Kamis, 19 March 2026 05:00 UTC

Ilustrasi Idulfitri 1447 Hijriah. Foto: Freepik.com
JATIMNET.COM – Penetapan 1 Syawal 1447 Hijiriah atau Hari Raya Idulfitri berpotensi berbeda. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah memastikan momentum yang biasa disebut Lebaran ini jatuh pada Kamis, 20 Maret 2026.
Sementara, Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) masih menunggu hasil sidang isbat yang bakal digelar Kamis malam, 19 Maret 2026.
Mengapa lebaran bisa Berbeda? Ini penjelasan metode Muhammadiyah dan pemerintah
Ketua Divisi Hisab dan Iptek Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Oman Fathurohman menjelaskan bahwa perbedaan penentuan awal Syawal bukan sekadar perbedaan pendapat. Namun, hasil dari pendekatan metode yang berbeda.
Muhammadiyah, katanya, telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis metode hisab atau perhitungan astronomi.
Dengan metode ini, penentuan tanggal dapat diketahui jauh hari sebelumnya. “Hisab memberi kepastian, sehingga umat bisa mempersiapkan lebih awal,” jelas Oman dalam podcast Jejak Ulama Tarjih di Tarjih Channel, Selasa, 17 Maret 2026.
BACA: Puncak Arus Mudik di Wilayah KAI Daop 7 Madiun Berlangsung Kemarin
Di sisi lain, pemerintah melalui Kemenag menggunakan pendekatan rukyat yang dipadukan dengan kriteria astronomi MABIMS.
Dalam kriteria tersebut, hilal dinyatakan memenuhi syarat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Berdasarkan data astronomi, posisi hilal pada Kamis malam, 19 Maret 2026di Indonesia diperkirakan belum memenuhi kriteria tersebut. Artinya, peluang pemerintah menetapkan 1 Syawal pada Sabtu, 21 Maret 2026, cukup besar.
Perbedaan ini pun menjadi sesuatu yang hampir tak terhindarkan. Muhammadiyah berpotensi berlebaran lebih dulu pada Jumat, sementara pemerintah sehari setelahnya.
Oman menegaskan, dalam praktiknya laporan rukyat juga tidak langsung diterima begitu saja. Ada proses verifikasi ketat menggunakan kriteria yang telah ditetapkan. “Laporan terlihatnya hilal bisa saja ditolak jika tidak sesuai dengan kriteria,” ujarnya.
BACA: Pondok Modern Darussalam Gontor Berlebaran Besok
Menurutnya, baik hisab maupun rukyat memiliki posisi masing-masing. Hisab menawarkan kepastian berbasis perhitungan, sementara rukyat menekankan observasi langsung yang dipengaruhi kondisi lapangan.
Oleh itu, ia menilai perbedaan bukanlah hal yang perlu dipertentangkan. Justru hal tersebut merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam.
“Ini bukan konflik, tapi perbedaan metode. Yang penting disikapi dengan bijak,” tegasnya.
Di tengah potensi perbedaan tersebut, Oman mengajak masyarakat untuk lebih memahami latar belakang ilmiah dan keagamaan di balik setiap keputusan, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan yang muncul.
