JATIMNET.COM, Surabaya – Jatuhnya harga perhiasan permata memberi dampak pada nilai ekspor Jawa Timur pada Maret 2019. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, nilai ekspor emas perhiasan terkoreksi 23,77 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Teguh Pramono mengatakan, dari sepuluh komoditi ekspor non migas, perhiasan permata menjadi satu-satunya yang turun pada Maret 2019.

“Sepanjang Maret kemarin nilai ekspor perhiasan tercapai 315,30 juta dolar Amerika Serikat atau turun 23,77 persen dibandingkan dengan periode Februari yang mencapai 413,64 juta dolar AS,” ujar Teguh saat memberikan keterangan pers di kantor BPS Jawa Timur, Senin 15 April 2019.

Turunnya ekspor perhiasan permata disebabkan faktor harga dunia yang merosot dari 2.924,12 dolar AS per kilogram menjadi 1.770 dolar AS per kilogramnya. Sedangkan dari sisi volume ekspor tetap naik. Padahal volume ekspor perhiasan permata tetap naik dari 141.158 kilogram menjadi 178.041 kilogram.

BACA JUGA: BPS: Tidak Ada Provinsi dengan IPM Rendah

BPS Jawa Timur mencatat, lonjakan harga terjadi pada scrap emas. Meski jenis perhiasan permata lain naik, apabila harga sektor ini turun, sangat berpengaruh pada nilai ekspor.

“Bisa jadi yang bentuk perhiasan bertambah, tapi karena harga scrap emas lebih banyak, sehingga harga rata-ratanya menjadi turun,” tuturnya.

Kendati andalan ekspor Jawa Timur menurun, Teguh menuturkan, secara keseluruhan kinerja ekspor Jatim meningkat 7,08 persen selama Maret dibanding Februari. Total ekspor Jatim sepanjang Maret mencapai 1,810 milliar dolar AS.

Ekspor ini didukung sektor non migas yang naik 8,06 persen, dan ekspor migas turun cukup lebar atau 11,43 persen. Dengan angka tersebut, neraca perdagangan selama Maret surplus 34,02 juta dolar AS. "Impor kita total 1,772 milliar dolar AS bulan lalu," katanya.

BACA JUGA: Pengamat Nilai Penurunan Penumpang Pesawat tidak Mutlak Faktor Tiket

Surplusnya neraca perdagangan Maret lalu, didorong sembilan kelompok ekspor lainnya yang naik cukup lumayan. Lemak dan minyak nabati misalnya, naik 14,34 persen, kemudian tembaga naik 54,75 persen.

Begitu juga dengan ekspor berbagai produk kimia juga tumbuh 38,85 persen, daging dan Ikan olahan naik 22,49 persen.

“Perhiasan meski turun cukup besar, tapi berkontribusi 18,22 persen dari ekspor Jatim. Sementara lain, lemak hanya 7 persen, temabaga hanya 6 persen,” tandasnya.