Logo
Peluncuran Film “Lobang Buaya 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah”

Hanung Bramantyo Ajak Generasi Muda Tak Lupakan Sejarah 1965

Reporter:

Minggu, 20 September 2026 10:00 UTC

Hanung Bramantyo Ajak Generasi Muda Tak Lupakan Sejarah 1965

Hanung Bramantyo mengajak generasi muda tidak melupakan sejarah 1965 melalui film Lobang Buaya. Foto: Adi

JATIMNET.COM, Jember – Sineas Hanung Bramantyo ingin film Lobang Buaya 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah menjadi pintu bagi generasi muda untuk kembali melihat sejarah 1965.

Hanung menilai masyarakat perlu memahami berbagai peristiwa pada masa tersebut secara lebih luas. Menurutnya, rangkaian konflik dan kekerasan pada 1965 tidak hanya berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di Lubang Buaya.

Ia menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri roadshow dan pemutaran spesial film di Bioskop KCM Jember, Minggu, 20 September 2026.

"Saya kepengin bilang bahwa jangan sampai kalian melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965 yang itu terjadi di banyak tempat, khususnya di daerah Jawa Timur," tuturnya.

Hanung secara khusus menyoroti Jawa Timur sebagai salah satu wilayah yang menurutnya memiliki kaitan dengan berbagai peristiwa pada periode tersebut. Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk tidak membatasi pembacaan sejarah 1965 pada satu lokasi atau satu narasi.

Menurut dia, masyarakat perlu mempelajari berbagai sumber sejarah untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai peristiwa masa lalu.

Film tersebut menggunakan peristiwa 1965 sebagai salah satu pijakan cerita. Namun, Hanung tidak hanya menempatkan sejarah sebagai latar, melainkan memadukannya dengan konflik sosial dan persoalan masyarakat dalam alur film.

"Menurut saya, pendekatan semacam itu penting untuk menjembatani cerita sejarah dengan penonton muda. Terlebih, film yang mengangkat sejarah menghadapi tantangan tersendiri untuk menarik perhatian dibandingkan cerita yang dekat dengan kehidupan anak muda atau genre populer," ujar suami artis Zaskia Adya Mecca ini.

Karena itu, Hanung menggunakan unsur misteri dan ketegangan dalam menyampaikan cerita. Pendekatan tersebut diharapkan membuat penonton tertarik mengikuti kisah yang berangkat dari persoalan sejarah.

Hanung juga menyampaikan pandangannya agar tragedi masa lalu tidak terus dijadikan komoditas politik. Menurutnya, masyarakat membutuhkan literasi sejarah agar dapat memahami peristiwa tersebut secara lebih utuh.

Ia berharap film yang mengambil pijakan dari periode 1965 dapat menjadi salah satu medium untuk membuka kembali pembicaraan mengenai sejarah, terutama di kalangan penonton muda.

Di sisi lain, Hanung tidak hanya membawa isu sejarah ke dalam film. Ia juga memasukkan kritik sosial melalui penggambaran kelompok Tujuh Setan Desa, termasuk relasi antara korporasi, birokrasi, korupsi, dan persoalan pinjaman.