Dampak Sisa Panen 2018 dan Impor Garam

Harga Garam Terjun Bebas Hingga Rp500 per Kilogram

Baehaqi Almutoif

Selasa, 16 Juli 2019 - 11:38

JATIMNET.COM, Surabaya – Anjloknya harga garam di tingkat produsen membuat petani resah lantaranya garamnya hanya dibanderol Rp 500 per kilogram. Petani berharap harga garam bisa kembali normal di kisaran Rp 900 sampai Rp 1.200 per kilogram.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur Drajat Irawan mengaku beberapa upaya telah dilakukan untuk menormalkan harga garam.

“Sebelumnya sudah difasilitasi Polda Jatim pada 3 Juli 2019 kemarin, yakni dengan menggelar pertemuan antara petani dan pabrikan. Inti dari pertemuan itu bagaimana caranya agar garam petani bisa masuk ke pabrik,” kata Drajat, Senin 15 Juli 2019.

BACA JUGA: BEM Desak Pemerintah Hentikan Impor Garam

Drajat menambahkan, tidak terserapnya garam terkait masalah klasik. Belum terpenuhinya kualitas sesuai permintaan pelaku industri. Karena itu pengusaha meminta kepada petani agar meningkatkan kualitas garam. Tujuannya agar produksi mereka bisa masuk industri.

“Penguasaha garam meminta agar sesuai spek (spesifikasi) yang diinginkan. Baik dari sisi kalsium, magnesium maupun kadar garamnya. Dan itu sudah disepakati di Polda awal bulan ini,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur Gunawan Saleh mengatakan, anjloknya harga diduga adanya impor dan permainan para tengkulak.

BACA JUGA: Petani Garam Probolinggo Tolak Impor Garam Saat Panen Raya

“Impornya banyak dan garam rakyat tidak terserap. Petani mengusulkan agar jangan impor dulu karena stok garam masih tersisa,” kata Gunawan.

Stok garam di Jawa Timur sisa panen tahun 2018 lalu masih 900 ton. Jumlah itu bertambah mengingat Agustus akan masuk masa panen garam yang diperkirakan menambah pasokan seribu ton garam.

Pihaknya mengaku saat ini tengah mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk menghentikan sementara impor garam. Dengan begitu diharapkan dapat menaikkan harga garam petani lokal di Jatim. “

“Padahal ketika kita cek ke pabrik harga bagus. Karena saat ini harga jatuh di tengkulak,” tandasnya.

Baca Juga

loading...