Jumat, 04 September 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Jeda Sebelum Melaju. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Naik motor saat panas bukan hanya persoalan kulit terasa terbakar atau pakaian menjadi lebih cepat berkeringat. Tubuh pengendara juga harus bekerja menjaga suhu tetap stabil selama berada di jalan.
Kondisi tersebut patut diperhatikan pada awal September 2026. BMKG menyebut minimnya tutupan awan selama musim kemarau, terutama pagi hingga siang, dapat meningkatkan pemanasan permukaan dan mendorong kenaikan suhu udara maksimum.
BMKG juga mengimbau masyarakat menjaga kecukupan cairan, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Tujuannya untuk membantu mencegah dehidrasi dan kelelahan akibat kondisi panas.
Bagi pengendara motor, pesan tersebut terasa dekat dengan keseharian. Berbeda dengan pengguna mobil, tubuh pengendara lebih banyak berhadapan langsung dengan kondisi lingkungan sepanjang perjalanan.
Naik Motor Saat Panas Membuat Tubuh Bekerja Lebih Keras
Tubuh manusia menggunakan keringat sebagai salah satu mekanisme untuk melepaskan panas. Ketika keringat menguap dari kulit, proses tersebut membantu tubuh mempertahankan suhu yang lebih stabil.
NIOSH mencatat manusia rata-rata memiliki sekitar 2,6 juta kelenjar keringat. Bersamaan dengan keluarnya keringat, tubuh kehilangan air serta elektrolit seperti natrium, klorida, dan kalium.
Bagi pengendara motor, kehilangan cairan kadang kurang terasa karena tubuh terus terkena aliran udara. Keringat dapat menguap sehingga sensasi basah pada kulit tidak selalu menjadi patokan kebutuhan cairan.
Rasa haus juga sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya alarm. CDC menyarankan orang yang beraktivitas saat cuaca panas untuk minum air sebelum merasa haus.
Kebiasaan membawa air minum karena itu cukup berguna, terutama untuk perjalanan panjang. Minuman dapat dikonsumsi ketika berhenti di lokasi yang aman, bukan sambil mengendarai motor.
Kebutuhan Cairan Tidak Selalu Sama untuk Semua Orang
Tidak ada satu angka kebutuhan air yang otomatis tepat bagi setiap pengendara. Durasi perjalanan, aktivitas fisik, suhu, kondisi kesehatan, dan banyaknya keringat dapat memengaruhi kebutuhan masing-masing orang.
Namun, angka dari lembaga kesehatan dapat memberi gambaran saat tubuh bekerja dalam kondisi panas. NIOSH merekomendasikan sekitar satu cangkir atau 8 ons air setiap 15–20 menit untuk aktivitas sedang dalam kondisi panas yang berlangsung kurang dari dua jam. Jumlah tersebut setara sekitar 240 mililiter setiap kali minum.
Jika dihitung dalam satu jam, jumlahnya sekitar 710–950 mililiter. Rekomendasi tersebut ditujukan untuk aktivitas kerja dalam panas, bukan sebagai target wajib bagi setiap orang yang sedang naik motor.
NIOSH juga mengingatkan asupan cairan umumnya tidak boleh berlebihan. Dalam panduan hidrasi kerja, batas yang disebutkan adalah tidak lebih dari enam cangkir dalam satu jam.
Artinya, prinsip yang lebih masuk akal adalah menjaga hidrasi secara bertahap. Tidak perlu menunggu sangat haus kemudian menenggak air dalam jumlah besar sekaligus.
Orang dengan kondisi kesehatan tertentu atau pembatasan cairan dari dokter tentu membutuhkan aturan berbeda. Anjuran medis pribadi tetap menjadi rujukan utama.
Minuman Manis Bukan Selalu Teman Terbaik di Jalan
Berhenti di minimarket atau warung ketika cuaca panas sering berakhir dengan pilihan minuman yang sangat dingin dan manis. Sensasinya memang menyegarkan setelah berkendara.
Namun, minuman manis tidak harus menjadi pilihan utama setiap kali tubuh terasa gerah. CDC menyarankan untuk mempertimbangkan pembatasan minuman tinggi gula, natrium, kafein, dan alkohol saat menjaga hidrasi pada hari panas.
