Jumat, 11 September 2026 11:30 UTC

Ilustrasi: Tetap Aman Saat Panas. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Helm saat cuaca panas sering terasa lebih gerah, terutama ketika pengendara motor harus menghadapi perjalanan siang di tengah kemarau. Keringat, lalu lintas padat, dan paparan matahari membuat perlengkapan berkendara terasa semakin berat.
September 2026 masih relevan dengan kondisi tersebut. BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus di 300 Zona Musim atau 42,9 persen wilayah, sedangkan 178 ZOM lainnya mencapai puncak pada September dan bulan-bulan berikutnya.
Musim kemarau 2026 juga diprediksi lebih kering dari normal pada 451 ZOM atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia. Di Jawa Timur, Agustus hingga September masih menjadi periode puncak musim kemarau.
Namun, rasa gerah bukan alasan mengurangi perlindungan ketika berkendara. Risiko kecelakaan tetap ada, sementara helm memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi kewajiban lalu lintas.
Helm Melindungi Bagian Tubuh yang Sangat Rentan
Kepala merupakan salah satu bagian tubuh yang berisiko mengalami cedera serius ketika pengendara motor terjatuh atau mengalami benturan.
World Health Organization menyebut pemakaian helm berkualitas dapat menurunkan risiko kematian dalam kecelakaan lalu lintas hingga lebih dari enam kali dibandingkan berkendara tanpa helm.
Manfaatnya juga terlihat pada risiko cedera otak. WHO mencatat penggunaan helm berkualitas dapat mengurangi risiko cedera otak hingga 74 persen.
Angka tersebut menunjukkan alasan helm tetap dibutuhkan sekalipun perjalanan terasa dekat. Jarak beberapa kilometer dari rumah tidak otomatis membuat risiko di jalan menghilang.
Di Indonesia, kewajiban penggunaan helm juga sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pengendara serta penumpang sepeda motor diwajibkan mengenakan helm yang memenuhi Standar Nasional Indonesia.
Artinya, kebutuhan perlindungan tidak berubah hanya karena udara sedang panas. Yang perlu disesuaikan justru cara pengendara menjaga kenyamanan selama menggunakan perlengkapan tersebut.
Sepeda Motor Masih Mendominasi Kendaraan Indonesia
Besarnya populasi sepeda motor membuat isu keselamatan berkendara sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Badan Pusat Statistik mencatat jumlah sepeda motor di Indonesia mencapai sekitar 132,43 juta unit pada 2023. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan mobil penumpang yang berada di kisaran 18,29 juta unit.
Pada tahun yang sama, data Korlantas Polri dalam Statistik Transportasi Darat BPS mencatat 148.575 kecelakaan lalu lintas di Indonesia.
Kecelakaan tersebut menyebabkan 26.155 orang meninggal dunia. Sebanyak 12.962 orang mengalami luka berat, sementara korban luka ringan mencapai 183.890 orang.
Data itu tidak berarti setiap perjalanan motor berbahaya. Namun, tingginya mobilitas masyarakat menunjukkan perlengkapan keselamatan tidak semestinya dianggap sebagai aksesori yang hanya digunakan ketika perjalanan jauh.
Helm perlu dikenakan dengan benar sejak kendaraan mulai bergerak. Tali pengikat juga perlu terpasang sesuai fungsi agar helm tidak mudah terlepas ketika terjadi benturan.
Helm Saat Cuaca Panas Bisa Tetap Nyaman
Kenyamanan berkendara dapat dimulai sejak memilih helm. Ventilasi menjadi salah satu fitur yang patut diperhatikan oleh pengendara yang sehari-hari melewati wilayah bercuaca panas.
Lubang ventilasi membantu aliran udara melewati bagian dalam helm ketika kendaraan bergerak. Namun, fitur kenyamanan tetap perlu berjalan bersama kualitas konstruksi dan standar keselamatan.
