Sabtu, 15 August 2026 01:39 UTC

Dosen ITS memberikan pelatihan pembelajaran seni kepada guru sekolah dasar se-Kabupaten Sumenep, Sabtu, 15 Agustus 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan media pembelajaran seni untuk siswa sekolah dasar (SD) dengan mengangkat beragam budaya lokal Madura. Inovasi tersebut dikembangkan Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) ITS melalui 10 karya ilustrasi edukatif berukuran A3.
Media tersebut memuat berbagai aktivitas dan kesenian yang lekat dengan kehidupan masyarakat Madura. Tim memasukkan Pacuan Karapan Sapi, Sapi Sonok, Tari Topeng Sumenep, Pè-sapèan atau adu pacu miniatur karapan sapi, pertunjukan musik, kegiatan membatik, pameran keris Madura, aktivitas di tambak garam, Rokat Tasè’ atau Petik Laut, hingga penjual Sate Madura.
Ketua Tim PISN ITS Naufan Noordyanto mengatakan, tim sengaja memasukkan unsur budaya lokal agar kegiatan seni di sekolah sekaligus menjadi sarana pengenalan identitas budaya kepada anak.
“Anak-anak tidak hanya belajar mewarnai, tetapi juga mengenal berbagai budaya yang ada di lingkungan mereka. Jadi, kegiatan seni sekaligus menjadi pintu masuk untuk mengenalkan identitas budaya Madura,” kata Naufan, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut Naufan, media tersebut tidak dirancang sekadar untuk mengisi waktu belajar. Tim menjadikan kegiatan mewarnai sebagai pintu masuk bagi siswa untuk mengenal lingkungan sosial dan budaya yang dekat dengan kehidupan mereka.
“Pembelajaran seni akan lebih mudah diterima siswa ketika materi yang diberikan memiliki kedekatan dengan lingkungan dan kebudayaan yang mereka kenal,” ujarnya.
Tim dari Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital (F-DKBD) ITS juga menyesuaikan desain ilustrasi dengan kemampuan siswa SD kelas rendah. Mereka mempertimbangkan tingkat kerumitan garis, komposisi gambar, serta objek yang ditampilkan agar siswa dapat mengerjakannya dengan nyaman.
“Ilustrasinya kami revisi berkali-kali untuk memastikan representasi budaya Madura tetap tepat dan tingkat kesulitan garis maupun komposisinya sesuai dengan kemampuan anak SD kelas rendah,” terang Naufan.
Pengembangan media pembelajaran tersebut berlangsung sejak Maret 2026. Tim PISN ITS terlebih dahulu melakukan pemetaan materi budaya, kemudian menyusun konsep visual, membuat sketsa, hingga memproduksi karya.
Setelah menandatangani kontrak dengan Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, tim mengintensifkan pengembangan ide dan sketsa sejak Mei 2026.
Naufan menjelaskan, penggunaan budaya lokal dalam media pembelajaran juga memberikan manfaat lebih luas bagi perkembangan siswa. Aktivitas seni dapat membantu melatih motorik halus, mengembangkan kreativitas, mendukung regulasi emosi, sekaligus meningkatkan kepekaan estetis anak.
“Kami ingin memberikan alat bantu yang dapat digunakan guru secara praktis, sekaligus membawa konteks budaya lokal Madura ke dalam pembelajaran anak-anak,” katanya.
Media ilustrasi tersebut kemudian digunakan dalam pelatihan PISN ITS yang melibatkan guru SD di Kabupaten Sumenep. Kegiatan itu menjadi sarana bagi guru untuk mencoba langsung penerapan media dalam pembelajaran seni.
Melalui inovasi tersebut, PISN ITS berupaya menjadikan pembelajaran seni tidak hanya berorientasi pada hasil karya, tetapi juga mampu memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi muda.