Air putih umumnya sudah cukup untuk membantu hidrasi sehari-hari. NIOSH juga menyebut air biasanya memadai untuk hidrasi, terutama ketika paparan panas tidak berlangsung sangat lama.
Situasinya dapat berbeda pada aktivitas berat dengan keringat berlangsung selama beberapa jam. Dalam kondisi tersebut, NIOSH menyebut minuman dengan elektrolit seimbang dapat dipertimbangkan.
Bagi pengendara harian, membawa botol air sendiri bisa menjadi kebiasaan sederhana. Selain mudah dijangkau saat berhenti, jumlah air yang diminum juga lebih mudah dipantau.
Pusing dan Lemah Jangan Dipaksakan untuk Melaju
Target tiba tepat waktu sering membuat pengendara mengabaikan sinyal tubuh. Padahal, rasa tidak nyaman saat cuaca panas tidak selalu cukup diselesaikan dengan mempercepat perjalanan.
CDC mencantumkan beberapa gejala tubuh terlalu panas, termasuk kram otot, keringat berlebihan, sesak napas, pusing, sakit kepala, lemah, dan mual.
Pada pengendara motor, pusing atau lemah menjadi masalah karena aktivitas berkendara membutuhkan keseimbangan, koordinasi, perhatian, dan kemampuan merespons situasi jalan.
CDC memberikan arahan sederhana bagi orang yang merasa lemah atau hampir pingsan saat beraktivitas dalam panas: hentikan aktivitas dan pindah ke tempat yang lebih sejuk.
Untuk pengendara, artinya cari tempat berhenti yang aman terlebih dahulu. Jangan berhenti mendadak di badan jalan hanya karena tubuh mulai terasa tidak nyaman.
Jika muncul kebingungan, kehilangan kesadaran, atau kondisi memburuk, situasinya memerlukan pertolongan medis segera. Gejala akibat panas tidak sebaiknya dianggap sekadar kelelahan biasa.
September Membutuhkan Perjalanan yang Lebih Adaptif
Cuaca awal September tahun ini membuat kebiasaan tersebut semakin relevan. BMKG menyatakan awal September masih didominasi cuaca panas dan kering, meski peluang hujan lokal tetap ada di sejumlah wilayah.
Pada periode 4–7 September, cuaca Indonesia secara umum diprakirakan berkisar cerah berawan hingga hujan sedang. Jawa Timur juga termasuk wilayah dengan potensi angin kencang dalam periode tersebut.
Kondisi ini mengingatkan bahwa pengendara motor perlu menghadapi lebih dari satu karakter cuaca. Matahari dapat terasa terik pada satu waktu, sementara angin atau perubahan cuaca muncul kemudian.
Perlengkapan berkendara tetap perlu digunakan dengan benar. Untuk aktivitas panas secara umum, CDC menyarankan pakaian longgar, ringan, dan berwarna terang bila kondisi pekerjaan memungkinkan.
Pada sepeda motor, pilihan pakaian tentu harus tetap mempertimbangkan perlindungan keselamatan berkendara. Kenyamanan terhadap panas tidak seharusnya membuat perlindungan tubuh diabaikan.
Mengatur waktu perjalanan juga dapat membantu. Jika jadwal fleksibel, mengurangi aktivitas luar pada periode tengah hari dapat menekan paparan panas. CDC memberikan anjuran serupa bagi aktivitas fisik dan pekerjaan luar ruangan.
Pada akhirnya, naik motor saat panas membutuhkan perhatian bukan hanya terhadap mesin dan kondisi jalan, tetapi juga kondisi pengendaranya.
Membawa air, minum secara bertahap, mengenali tanda tubuh terlalu panas, serta mengambil jeda ketika diperlukan merupakan kebiasaan sederhana. Perjalanan beberapa kilometer pun terasa berbeda ketika tubuh sudah lelah dan kekurangan cairan.
Motor mungkin masih sanggup terus melaju, tetapi tubuh memiliki batas. Menjaga kondisi saat naik motor saat panas membantu perjalanan tetap nyaman sekaligus membuat pengendara lebih siap menghadapi situasi di jalan.
