Hindari Monopoli Facebook, Pendirinya Serukan Pecah Instagram dan Whatsapp 

Dyah Ayu Pitaloka

Jumat, 10 Mei 2019 - 16:15

JATIMNET.COM, Surabaya – Facebook Inc menolak seruan dari salah satu pendirinya Chris Huges pada Kamis, untuk memecah perusahaan menjadi tiga.

Sementara, penegak hukum mendorong Departemen Hukum Amerika Serikat untuk melakukan investigasi anti monopoli pada Facebook.

“Kami adalah negara dengan tradisi mengekang dalam monopoli, bagaimanapun baiknya keinginan dari pemimpin perusahaan ini. Kekuasaan Mark Zuckerberg tidak pernah terjadi dan sangat tidak Amerika,” kata Hughes, mantan teman sekamar CEO Facebook Mark Zuckerberg, dalam opini yang ditulis untuk New York Times, dikutip dari Reuters, Jumat 10 Mei 2019.

Hughes membantu mendirikan Facebook di tahun 2004, saat di Harvard, bersama Zuckerberg dan Dustin Moskovitz. Ia meninggalkan Facebook tahun 2007, dan mengatakan telah menghasilkan setengah miliar dolar AS selama tiga tahun bekerja.

BACA JUGA: Facebook Bayar Rp 318 Miliar Setahun untuk Keamanan Zuckerberg

“Sudah 15 tahun sejak aku mendirikan Facebook di Harvard, dan saya belum bekerja di perusahaan selama satu dekade. Tapi saya merasakan kemarahan dan tanggung jawab,” kata Hughes.

Facebook kehilangan sejumlah eksekutif setelah berkutat dengan masalah skandal privasi dan disinformasi sejak 2016. Pendiri Instagram dan Whatsapp telah hengkang, termasuk juga pejabat yang memimpin Whatsapp tahun lalu.

Namun, meskipun banyak skandal terjadi, bisnis inti dari perusahaan tetap tangguh. Pendapatan Facebook telah melampaui perkiraan dalam dua kuartal terakhir, dan harga sahamnya nyaris tak bergerak pasca seruan Hughes.

Hughes menyarankan, jika Zuckerberg harus bertanggung jawab atas privasi dan pelanggaran lain di perusahaan, menggemakan seruan lain yang dilakukan oleh Senator Demokrat Ron Wyden di bulan ini, agar CEO secara individual bertanggung jawab atas “kekerasan yang berulang” atas privasi.

BACA JUGA: Parlemen Prancis Tetapkan Pajak 3 Persen untuk Raksasa Teknologi

“Pemerintah harus memegang akuntabilitas Mark. Sudah lama, penegak hukum kagum dengan ledakan pertumbuhan Facebook dan menyepelekan tanggung jawab mereka untuk menjamin jika masyarakat Amerika terlindungi dan pasar dalam kondisi bersaing,” kata Hughes.

Jaringan media sosial Facebook memiliki lebih dari dua miliar pengguna. Facebook juga memiliki Whatsapp, Messenger dan Instagram dengan masing-masing digunakan lebih dari 1 miliar akun. Facebook membeli Instagram pada 2012, dan Whatsapp pada 2014.

Facebook menolak seruan Hughes untuk memisah Instagram dan Whatsapp sebagai perusahaan sendiri, dan mengatakan jika fokusnya seharusnya pada pengaturan internet.

Zuckerberg akan berada di Paris Jumat ini untuk mendiskusikan regulasi internet dengan Presiden Emmanuel Macron.

BACA JUGA: Tulis "Kuda" di Facebook, Perempuan Inggris Ditahan di Dubai

“Facebook mengakui jika dengan kesuksesan muncul akuntabilitas. Tapi kamu tidak memaksa akuntabilitas dengan menyerukan perpecahan pada sebuah perusahaan Amerika yang sukses,” kata juru bicara Faceboook Nick Clegg dalam sebuah pernyataan.

“Akuntabilitas dari perusahaan teknologi bisa diraih melalui pengenalan yang telaten dari aturan internet yang baru. Inilah tepatnya yang sedang diserukan Mark Zuckerberg”.

Akhir Kamis, Senator Mike Crapo, Republikan yang memimpin komisi perbankan, dan Sherrod Brown politisi top Demokrat, meminta Facebook untuk menjawab pertanyaan tentang pembayaran menggunakan mata uang kripto yang potensial, menggunakan jaringan dan data sosial media milik mereka.

Surat itu juga menanyakan tentang perlindungan privasi konsumen, dan tentang kepemilikan data kelayakan berutang, dari pengguna Facebook.

BACA JUGA: Australia Siapkan Denda dan Penjara untuk Bos Media Sosial

Senator AS Richard Blumenthal, seorang Demokrat, mengatakan pada CNBC jika dia berpikir bahwa Facebook seharusnya dipecah dan bahwa divisi anti monopoli Departemen Hukum harus melakukan penyelidikan.

Undang-undang antimonopoli membuat proposal semacam itu sulit dilaksanakan, karena pemerintah harus membawa perusahaan ke pengadilan dan menang.

Baca Juga

loading...