Gurihnya Rengginang Syafrida hingga Penjuru Nusantara

Khoirotul Lathifiyah
Khoirotul Lathifiyah

Senin, 18 Februari 2019 - 09:45

JATIMNET.COM, Surabaya – Rumah di Jalan Manyar Sabrangan 79 terlihat sibuk. Seperti biasanya, enam orang terlihat membungkus rengginang baik di plastik maupun di kardus.

Keenamnya tampak serius mengemas rengginang lantaran diburu waktu. Mereka adalah pegawai dari rengginang Syafrida. Rumah produksi rengginang buatan Nur Fadila (66) yang sudah dikenal hingga penjuru negeri.

Nur Fadila, warga Ngagel Surabaya itu turut ambil bagian dalam penataan bungkus rengginang. Sesekali dia memberi isntruksi agar menata dengan dengan hati-hati agar tidak rusak. Maklum renggingang mudah pecah jika tidak ditata dengan baik.

Kepada Jatimnet, Nur Fadila menjelaskan jika usahanya sudah dirintis sejak tahun 1991. Kala itu dia menyaksikan orang tuanya membuat rengginang di rumah.

BACA JUGA: Mahasiswa ITS Sulap Ampas Tebu Cegah Bahaya Mercuri

“Waktu itu saya masih SMA. Karena ibu saya selalu membuat rengginang, saya bertekad memasarkannya. Dan saya berhasil menjadikan rengginang sebagai oleh-oleh khas Surabaya,” kata Fadila saat dijumpai di Rumah Produksi Jl Ngagel Surabaya, Rabu 13 Februari 2019.

Pelan-pelan rengginang produksinya mulai masuk ke toko. Awalnya juga toko-toko kecil. Lambat laun, produksinya mulai diperhitungkan dengan memasuki toko besar, minimarket hingga supermarket sampai mall.

Karena banyak peminat rengginang Syafrida, Ia memutuskan mendirikan toko pusat yang berada jalan Ngagel Surabaya. Semakin lama dan semakin dikenal, rengginang-nya pun menjalar ke berbagai pasar modern di luar kota.

Bahkan rengginang produksinya sudah mencapai luar pulau hingga statusnya menjadi produk nasional. Hasil jerih payahnya berbuah manis, lantaran saat ini ia telah memiliki enam belas pegawai, yang mayoritas berasal dari luar Surabaya.

“Saya dulu jatuh bangun dan sampai sekarang mengelola sendiri. Karena, mulai dulu saya membangun, tidak ada namanya fasilitas seperti sekarang. Saya harus mandiri dan syukur bisa sampai sekarang,” kata Syafrida.

Ibu dari tiga anak ini enggan bercerita soal omzet. Masalahnya dia memiliki prinsip yang sederhana dalam berbisnis. Tidak perlu muluk-muluk memburu target, yang penting cukup untuk memenuhi nafkah keluarga. Terbukti ketika suaminya meninggal, ia sanggup mengelola bersama ketiga anaknya.

“Yang penting penghasilan cukup untuk biaya hidup dan bisa menyejahterakan karyawan. Saya juga orang kecil, makanya saya tidak bisa muluk-muluk,” ucapnya.

BACA JUGA: Mahasiswa Stikom Ciptakan Si Dekan, Detektor Kantuk Pengemudi Mobil

Sebetulnya Fadila pernah menggeluti usaha lain, yakni jualan kacang mete. Namun usaha itu tidak bertahan lama. "Mungkin belum rezekinya," tegasnya. Namun setelah menggeluti rengginang hampir 27 tahun, dia baru merasakan dalam sepuluh tahun terakhir. 

Selain memasarkan produk, lanjut Fadila, dirinya pernah mengikuti pelatihan dan pameran yang diadakan Pemerintah Kota Surabaya. Dari situlah, nama rengginangnya melejit hingga luar pulau. Alhasil, berkat kerja kerasnya kini ia telah memasarkan produknya dari di seluruh supermarket dari Sabang sampai Marauke.

Karena pasar yang sudah cukup luas, Fadila mengaku pernah kesulitan dalam hal Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang maksimal. Selain itu masalah ketidaktersediaa bahan baku rengginang.

Fadila menceritakan bahwa kendala-kendala tersebut bagian dari bisnis. Dia selalu percaya setsiap kendala ada jalan keluar. Filosofi bisnis itu kerap dia jalani sepanjang menggeluti bisnis rengginang.

Baca Juga

loading...