Pertama di dunia

Indonesia Bikin Bensin dan LPG dari Sawit dengan Co-Processing

David Priyasidharta

Sabtu, 13 April 2019 - 15:57

JATIMNET.COM, Jakarta - Pertamina dan Institut Teknologi Bandung sedang meneliti pemanfaatan sawit untuk bakar jenis bensin (Gasolin) maupun LPG (Liquified Petroleum Gas) selain sebagai campuran bahan bakar minyak jenis solar.

Penelitian ini diperlukan karena Indonesia salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana, di depan mahasiswa peserta Workshop Pengembangan Bioenergi dan Energi Pedesaan Berbasis Energi Terbarukan di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat 12 April 2019.

BACA JUGA: Pemerintah Siap Hadapi Kemungkinan Boikot Uni Eropa soal Sawit

"Indonesia yang pertama mengembangkan sawit untuk bensin melalui co-processing. Minyak sawit dicampurkan ke kilang dengan proses cracking, menggunakan katalis Merah Putih, yang juga merupakan produksi anak bangsa, dan akan menghasilkan bensin dan LPG di akhir proses," jelas Dadan dalam laman Kementerian ESDM, Sabtu 13 April 2019.

Ia mengungkapkan, pemanfaatan sawit untuk bensin ini juga telah dilakukan di beberapa negara seperti di Amerika, Italia, dan UEA. Namun, yang dikembangkan di negara-negara tersebut adalah membuat pabrik baru yang dapat mengolah langsung sawit dengan bensin sebagai salah satu produknya.

"Yang mereka kembangkan bukan co-processing, tapi stand alon e, dari sawit menghasilkan bensin. Untuk co-processing ini kita yang pertama," paparnya.

Kelebihan lain dari co-processing ini, lanjut Dadan, masih dapat menggunakan kilang exsisting, sehingga lebih hemat dalam proses produksinya.

BACA JUGA: Indonesia dan India Gelar Diplomasi Soal Sawit

"Yang digunakan adalah kilang exsisting, hanya ditambahkan proses di tengahnya untuk menghasilkan bensin dan LPG," imbuh Dadan.

Terkait harga, Dadan mengungkapkan, bensin dari sawit ini nantinya masih akan tergantung dari harga bahan baku sawitnya.

"Ada mekanisme yang saling menguntungkan pastinya, bisa melalui intensif atau bentuk lain, karena kita tahu hingga saat ini di lapangan kita tahu kalau harga minyak goreng selalu lebih mahal dari bahan bakar," tandas Dadan.

Baca Juga

loading...