Ingatkan Ancaman Perpecahan, Jokowi Cerita Curhat Ibu Negara Afghanistan

David Priyasidharta

Sabtu, 9 Februari 2019 - 10:13

JATIMNET.COM, Cianjur - Presiden Joko Widodo sempat bercerita tentang curahan hati (curhat) Ibu Negara Afghanistan tentang hancurnya sebuah negara akibat konflik dua suku berkepanjangan.

Pengalamannya bertemu dengan Presiden Ashraf Ghani dan Ibu Rula Ghani itu disampaikannya di acara Silaturahmi Muslimat NU dan Para Ulama di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur, Jumat, 8 Februari 2019.

Jokowi mengatakan negara Afghanistan merupakan sebuah negara kaya di Timur Tengah yang hancur karena konflik dua suku yang berkepanjangan. "Ibu Rula Ghani menyampaikan yang paling rugi hanya dua, satu, wanita, yang kedua anak-anak. Tidak bisa ke mana-mana. Beliau menyampaikan sekarang saya bisa naik sepeda saja sudah saya syukuri alhamdulillah. Inilah pengalaman, pelajaran yang bisa kita ambil. Negara yang dulunya aman tenteram kemudian perang karena konflik dua suku," lanjutnya.

BACA JUGA: Jelang Pemilu, Jokowi Ajak Ulama Tebar Kesejukan

Karena itu, Jokowi mengatakan begitu pentingnya merawat dan menjaga persatuan, kerukunan, dan persaudaraan bangsa. Menurutnya, negara Indonesia dianugerahi Allah berbeda-beda, mulai dari suku, agama, adat, tradisi, hingga bahasa daerah.

"Karena bangsa Indonesia ini adalah bangsa besar. Berbeda-beda dan jumlahnya banyak sekali. Penduduk kita sekarang jumlahnya sudah 260 juta. Kita memiliki 714 suku," ungkapnya.

Dalam acara itu juga digelar deklarasi antihoaks, antifitnah, dan antigibah yang dilakukan oleh Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).

BACA JUGA: Ulama Madura Sematkan Sorban kepada Jokowi

"Saya sangat menghargai sekali, Bu Khofifah, deklarasi-deklarasi oleh Muslimat NU di mana-mana supaya kita tidak didera oleh perpecahan dan konflik. Kalau sudah perang, sudah konflik, menyembuhkannya dan mengembalikannya sangat sulit," kata Presiden.

Oleh sebab itu, menurut Presiden, deklarasi tadi penting untuk mengingatkan kepada seluruh komponen bangsa bahwa kita bersaudara.

Kepala Negara tidak ingin jika gara-gara pesta politik seperti pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pemilihan presiden (pilpres) justru membuat masyarakat tidak saling sapa.

BACA JUGA: Jokowi Bertemu Ulama Aceh Bahas RUU Pesantren

"Lupa kita ini saudara. Ukhuwah kita harus kita pererat terus, kita jaga, kita rawat. Kok urusan pilihan politik menjadi seperti itu. Karena apa? Di sini ngompori, di sini ngompori, kemudian muncul di tengah-tengah fitnah dan hoaks sehingga antarteman, antartetangga, antarkampung tidak saling bicara," tuturnya.

Menurut Kepala Negara, memilih pemimpin dalam kontestasi politik itu mudah. Masyarakat tinggal melihat pengalaman, prestasi, program kerja, dan ide serta gagasan yang ditawarkannya.

"Jangan dengerin yang namanya fitnah-fitnah, isu-isu yang berkembang. Kalau sudah menjelang, ini kan dua bulan lagi ini bulan politik ini, isinya pasti simpang siur ke mana-mana," tandasnya.

Baca Juga

loading...