Minggu, 23 August 2026 02:00 UTC

: Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor sekaligus Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Foto: Dok/UNIDA Gontor
JATIMNET.COM, Ponorogo – Sistem pendidikan pesantren dinilai memiliki konsep pembentukan manusia secara utuh yang semakin relevan dengan tantangan pendidikan modern. Model tersebut akan dibahas dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta.
Simposium internasional bertema Exploring and Revealing the Pesantren Education System itu digelar 5–6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta. Forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor sekaligus Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kemampuan akademik.
Kemampuan berpikir, karakter, kepemimpinan, ketahanan diri, hingga empati dinilai menjadi bagian penting dalam membentuk peserta didik agar mampu menghadapi perubahan zaman.
“Pendidikan saat ini berada di persimpangan jalan. Tantangan masa depan seperti kemampuan berpikir analitis, resiliensi, kepemimpinan, dan empati adalah kompetensi non-teknis yang berakar pada pendidikan karakter,” kata Hamid dalam keterangan pers, Minggu, 23 Agustus 2026.
Menurutnya, pesantren memiliki pengalaman panjang dalam menggabungkan pendidikan intelektual, karakter, dan spiritualitas. Proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari para santri.
Ia menyebut pola tersebut sebagai School of Life atau sekolah kehidupan. Santri dibentuk melalui kedisiplinan, organisasi, kepemimpinan, kegiatan sosial, hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Di pesantren, santri dididik melalui disiplin 24 jam, organisasi, kepemimpinan, hingga pengabdian masyarakat,” ujarnya.
Pengalaman tersebut, lanjut Hamid, menjadi salah satu alasan sistem pendidikan pesantren perlu dikaji dalam forum internasional.
Praktik yang selama ini berkembang di pesantren Indonesia dinilai dapat memberikan perspektif bagi dunia pendidikan yang kini banyak membahas pendidikan karakter dan kesejahteraan peserta didik.
GIHES 2026 akan mempertemukan akademisi dan pakar pendidikan dari sejumlah negara, antara lain Turki, India, Malaysia, dan Jepang. Salah satu pembahasan akan membandingkan konsep Tokkatsu di Jepang dengan sistem pendidikan berasrama dalam pendidikan Islam.
Sejumlah tokoh pendidikan dan pejabat nasional dari Indonesia juga dijadwalkan hadir dalam forum tersebut, termasuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta akademisi UIN Sunan Kalijaga Amin Abdullah.
Hamid berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada diskusi. Pengalaman pendidikan pesantren akan didokumentasikan dan dikaji secara ilmiah agar dapat dipelajari lebih luas.
Forum tersebut juga ditargetkan menghasilkan Deklarasi GIHES sebagai komitmen bersama untuk mengembangkan pendidikan Islam dan pendidikan holistik yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.
GIHES 2026 sekaligus menjadi salah satu rangkaian menuju satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor.
Melalui forum itu, pendidikan pesantren ingin diperkenalkan bukan semata sebagai model pendidikan tradisional, tetapi sebagai salah satu pendekatan pendidikan yang dapat membentuk manusia secara utuh.
