Logo

Jazz Hip Hop Hangatkan Lereng Bromo di Tengah Suhu 12 Derajat Celsius

Reporter:,Editor:

Minggu, 26 July 2026 00:00 UTC

Jazz Hip Hop Hangatkan Lereng Bromo di Tengah Suhu 12 Derajat Celsius

Penampilan Indra Lesmana dan kawan-kawan mampu menghangatkan penonton dalam event Jazz Gunung Bromo 2026, Sabtu malam, Foto/Zulafif.

JATIMNET.COM, Probolinggo – Udara dingin dengan suhu mencapai 12 derajat Celsius di lereng Gunung Bromo tak menyurutkan antusiasme penonton pada malam penutupan Jazz Gunung Bromo 2026, Sabtu, 25 Juli 2026.

Justru sebaliknya, kolaborasi jazz hip hop yang dibawakan Indra Lesmana bersama Eva Celia dan Teza Sumendra sukses membakar semangat ribuan penikmat musik yang memadati Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Festival musik yang digelar di kawasan pegunungan pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut itu menghadirkan beragam warna musik jazz.

Sejak awal pertunjukan, penonton disuguhi alunan jazz kontemporer dari Simone Prattico Java Collective bersama Sri Hanuraga dan Kevin Yosua. Musik yang dibawakan menghadirkan nuansa hangat di tengah hawa dingin Bromo.

Suasana kemudian semakin semarak saat grup musik asal Prancis, Watchdog, tampil dengan permainan keyboard dan saxophone yang memikat.

Aksi improvisasi keduanya mendapat sambutan meriah dari para penonton yang terus memenuhi area amfiteater hingga malam.

Puncak pertunjukan terjadi saat Indra Lesmana, Eva Celia, dan Teza Sumendra naik ke atas panggung.

Perpaduan musik jazz dengan sentuhan hip hop menghadirkan energi baru yang membuat penonton. Tak hanya menikmati pertunjukan, penonton juga ikut bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama musik.

Lagu Ekspresi menjadi salah satu penampilan yang paling dinanti. Ribuan penonton kompak menyanyikan lirik lagu tersebut sambil bertepuk tangan, menciptakan suasana hangat yang seolah mengalahkan dinginnya malam di kawasan Bromo.

Salah seorang penonton, Khalik, menyatakan selalu menyempatkan diri datang ke Jazz Gunung Bromo setiap tahun. Menurutnya, suasana festival yang berpadu dengan panorama pegunungan menjadi pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

"Dingin-dingin suhunya malam ini, namun excited banget. Meski setiap tahun selalu melihat, namun tahun depan pingin melihat lagi," kata Khalik.

Pengunjung lainnya, Faisal, menilai penampilan para musisi tahun ini menghadirkan nuansa yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Ini pengalaman yang menarik bagi saya. Meski kondisi dingin, namun saat melihat suguhan musik Jazz Gunung kaki saya rasanya enggak mau diam. Ada nuansa jazz yang terdengar cukup metal, jadi tahun depan harus nonton lagi," ujar Faisal.

Jazz Gunung Bromo 2026 berlangsung selama dua hari, mulai 24 hingga 25 Juli 2026. Selain menjadi ruang ekspresi bagi para musisi jazz nasional maupun internasional, festival tahunan ini juga menjadi sarana promosi pariwisata Bromo.

Festival tersebut juga menggerakkan sektor ekonomi masyarakat sekitar sekaligus memperkuat perpaduan seni musik dengan keindahan alam pegunungan.