Logo

Jus Buah Tetap Perlu Bijak Meski Terasa Sehat

Buah memang menyehatkan, tetapi cara menikmatinya ikut menentukan seberapa banyak manfaat yang kita dapatkan.
Reporter:,Editor:

Selasa, 08 September 2026 08:00 UTC

Jus Buah Tetap Perlu Bijak Meski Terasa Sehat

Ilustrasi: Buah Segar Lebih Utuh. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Jus buah sering menjadi pilihan saat cuaca panas. Rasanya segar, mudah diminum, dan memiliki citra lebih sehat dibandingkan soda atau minuman manis berperisa.

Pilihan tersebut terasa semakin masuk akal pada September. Jawa Timur sedang berada pada puncak musim kemarau periode Agustus–September 2026. BMKG menyebut cuaca pada periode tersebut cenderung lebih panas dan kering. 

Namun, label "buah" tidak otomatis membuat semua minuman berbahan buah bisa dikonsumsi tanpa batas. Jus, buah utuh, minuman rasa buah, dan smoothie memiliki karakter berbeda.

Salah satu perbedaannya terletak pada gula bebas dan serat. WHO bahkan memasukkan gula yang secara alami terdapat dalam jus buah dan konsentrat jus ke dalam kelompok free sugars atau gula bebas. 

Karena itu, menikmati buah saat hari panas tetap membutuhkan cara yang lebih bijak. Buah utuh sebaiknya tidak sepenuhnya digantikan oleh segelas jus.

 

Jus Buah Tidak Sama dengan Buah Utuh

Sebuah jeruk yang dimakan langsung membutuhkan proses mengunyah. Kita menikmati daging buah bersama serat dan cairan yang tersimpan di dalamnya.

Situasinya berubah ketika beberapa buah diperas atau diblender menjadi satu gelas. Minuman lebih cepat dikonsumsi dan porsinya juga bisa bertambah tanpa terasa.

WHO menyarankan orang berusia di atas 10 tahun mengonsumsi sedikitnya 400 gram buah dan sayuran setiap hari. Rekomendasi itu setara sekitar lima porsi dalam panduan WHO. 

Organisasi tersebut juga menganjurkan sedikitnya 25 gram serat pangan alami per hari untuk kelompok usia di atas 10 tahun. Sumbernya dapat berasal dari sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan. 

Itulah salah satu alasan buah utuh tetap penting. Memakan buah memberikan pengalaman dan struktur pangan yang tidak selalu sama dengan meminumnya.

Bukan berarti jus harus disingkirkan dari meja makan. Hal yang perlu diperhatikan justru bentuk, porsi, bahan tambahan, dan seberapa sering kita meminumnya.

 

Gula dalam Jus Buah Tetap Perlu Diperhitungkan

Ada anggapan bahwa hanya gula pasir yang perlu dibatasi. Padahal, definisi gula bebas yang digunakan dalam rekomendasi kesehatan lebih luas.

WHO memasukkan gula yang ditambahkan produsen, juru masak, atau konsumen sebagai gula bebas. Gula alami pada madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus juga termasuk di dalamnya. 

WHO merekomendasikan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen total energi harian. Pada pola makan sekitar 2.000 kilokalori, jumlah tersebut kira-kira setara 50 gram atau sekitar 12 sendok teh. 

Penurunan hingga 5 persen atau kurang dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan. Jumlahnya sekitar 25 gram untuk pola konsumsi energi yang sama. 

Angka tersebut bukan berarti segelas jus selalu mengandung 25 atau 50 gram gula. Kandungan aktual sangat bergantung pada jenis buah, jumlah buah, porsi, dan bahan tambahan.

Masalah menjadi lebih jelas ketika jus masih diberi gula, sirup, susu kental manis, atau pemanis lainnya. Minuman yang awalnya sederhana dapat berubah menjadi sajian dengan rasa manis jauh lebih kuat.

Karena itu, pesanan "jus tanpa gula tambahan" dapat menjadi pilihan praktis. Rasa manis alami buah biasanya sudah cukup, terutama ketika menggunakan buah yang matang.

 

Minuman Rasa Buah Juga Perlu Dibedakan

Cuaca panas membuat pilihan minuman berbasis buah semakin beragam. Ada jus murni, sari buah, smoothie, squash, hingga minuman berperisa buah.

