JATIMNET.COM, Surabaya – Seorang pengusaha ternama di Surabaya sekaligus bos pengembang Pasar Turi PT Gala Bumi Perkasa Henry Jacosity Gunawan dijemput paksa oleh penyidik Mabes Polri.

Penjemputan paksa terhadap Henry pada Rabu, 8 Agustus 2018, pagi itu menjadi perhatian pengunjung dari keluarga terdakwa, jaksa dan hakim di Pengadilan Negeri Surabaya.

Dari informasi didapat, penjemputan tersebut diduga terkait kasus penipuan dan penggelapan senilai Rp 240 miliar. Pelapornya diduga dua rekannya yang menjadi kongsi untuk melakukan kerjasama dalam pengembangan dan pembangunan mega proyek Pasar Turi yang pernah terbakar.

Mereka adalah Bos PT Joyo Mashyur Teguh Kinarto dan seorang pengusaha sekaligus owner PT Siantar Top yakni Heng Hok Soei alias Asoei.

“Sudah bawa saja. Mana mobilnya, masukan ke dalam mobil,” kata salah satu penyidik dengan sambil menggandeng Henry untuk dibawa masuk ke dalam mobil penyidik Mabes Polri, Rabu, 8 Agustus 2018.

Perlu diketahui, kasus penjemputan paksa dilakukan Mabes Polri itu didasari karena memang memasuki pelimpahan tahap II, kasus dugaan penipuan dan penggelepaan dilakukan Henry.

Kebetulan, pas pelimpahan berkas oleh sudah dinyatakan sempurna atau P21 oleh penyidik jaksa, tapi Henry mendadak mengaku sakit dan harus berada di rumah sakit.

Kasus yang menjerat penjemputan paksa terhadap Henry itu sendiri diawali dari dua rekannya yang juga sama-sama pengusaha yakni Bos PT Joyo Mashyur Teguh Kinarto dan seorang pengusaha sekaligus owner PT Siantar Top yakni Heng Hok Soei alias Asoei melakukan kongsi pengerjaan dan pengembangan pembangunan mega proyek Pasar Turi.

Tapi, di tengah perjalanan keduanya tidak pernah mendapatkan informasi mengenai kelanjutan progres pembangunan. Bahkan, justru Henry meninggalkan dua investor yang selama ini menjadi teman kongsinya, Teguh Kinarto dan Heng Hok Soei. Tidak hanya itu, Henry diduga juga tidak mengembalikan modal pada kedua investornya itu, baik tunai maupun cek.

Dari situ, kedua investornya itu akhirnya membuat laporan, dan Henry dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang penipuan dan Pasal 372 tentang penggelapan.