Minggu, 20 September 2026 11:30 UTC

Hanung Bramantyo mengungkap pendekatan teror dan plot twist dalam film Lobang Buaya. Foto: Adi
JATIMNET.COM, Jember – Hanung Bramantyo menyebut “Lobang Buaya 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah” sebagai film drama misteri investigasi. Ia menggunakan teror dan ketegangan untuk membawa penonton mengikuti konflik dalam cerita.
Hanung menjelaskan konsep tersebut saat menghadiri roadshow dan pemutaran spesial film di Bioskop KCM Jember, Minggu, 20 September 2026.
Menurutnya, unsur horor dalam film tidak selalu harus diwujudkan melalui kehadiran hantu. Teror dapat dibangun melalui berbagai situasi yang sengaja menciptakan ketakutan bagi penonton.
"Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun," jelasnya.
Pendekatan tersebut membuat Hanung memilih format drama misteri investigasi untuk film yang mengambil latar menjelang tragedi 1965 tersebut.
Ia juga menyisipkan sejumlah kejutan dalam alur cerita. Hanung mengungkapkan bahwa film tersebut memiliki beberapa plot twist yang dirancang untuk menjaga ketegangan hingga cerita berkembang.
Dalam membangun pola tersebut, Hanung mengaku mempelajari gaya penceritaan film Korea. Ia tertarik dengan cara film-film dari negara tersebut menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam satu rangkaian cerita.
Pendekatan misteri dan investigasi menjadi cara Hanung membungkus persoalan yang lebih luas di dalam film. Selain latar sejarah 1965, ia memasukkan konflik sosial sebagai bagian dari cerita.
Konsep tersebut sekaligus menjadi cara Hanung menjangkau penonton yang mungkin tidak terbiasa menyaksikan film berlatar sejarah. Ia memadukan persoalan masa lalu dengan unsur ketegangan yang lebih dekat dengan karakter film genre.
Film Lobang Buaya 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026.
Jadwal tersebut berdekatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Namun, Hanung membangun filmnya tidak semata-mata sebagai rekonstruksi peristiwa sejarah, melainkan sebagai cerita drama misteri yang memadukan sejarah dan persoalan sosial.