Nama buah pada kemasan atau menu tidak selalu berarti komposisinya didominasi buah utuh. Inilah alasan konsumen perlu melihat daftar bahan dan informasi nilai gizi pada produk kemasan.

Perbedaan tersebut penting karena rasa buah bisa datang dari berbagai komponen. Konsumen sebaiknya tidak hanya mengandalkan gambar jeruk, mangga, stroberi, atau apel pada bagian depan kemasan.

Untuk minuman racikan, kita bisa bertanya apakah minuman memakai buah asli dan apakah pemanis dapat dikurangi. Langkah sederhana ini membantu mengetahui apa yang sebenarnya masuk ke dalam gelas.

Porsi juga layak diperhatikan. Gelas berukuran besar tidak otomatis lebih baik hanya karena isinya menggunakan bahan buah.
Pada hari panas, rasa haus dapat membuat minuman dingin habis sangat cepat. Karena itu, air putih tetap lebih tepat dijadikan minuman utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari.

Jus buah kemudian bisa ditempatkan sebagai variasi dalam pola makan, bukan pengganti air putih setiap kali haus.

 

Buah Utuh Menawarkan Cara Segar yang Sederhana

Musim panas sebenarnya membuka banyak pilihan menikmati buah tanpa harus selalu mengolahnya menjadi minuman.

Semangka dingin, melon, jeruk, pepaya, nanas, atau jambu dapat disimpan dalam lemari pendingin sebelum disajikan. Sensasi segarnya tetap terasa tanpa perlu tambahan sirup.

Buah juga bisa dipotong dan dimasukkan ke dalam air dingin untuk memberi aroma. Mentimun, lemon, jeruk, atau daun mint dapat membuat air terasa lebih menarik.

Namun, infused water tidak perlu dianggap sebagai minuman ajaib. Nilai utamanya justru sederhana, yaitu membantu sebagian orang menikmati air putih tanpa menambahkan banyak gula.

Konteks ini penting ketika musim kemarau sedang kuat. BMKG memproyeksikan 451 Zona Musim atau 64,5 persen wilayah musim di Indonesia mengalami kemarau 2026 dengan curah hujan bawah normal. Sebanyak 400 ZOM atau 57,2 persen juga diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang daripada kondisi normalnya. 

Pada akhir Agustus 2026, BMKG bahkan mencatat sekitar 80 persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau. Kondisi kering saat itu semakin meluas seiring periode puncak kemarau. 

Cuaca seperti ini membuat kebiasaan minum menjadi semakin penting. Namun, menjaga cairan tubuh tidak berarti semua kebutuhan minum harus dipenuhi melalui minuman manis.

 

Menikmati Jus Tanpa Kehilangan Keseimbangan

Tidak ada kebutuhan untuk membuat hubungan dengan jus buah menjadi rumit. Beberapa kebiasaan sederhana sudah cukup membantu.

Pilih buah utuh lebih sering, hindari gula tambahan ketika membuat jus, dan perhatikan ukuran gelas. Saat membeli produk kemasan, baca komposisi serta informasi nilai gizinya.

Smoothie yang mempertahankan bagian buah juga berbeda dari jus yang disaring hingga ampasnya terbuang. Meski begitu, tambahan sirup atau pemanis tetap perlu diperhatikan.

Cara lain adalah tidak memasukkan terlalu banyak buah dalam satu gelas. Beberapa buah yang biasanya dimakan dalam beberapa kesempatan dapat terkumpul menjadi satu minuman berukuran besar.

Menikmati buah dengan cara berbeda juga membuat pola makan terasa tidak monoton. Hari ini buah bisa dimakan langsung, besok menjadi pendamping sarapan, lalu sesekali dinikmati sebagai jus tanpa gula tambahan.

Pada akhirnya, jus buah tetap dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Yang perlu dihindari adalah menganggap semua minuman berbahan buah otomatis setara dengan buah utuh.

Saat September terasa panas, segelas jus dingin memang menyenangkan. Namun, buah utuh dan air putih tetap memiliki tempat penting yang tidak perlu digantikan.

Jus buah terasa lebih berarti ketika dinikmati dengan sadar. Kesegarannya tetap ada, sementara pilihan kita menjadi lebih seimbang untuk kesehatan jangka panjang.