Ini Motif Pelaku Penembakan di Selandia Baru

Nani Mashita
Nani Mashita

Jumat, 15 Maret 2019 - 22:57

JATIMNET.COM, Surabaya – Salah satu pelaku teror penembakan di Selandia Baru diidentifikasi sebagai Brenton Tarrant. Tidak ada yang menduga bila Tarrant akan menjadi salah satu pria bersenjata di balik penembakan yang mengerikan di Christchurch.

Dilansir dari www.telegraph.co.uk, Jumat 15 Maret 2019, Tarrant berasal dari keluarga yang disegani di Kota Grafton di tepi sungai Australia bagian timur. Pria 28 tahun itu pernah bersekolah di Grafton High School, sebuah sekolah negeri. 

Hingga sekitar sepuluh tahun yang lalu, Tarrant tinggal di rumah sederhana dua lantai milik keluarganya di pinggiran kota Grafton, sebuah kota sekitar 400 mil di utara Sydney yang punya populasi sekitar 10.000 penduduk. Dia diyakini memiliki seorang kakak perempuan, ibu serta ayahnya, yang meninggal karena kanker pada tahun 2010.

BACA JUGA: Muhammadiyah dan NU Kecam Penembakan Masjid di Selandia Baru

Tarrant terakhir terlihat mengunjungi rumah itu sekitar lima tahun yang lalu dan diyakini telah bepergian ke luar negeri selama beberapa tahun terakhir. Di kota asalnya, mantan tetangga mengatakan kepada surat kabar Daily Examiner setempat bahwa ia adalah anak kecil yang manis sehingga tidak percaya bila Tarrant melakukan aksi keji tersebut.

"Sejujurnya saya tidak percaya bahwa seseorang yang setiap hari telah berbagi percakapan dan interaksi mampu melakukan sesuatu yang ekstrem ini,” kata Tracey Grey, yang mempekerjakan Tarrant di Pusat Squash dan Kebugaran Big River setempat.

Tarrant memfilmkan dirinya menyerang Masjid Christchurch lewat video Facebook Live dan memposting manifesto 74 halaman di mana ia mengklaim berasal dari kelas pekerja, keluarga berpenghasilan rendah. Dia mengatakan bahwa dia adalah orang Skotlandia, Irlandia dan Inggris dan pindah ke Selandia Baru.

BACA JUGA: Seniman ISI Yogyakarta Jadi Korban Penembakan di Selandia Baru

Di negara ini, Tarrant mengaku merencanakan, berlatih dan tinggal di Christchurch sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan serangan. Dalam manifestonya, bahwa dia mulai merencanakan serangan dua tahun lalu dan memilih lokasi yang ditargetkan tiga bulan lalu.

Dalam manifestonya, Tarrant menggambarkan diri sendiri sebagai orang kulit putih biasa yang terinspirasi oleh pembunuh massal Norwegia Anders Behring Breivik dan ingin membalas ribuan kematian yang disebabkan oleh penjajah asing.

"Saya telah membaca tulisan-tulisan Dylan Roof dan banyak lainnya, tetapi hanya benar-benar mengambil inspirasi sejati dari Knight Justiciar Breivik," tulisnya.

BACA JUGA: 49 Orang Tewas Dalam Penembakan di Masjid Selandia Baru

Tarrant mengatakan ingin membalas dendam atas kematian Ebba Akerlund, seorang anak berusia 11 tahun yang terbunuh dalam serangan teror 2017 di Stockholm.

Ia menggambarkan dirinya sebagai orang Eropa dan mengatakan Australia adalah cabang kolonial Inggris. "Orang-orang di sekitar saya adalah orang-orang Australia yang khas, apatis dan sebagian besar apolitis, hanya benar-benar menunjukkan motivasi dalam hal hak-hak binatang, lingkungan, dan perpajakan," katanya.

Belum jelas di mana, atau bagaimana, Tarrant berubah menjadi pembunuh massal rasis yang mengoceh. Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, membenarkan bahwa seorang lelaki kelahiran Australia berpartisipasi dalam serangan itu tetapi mengatakan lelaki itu sebelumnya tidak diketahui oleh pihak berwenang Australia. "Dia adalah warga negara kelahiran Australia," kata Morrison.

"Itu jelas mengarah pada penyelidikan berbasis Australia dan semua pertanyaan kami di sini akan benar-benar dibagikan dan dikomunikasikan dengan pihak berwenang Selandia Baru,” imbuh Morrison.

Baca Juga

loading...