Jumat, 04 September 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Cek Ban Sebelum Jalan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Cuaca panas membuat kondisi kendaraan layak mendapat perhatian lebih, termasuk bagian yang setiap hari bersentuhan langsung dengan jalan. Tekanan ban mobil menjadi salah satu hal sederhana yang sering baru diperiksa ketika ban terlihat kempis.
Padahal, melihat bentuk ban saja tidak cukup. National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) Amerika Serikat menyebut kondisi kurang tekanan pada ban radial umumnya sulit dikenali hanya melalui pemeriksaan visual.
Perhatian ini relevan pada awal September 2026. BMKG menyebut sekitar 80 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau pada akhir Agustus. Kondisi kering juga masih mendominasi banyak wilayah memasuki September.
Bagi pemilik kendaraan, musim panas bukan alasan untuk sembarang mengurangi atau menambah angin ban. Tekanan yang tepat tetap harus mengikuti rekomendasi pabrikan kendaraan.
Tekanan Ban Mobil Berubah Setelah Berkendara
Ban bukan komponen yang berada dalam kondisi statis sepanjang perjalanan. Ketika mobil bergerak, ban mengalami deformasi berulang dan suhunya meningkat.
Udara di dalam ban ikut menghangat. Akibatnya, angka tekanan yang terbaca setelah berkendara dapat lebih tinggi dibandingkan ketika ban masih dingin.
Inilah alasan waktu pemeriksaan menjadi penting. NHTSA merekomendasikan tekanan ban diperiksa ketika ban dalam kondisi dingin, yakni kendaraan belum digunakan setidaknya selama tiga jam.
Artinya, pagi hari sebelum mobil digunakan bisa menjadi kesempatan praktis untuk melakukan pemeriksaan. Pengendara juga tidak perlu menunggu perjalanan jauh atau jadwal servis berikutnya.
Kebiasaan mengurangi angin hanya karena tekanan terlihat meningkat setelah perjalanan juga perlu dihindari. Tekanan yang lebih tinggi pada ban hangat merupakan kondisi yang dapat terjadi setelah kendaraan berjalan.
Patokan Tekanan Bukan Angka di Dinding Ban
Ada kekeliruan sederhana yang masih mudah terjadi. Pengemudi melihat tulisan tekanan pada sisi ban lalu menganggap angka tersebut sebagai tekanan ideal kendaraan.
Padahal, acuan tekanan yang tepat berasal dari produsen kendaraan. NHTSA menjelaskan informasi tersebut biasanya tercantum pada label di sisi pintu pengemudi, pilar pintu, atau buku manual.
Angka rekomendasi juga bisa berbeda antara roda depan dan belakang. Karena itu, satu angka tidak selalu dapat diterapkan pada semua kendaraan.
Menggunakan alat pengukur tekanan membuat pemeriksaan jauh lebih jelas dibandingkan menekan permukaan ban dengan tangan. Bentuk ban modern dapat tetap terlihat normal meski tekanannya kurang.
NHTSA bahkan menyarankan pemeriksaan seluruh ban, termasuk ban cadangan, setidaknya sekali setiap bulan dalam kondisi dingin.
Rutinitas bulanan tersebut hanya membutuhkan beberapa menit.
Namun, kebiasaan kecil ini membantu pengemudi mengetahui perubahan tekanan sebelum masalah terasa ketika kendaraan sudah berada di jalan.
Ban Kurang Angin Bukan Solusi untuk Jalan Panas
Aspal yang terasa panas sering menimbulkan anggapan bahwa tekanan ban sebaiknya dibuat lebih rendah. Tujuannya biasanya agar ban memiliki ruang ketika suhu meningkat.
Logika tersebut terdengar masuk akal, tetapi dapat menyesatkan. Mengurangi tekanan di bawah rekomendasi justru membuat kendaraan berjalan dengan ban yang kurang angin.
NHTSA menegaskan tekanan ban yang tepat berpengaruh terhadap keselamatan, daya tahan ban, dan konsumsi bahan bakar. Ban dengan tekanan sesuai juga dapat memperpanjang umur rata-rata ban hingga sekitar 4.700 mil atau sekitar 7.560 kilometer.
Karena itu, cuaca panas tidak mengubah patokan utama. Pengendara tetap perlu mengikuti tekanan dingin yang direkomendasikan produsen kendaraan.
Yang perlu dibedakan adalah kondisi ban saat pengukuran. Membaca tekanan setelah perjalanan siang yang panjang tentu berbeda dengan mengukurnya sebelum mobil digunakan pada pagi hari.
Kondisi Fisik Ban Tetap Perlu Dilihat
Tekanan udara bukan satu-satunya indikator kesehatan ban. Pemeriksaan sederhana juga dapat diarahkan pada tapak dan bagian samping ban.
Cari kemungkinan retak, benjolan, benda tajam, atau pola keausan yang tidak merata. Perubahan semacam itu sebaiknya tidak diabaikan hanya karena tekanan udara masih terlihat normal.
NHTSA menyarankan pengendara meluangkan sekitar lima menit untuk melihat tanda keausan berlebihan atau tidak merata. Lembaga tersebut menggunakan kedalaman tapak 2/32 inci, sekitar 1,6 milimeter, sebagai batas penggantian ban dalam panduan keselamatannya.
Ban cadangan juga jangan dilupakan. Komponen ini mungkin berbulan-bulan tidak digunakan, tetapi justru dibutuhkan ketika kondisi darurat muncul.
Tekanan ban juga dapat berkurang secara alami seiring waktu. Benturan dengan lubang atau trotoar ketika parkir bahkan dapat menyebabkan kehilangan tekanan secara tiba-tiba.
Karena itu, pemeriksaan visual dan pengukuran tekanan sebaiknya berjalan bersama. Keduanya memiliki fungsi berbeda dalam membantu mengenali kondisi ban.
Kemarau Membuat Pemeriksaan Kendaraan Makin Relevan
Awal September tahun ini masih berada dalam periode cuaca relatif kering di banyak wilayah Indonesia. BMKG memperkirakan curah hujan rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian, masih mendominasi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, serta sejumlah wilayah lainnya.
BMKG juga menjelaskan minimnya tutupan awan selama musim kemarau, terutama pagi hingga siang, dapat meningkatkan pemanasan permukaan dan mendorong kenaikan suhu udara maksimum.
Untuk 4 September 2026, Jawa Timur juga termasuk wilayah dengan potensi angin kencang dalam informasi cuaca ekstrem BMKG. Kondisi perjalanan karena itu tetap perlu disesuaikan dengan cuaca setempat, bukan hanya panas matahari.
Pengendara tidak perlu menjadi ahli otomotif untuk mulai lebih peduli. Menyimpan alat ukur tekanan sederhana di kendaraan dan menjadwalkan pemeriksaan rutin sudah menjadi langkah yang masuk akal.
Sebelum perjalanan jauh, perhatian bisa ditambah dengan mengecek kondisi tapak, ban cadangan, serta tekanan sesuai rekomendasi kendaraan.
Cuaca panas memang tidak otomatis membuat ban bermasalah. Namun, perjalanan sehari-hari tetap menghasilkan panas, gesekan, dan perubahan kondisi yang membuat pemeriksaan berkala penting.
Pada akhirnya, menjaga tekanan ban mobil bukan sekadar urusan kenyamanan berkendara. Kebiasaan sederhana ini membantu menjaga keselamatan, daya tahan ban, dan kesiapan kendaraan menghadapi perjalanan selama musim kemarau.