Di Indonesia, helm yang digunakan pengendara sepeda motor harus memenuhi SNI. Karena itu, desain menarik atau harga murah sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan saat memilih perlindungan kepala.
Ukuran juga penting. Helm yang terlalu sempit dapat menimbulkan tekanan tidak nyaman, sementara ukuran terlalu longgar membuat posisinya mudah berubah.
Bagian bantalan dalam sebaiknya dirawat secara berkala karena keringat mudah terkumpul saat cuaca panas. Beberapa helm memiliki bantalan yang dapat dilepas sehingga lebih mudah dibersihkan sesuai petunjuk produsennya.
Helm yang bersih tentu tidak membuat udara luar menjadi lebih sejuk. Namun, kondisi interior yang terawat dapat membuat pemakaian harian terasa lebih nyaman.
Jangan Mengorbankan Kulit demi Mengurangi Gerah
Adaptasi terhadap panas juga berlaku pada pakaian berkendara. Pengendara terkadang tergoda menggunakan pakaian yang sangat terbuka karena dianggap lebih nyaman.
Padahal, kulit yang tidak terlindungi akan menerima paparan matahari secara langsung. Sinar ultraviolet tetap menjadi pertimbangan ketika aktivitas dilakukan di luar ruangan.
WHO menjelaskan UV Index berada pada skala yang menggambarkan tingkat radiasi ultraviolet matahari di permukaan bumi. Perlindungan terhadap matahari mulai dianjurkan ketika UV Index mencapai angka 3 atau lebih.
Pengendara dapat memilih pakaian lengan panjang berbahan lebih ringan dan nyaman, tetapi tetap memberikan perlindungan. Sarung tangan, celana panjang, serta alas kaki tertutup juga membantu melindungi tubuh selama perjalanan.
Kementerian Kesehatan RI turut menyarankan penggunaan pakaian berbahan ringan dan longgar ketika menghadapi cuaca panas. Topi bertepi lebar dan payung juga dianjurkan untuk aktivitas luar ruangan ketika kondisinya memungkinkan.
Untuk pengendara motor, tentu perlindungan tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan keselamatan berkendara. Helm tidak dapat digantikan oleh topi atau penutup kepala biasa.
Mengatur Waktu Perjalanan Membantu Mengurangi Gerah
Tidak semua orang bisa memilih waktu perjalanan. Pekerja yang harus masuk siang atau pengendara yang mencari nafkah di jalan tetap harus beraktivitas ketika matahari sedang terasa kuat.
Namun, perjalanan yang waktunya fleksibel dapat dijadwalkan dengan mempertimbangkan paparan panas. Menghindari aktivitas luar terlalu lama ketika matahari sedang terik dapat membantu tubuh menjaga kenyamanan.
Kementerian Kesehatan pernah mengingatkan masyarakat untuk menghindari kontak langsung dengan sinar matahari pada sekitar pukul 11.00 hingga 15.00 ketika menghadapi cuaca panas.
Bagi pengendara yang tetap harus berada di jalan pada periode tersebut, jeda istirahat menjadi semakin penting. Berhenti di lokasi aman dan teduh memberi kesempatan tubuh untuk menurunkan beban panas.
Air minum juga sebaiknya tersedia selama perjalanan. Kemenkes menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi air tanpa menunggu haus ketika menghadapi kondisi panas.
Pengendara tidak perlu membuktikan daya tahan dengan terus berkendara saat tubuh mulai merasa tidak nyaman. Keselamatan justru membutuhkan kemampuan mengenali kapan tubuh perlu berhenti.
Helm saat cuaca panas memang dapat menambah rasa gerah. Namun, solusi yang lebih tepat adalah memilih perlengkapan sesuai standar, menjaga kebersihannya, mengatur perjalanan, serta memastikan kebutuhan cairan tercukupi.
Cuaca boleh berubah sepanjang tahun, tetapi fungsi helm tetap sama. Perlindungan kepala sebaiknya menjadi kebiasaan setiap kali berkendara, bukan pilihan yang ditentukan oleh panasnya hari.
