Selasa, 27 October 2026 01:30 UTC

Suasana ruang tunggu Bandara Internasional King Khalid di Riyadh Arab Saudi. Foto: skytraxratings.com
JATIMNET.COM, Riyadh – Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, mulai kembali melayani penerbangan setelah sekitar dua pekan terhenti akibat serangan kelompok Houthi dari Yaman.
Namun, operasional bandara belum sepenuhnya normal. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh mengingatkan warga negara Indonesia (WNI) agar memastikan jadwal penerbangan sebelum berangkat.
Pembukaan terbatas bandara berlangsung mulai Minggu, 25 Oktober 2026, setelah otoritas Arab Saudi melakukan koordinasi keamanan dan pemeriksaan fasilitas penerbangan.
KBRI Riyadh kemudian mengumumkan pengaturan terminal serta langkah yang perlu diperhatikan WNI melalui akun Instagram resmi @indonesiainriyadh.
Pengoperasian bandara untuk sementara menggunakan dua terminal dengan pembagian layanan berbeda. Terminal 1 diperuntukkan bagi penerbangan domestik, sedangkan Terminal 2 melayani penerbangan internasional yang dioperasikan maskapai nasional Arab Saudi.
"Terminal 1 akan melayani penerbangan domestik dan Terminal 2 akan melayani penerbangan internasional yang dioperasikan oleh maskapai nasional Arab Saudi," demikian pengumuman KBRI Riyadh melalui media sosial resminya, sebagaimana dikutip di Riyadh, Senin, 26 Oktober 2026.
Pembagian tersebut perlu diperhatikan penumpang karena pembukaan bandara tidak berarti seluruh penerbangan langsung beroperasi kembali. Jadwal keberangkatan, kedatangan, dan penggunaan terminal masih berpotensi berubah mengikuti kondisi keamanan serta kesiapan layanan.
KBRI meminta WNI mengonfirmasi status tiket dan jadwal penerbangan secara langsung kepada maskapai. Penumpang yang sudah memperoleh kepastian keberangkatan juga dianjurkan datang lebih awal untuk mengantisipasi pemeriksaan tambahan dan kemungkinan perubahan akses terminal.
"WNI yang status penerbangannya sudah dikonfirmasi oleh maskapai juga diimbau untuk berangkat lebih awal. Ini guna mengantisipasi adanya perubahan atau pengalihan akses di bandara menuju terminal dan mengantisipasi adanya pemeriksaan penumpang di bandara," tulis KBRI Riyadh dalam imbauan perjalanan.
Bandara King Khalid sebelumnya menghentikan aktivitas penerbangan sejak 10 Oktober 2026 setelah serangan yang diklaim kelompok Houthi. Serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa, ratusan orang terluka, serta gangguan terhadap jalur transportasi udara menuju ibu kota Arab Saudi.
Reuters melaporkan serangan pada 10 Oktober menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Penutupan bandara kemudian berlangsung sekitar dua pekan sebelum otoritas setempat mengizinkan sebagian layanan penerbangan kembali berjalan.
Meski bandara mulai dibuka, ancaman keamanan belum mereda. Kelompok Houthi kembali mengeluarkan peringatan kepada maskapai, pekerja bandara, dan calon penumpang agar tidak menggunakan fasilitas penerbangan tersebut.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut Bandara King Khalid masih menjadi sasaran kelompoknya. Ancaman itu disampaikan menjelang pembukaan kembali layanan penerbangan dan menambah ketidakpastian bagi penumpang.
Bandara tersebut "tidak aman karena menjadi sasaran militer bagi pasukan kami," kata Yahya Saree dalam pernyataan terkait operasional Bandara King Khalid yang dilaporkan dari Riyadh.
Peringatan Houthi merupakan pernyataan pihak yang terlibat konflik, bukan penetapan status keselamatan penerbangan oleh otoritas sipil. Pemerintah Arab Saudi tetap melanjutkan pemulihan layanan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi keamanan.
Bagi masyarakat Indonesia, gangguan penerbangan di Riyadh dapat memengaruhi perjalanan pekerja migran, pelaku bisnis, wisatawan, serta penumpang yang menggunakan Arab Saudi sebagai lokasi transit. Perubahan jadwal juga berpotensi menambah biaya perjalanan, terutama bagi penumpang yang harus mengatur ulang tiket dan akomodasi.
Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri yang dilaporkan pada 11 Oktober 2026, sekitar 581.000 WNI berada di Arab Saudi. Jumlah tersebut mencakup sekitar 351.070 pemegang izin tinggal dan 229.930 pengunjung atau peziarah.
Besarnya jumlah WNI membuat informasi penerbangan dan perkembangan keamanan menjadi kebutuhan penting. Penumpang yang memiliki jadwal keberangkatan mendesak perlu memastikan penerbangan benar-benar tersedia sebelum menuju bandara.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri juga mengonfirmasi dua WNI mengalami luka ringan akibat serangan pada 11 Oktober 2026. Keduanya telah mendapatkan perawatan medis di Riyadh dan diperbolehkan pulang.
"Berdasarkan hasil koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, telah diperoleh konfirmasi terdapat 2 WNI yang mengalami luka ringan akibat serangan pada 11 Oktober 2026," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.
Keterangan tersebut berkaitan dengan serangan sebelumnya, bukan laporan korban baru setelah bandara kembali dibuka.
KBRI Riyadh terus mengimbau WNI mengikuti perkembangan keamanan melalui saluran resmi dan mematuhi arahan otoritas Arab Saudi.
WNI yang membutuhkan bantuan darurat dapat menghubungi KBRI Riyadh melalui nomor +966 569173990. Sementara itu, layanan bantuan KJRI Jeddah sebelumnya mencantumkan nomor +966 503609667.
Pembukaan terbatas Bandara King Khalid memberi kesempatan bagi penumpang untuk kembali melakukan perjalanan setelah penangguhan penerbangan.
Namun, selama ancaman keamanan masih berlangsung, kepastian jadwal maskapai dan informasi resmi pemerintah tetap menjadi acuan utama bagi WNI yang hendak bepergian melalui Riyadh.
