Anggaran Sebelum Berburu
Harga murah sering menciptakan ilusi bahwa pengeluaran kecil tidak akan berdampak besar. Padahal pembelian berulang dalam jumlah banyak dapat menghasilkan total yang cukup signifikan.
Karena itu, menetapkan batas anggaran menjadi langkah penting sebelum berburu thrift. Misalnya, seseorang menentukan anggaran Rp100.000 hingga Rp200.000 untuk satu sesi belanja. Batas tersebut membantu proses pengambilan keputusan menjadi lebih rasional.
Prinsip ini sejalan dengan konsep budgeting yang banyak digunakan dalam perencanaan keuangan pribadi. Tujuannya bukan membatasi kesenangan, melainkan memastikan setiap pengeluaran tetap sesuai kemampuan finansial.
Dengan cara ini, thrifting benar-benar menjadi sarana penghematan, bukan alasan untuk belanja berlebihan.
Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah membeli banyak barang hanya karena harganya murah. Padahal satu pakaian berkualitas yang digunakan berkali-kali biasanya memberikan nilai yang lebih tinggi dibandingkan lima pakaian yang jarang dipakai.
Laporan Ellen MacArthur Foundation menunjukkan bahwa memperpanjang masa penggunaan pakaian merupakan salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan efisiensi konsumsi dalam industri fashion.
Karena itu, pembeli berpengalaman biasanya lebih memperhatikan kondisi bahan, kualitas jahitan, dan fleksibilitas penggunaan dibandingkan jumlah barang yang dibawa pulang.
Pendekatan ini membantu menciptakan lemari pakaian yang lebih fungsional dan tidak penuh oleh barang yang jarang digunakan.
Memanfaatkan Momen dan Lokasi yang Tepat
Tidak semua toko thrift memiliki koleksi yang sama. Beberapa lokasi dikenal memiliki pilihan barang vintage, sementara tempat lain lebih banyak menawarkan pakaian kasual harian.
Kebiasaan melakukan riset sederhana sebelum berbelanja dapat meningkatkan peluang menemukan barang yang sesuai kebutuhan.
Selain itu, banyak pelaku usaha thrift melakukan pembaruan stok pada hari-hari tertentu. Pembeli yang memahami pola tersebut sering memperoleh pilihan yang lebih beragam.
Kebiasaan mencari informasi terlebih dahulu juga membantu menghemat waktu dan biaya transportasi karena kunjungan menjadi lebih terarah.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini membuat aktivitas thrifting lebih efisien dan menyenangkan.
Menghindari Pengaruh Tren yang Cepat Berganti
Media sosial memiliki peran besar dalam popularitas thrifting. Namun pengaruh tersebut juga membawa tantangan tersendiri. Tren fashion dapat berubah sangat cepat. Pakaian yang populer hari ini belum tentu tetap digunakan beberapa bulan ke depan.
Menurut laporan McKinsey mengenai industri fashion global, siklus tren kini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan satu dekade lalu karena pengaruh platform digital dan konten pendek.
Akibatnya, banyak konsumen membeli pakaian berdasarkan tren sesaat tanpa mempertimbangkan kecocokan dengan kebutuhan sehari-hari.
Kebiasaan yang lebih bijak adalah memilih barang yang sesuai karakter pribadi dan mudah dipadukan dengan koleksi yang sudah dimiliki.
Cara ini membantu menjaga nilai penggunaan pakaian dalam jangka panjang.
Penghematan yang Lahir dari Kebiasaan
Banyak orang menganggap penghematan hanya berkaitan dengan mencari harga termurah. Padahal penghematan yang sesungguhnya lebih sering lahir dari kebiasaan yang konsisten.
Membuat daftar kebutuhan, menentukan anggaran, memilih kualitas terbaik, melakukan riset, dan menghindari pembelian impulsif merupakan fondasi penting dalam aktivitas thrifting yang sehat.
Ketika kebiasaan tersebut diterapkan secara berkelanjutan, manfaat yang diperoleh tidak hanya berupa pengeluaran yang lebih terkendali. Konsumen juga belajar memahami nilai sebuah barang secara lebih objektif.
Pada akhirnya, kebiasaan berburu thrift yang tepat bukan sekadar membantu menghemat anggaran, tetapi juga membentuk pola konsumsi yang lebih cerdas, terukur, dan relevan dengan tantangan ekonomi modern.
