Selasa, 30 June 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Catatan untuk diri. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Journaling bukan lagi identik dengan buku harian remaja seperti yang populer pada era 1990-an dan awal 2000-an. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas mencatat pikiran, pengalaman, hingga target hidup justru kembali mendapat perhatian dari generasi muda yang hidup di tengah derasnya arus informasi digital.
Fenomena ini muncul ketika kehidupan modern semakin dipenuhi notifikasi, konten pendek, dan informasi yang bergerak sangat cepat. Banyak anak muda mulai mencari cara sederhana untuk memperlambat ritme berpikir tanpa harus meninggalkan teknologi sepenuhnya.
Menariknya, tren tersebut berkembang bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap literasi dan pengembangan diri. Data UNESCO menunjukkan sekitar 87 persen penduduk dunia usia di atas 15 tahun telah memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis.
Namun, UNESCO juga mencatat masih terdapat sekitar 739 juta orang dewasa di dunia yang belum memiliki keterampilan literasi dasar.
Angka ini menunjukkan bahwa kemampuan mengolah informasi dan menuangkannya dalam tulisan tetap menjadi keterampilan yang sangat penting di era modern.
Dari Buku Harian Menjadi Alat Mengelola Kehidupan
Journaling saat ini mengalami perubahan fungsi yang cukup besar. Jika dahulu banyak digunakan untuk menyimpan cerita pribadi, kini jurnal sering dimanfaatkan sebagai alat perencanaan hidup sehari-hari.
Sebagian mahasiswa menggunakan jurnal untuk mencatat target akademik dan ide tugas kuliah. Sementara pekerja muda memanfaatkannya untuk menyusun prioritas pekerjaan, mencatat evaluasi mingguan, hingga merancang tujuan keuangan.
Perubahan ini tidak lepas dari meningkatnya kompleksitas aktivitas harian. Ketika informasi datang dari berbagai arah, banyak orang merasa perlu memiliki ruang yang lebih tenang untuk menyusun kembali pikirannya.
Menulis di jurnal membantu memindahkan berbagai ide yang memenuhi kepala ke dalam bentuk yang lebih terstruktur. Proses sederhana ini membuat seseorang lebih mudah melihat prioritas dan mengambil keputusan secara rasional.
Generasi Digital Tetap Membutuhkan Media Tulis
Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas digital yang sangat tinggi. Laporan Digital Indonesia menunjukkan jumlah pengguna internet telah mencapai lebih dari 210 juta orang.
Pada saat yang sama, media sosial menjadi bagian dari rutinitas harian sebagian besar masyarakat. Kondisi ini membuat generasi muda menghabiskan banyak waktu untuk menerima informasi dibandingkan mengolahnya.
Di sinilah journaling menemukan kembali relevansinya. Menulis membantu seseorang berhenti sejenak dari arus informasi yang bergerak tanpa henti.
Berbeda dengan unggahan media sosial yang ditujukan untuk publik, jurnal bersifat pribadi. Tidak ada tuntutan mendapatkan respons, jumlah suka, atau validasi dari orang lain.
Karena itu, banyak orang merasa lebih nyaman menuliskan pikiran mereka secara jujur melalui jurnal dibanding membagikannya di platform digital.
Journaling dan Budaya Literasi yang Bertumbuh
Perkembangan journaling juga sejalan dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap budaya literasi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indeks Tingkat Kegemaran Membaca Indonesia pada 2024 mencapai 72,44, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada pada angka 66,77.
Sementara, Perpustakaan Nasional mencatat Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat nasional mencapai 73,52 pada tahun yang sama. Angka tersebut menunjukkan adanya tren positif dalam aktivitas literasi masyarakat Indonesia.
Walaupun membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang berbeda, keduanya saling melengkapi. Orang yang terbiasa membaca umumnya memiliki lebih banyak bahan refleksi untuk ditulis.
Sebaliknya, kebiasaan menulis sering mendorong seseorang untuk mencari lebih banyak referensi melalui aktivitas membaca.
Kombinasi keduanya membantu membangun kemampuan berpikir yang lebih mendalam dibanding sekadar mengonsumsi informasi secara cepat.
Cara Memulai Journaling Tanpa Merasa Terbebani
Salah satu alasan banyak orang gagal membangun kebiasaan menulis adalah karena menganggap jurnal harus berisi tulisan panjang dan sempurna.
Padahal jurnal tidak memiliki aturan baku. Seseorang bisa memulainya dengan menulis tiga hal yang dipelajari hari ini. Ada pula yang hanya mencatat target besok pagi sebelum tidur.
Sebagian orang menggunakan jurnal untuk mencatat pengeluaran harian. Sebagian lainnya menjadikannya tempat menyimpan ide usaha, inspirasi konten, atau rencana perjalanan.
Yang terpenting bukan panjang tulisannya, melainkan konsistensinya. Lima menit setiap hari sering kali jauh lebih efektif dibanding satu jam menulis tetapi hanya dilakukan sekali dalam beberapa minggu.
Kebiasaan Sederhana yang Masih Relevan di Masa Depan
Kemajuan teknologi mungkin akan terus mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berkomunikasi. Namun kebutuhan untuk memahami diri sendiri tampaknya tidak akan pernah hilang.
Journaling menawarkan ruang yang sederhana untuk melakukan hal tersebut. Aktivitas ini tidak membutuhkan perangkat mahal, aplikasi khusus, ataupun kemampuan menulis profesional.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh distraksi, kebiasaan menulis beberapa baris setiap hari justru menjadi salah satu cara paling sederhana untuk menjaga kejernihan berpikir.
Karena itu, tidak mengherankan jika journaling semakin populer di kalangan muda. Bukan sebagai tren sesaat, melainkan sebagai kebiasaan kecil yang membantu banyak orang memahami hidup dengan lebih terstruktur.
