JATIMNET.COM, Surabaya- Fikri Dwi Firmansyah, anak jalanan yang diasuh oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akhirnya bisa bersekolah lagi. Bocah tujuh tahun itu akan masuk kelas satu Sekolah Dasar (SD) di Kedung Baruk mulai 16 Januari 2019.

"Saya senang besok masuk sekolah lagi," kata Fikri saat diwawancarai di Kampung Anak Negeri, Selasa 15 Januari 2019.

Sebelumnya Fikri sudah pernah sekolah di SD Sawahan, tapi tak sampai dua bulan sudah berhenti lantaran masalah ekonomi keluarga yang buruk. Ia lantas diberdayakan oleh pamannya, diajak mengamen di bus-bus antar kota. Dia bahkan pernah mengamen sampai ke Jakarta.

Fikri senang sekali berada di Kampung Anak Negeri, menjadi anak asuh Risma. Menurut bocah ini, hidupnya tidak lagi mencari uang di jalanan. Yang terpenting, ia bisa sekolah lagi dan melanjutkan cita-cita yang tertunda karena masalah ekonomi.

"Aku gak suka di jalan, pasti disuruh merantau cari uang sama Pakde," katanya.

BACA JUGA: Curhat Bocah Pengamen Kepada Risma

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kampung Anak Negeri Erni Lutfia mengatakan Fikri sudah melewati terapi psikologis selama sepekan di Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A). Ia berada di DP5A setelah terjaring razian Satuan Polisi Pamong Praja.

Hasil psikoterapinya juga normal, seperti anak kecil pada umumnya. "Biasanya Fikri suka main-main, makan, dan juga terkadang nangis karena masalah mainan atau jika dibangunin," ujarnya.

Erni menjelaskan pada dasarnya Fikri tidak trauma dan bisa beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru. Hanya saja, ketika datang ke Kampung Anak Negeri, kesehatan kulitnya memang kurang baik. Ia mengalami gatal-gatal dan luka mata ikan.

"Sabtu kemarin sudah kami bawa ke puskesmas," kata Erni.

Selain itu, masalah lain Fikri ialah pada pola tidurnya karena sebelumnya lebih banyak beraktivitas di jalan. Misalnya, ia masih suka tidur larut malam sampai pukul 01.00 WIB. Biasanya dia mengobrol dengan kakak-kakaknya. Akibatnya susah dibangunkan di pagi hari.

"Seharusnya kemarin survei ke sekolah, tapi anaknya enggak bisa bangun. Jadi dibatalkan," kata Erni sambil menjelaskan kalau pemerintah kota sudah mendaftarkan dan memenuhi syarat administrasi sekolahnya Fikri.

BACA JUGA: Orang Tua Saling Gugat, Anak Kirim Surat ke Presiden

Sementara itu, Kepala DP5A Chandra Oratmaung mengatakan Fikri sudah dipertemukan dengan ibunya. Mereka terlihat bahagia.

"Kami melakukan pencarian keluarganya cukup lama, karena ibunya sudah pindah dari tempat tinggal yang lama," kata Chandra.

Usaha mencari orangtua Fikri memang cukup berat. Singkat kata, Pemkot Surabaya menemui guru kakaknya di sekolah. Lalu sekolah membantu memanggil orangtuanya. Setelah dimediasi, orangtuanya menyerahkan Fikri kepada pemkot karena masalah keuangan keluarga yang tidak stabil.

"Kalau pun pihak keluarga memintanya harus meminta izin langsung ke Bu Wali (Risma). Karena Fikri sudah dijadikan anak asuhnya," ujarnya.

Sampai saat ini keluarga (pakde) yang memberdayakan Fikri masih dicari oleh polisi. Sementara itu, Fikri dirawat oleh pemkot dan tidak dikembalikan ke keluarganya sebab khawatir akan diberdayakan lagi untuk mencari uang.

Pemkot berharap anak-anak didik yang berada di Kampung Anak Negeri bisa sukses dan mencapai impiannya. Juga bisa sekolah dengan tuntas karena mereka dibina agar lebih rajin, disiplin, dan pintar.