Logo

Fesyen Lokal Jadi Cara Baru Bangga Indonesia

Rasa bangga pada karya Indonesia kini bisa hadir lewat pakaian yang benar-benar ingin dipakai setiap hari.
Reporter:,Editor:

Rabu, 12 August 2026 05:00 UTC

Fesyen Lokal Jadi Cara Baru Bangga Indonesia

Ilustrasi: Gaya Lokal Surabaya. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Fesyen lokal Indonesia sedang menikmati posisi yang menarik. Ia tidak lagi otomatis diasosiasikan dengan pakaian untuk acara khusus, bazar UMKM, atau produk yang dibeli karena rasa sungkan ingin “mendukung lokal”.

Di Surabaya, perubahan itu mudah terlihat. Kemeja dari label independen masuk ke kantor, sneakers lokal menemani nongkrong selepas kerja, sedangkan sentuhan batik dan kain tradisional mulai muncul dalam potongan yang lebih santai.

Ada alasan ekonomi di balik ramainya pilihan tersebut. Industri fesyen Indonesia memang memiliki pasar besar, tetapi juga menghadapi persaingan ketat. Membeli produk lokal akhirnya menjadi keputusan yang jauh lebih kompleks daripada urusan nasionalisme.

 

Dari Wastra ke Streetwear, Pilihannya Makin Lebar

Fesyen lokal hari ini tidak punya satu wajah. Di satu sisi ada batik, tenun, bordir, dan berbagai kekayaan tekstil Nusantara. Di sisi lain tumbuh label streetwear, modest fashion, pakaian olahraga, sepatu, tas, hingga basic wear dengan pendekatan desain yang sangat urban.

Keragaman tersebut membuat produk lokal lebih mudah masuk ke lemari konsumen. Orang tak perlu menunggu kondangan atau peringatan hari besar untuk mengenakan sesuatu yang memiliki unsur Indonesia.

Skala ekonominya juga layak diperhitungkan. Kementerian Perindustrian mencatat PDB industri fesyen dan kriya pada triwulan I 2026 mencapai Rp120,13 triliun. Nilainya meningkat 7,89 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp111,34 triliun. 

Pertumbuhan sektor fesyen dan kriya sepanjang 2025 tercatat 4,93 persen, setelah pada 2024 berada di angka 2,43 persen. Pada triwulan pertama 2026, investasi domestik dan asing di kedua sektor tersebut secara total mencapai Rp14,21 triliun. 

Di balik kaus, jaket, sepatu, atau tas yang terlihat sederhana, terdapat rantai usaha yang panjang. Ada pemasok bahan, penjahit, desainer, pembuat pola, fotografer produk, percetakan kemasan, pekerja gudang, hingga jasa logistik.

Maka ketika sebuah label lokal bertumbuh, efek ekonominya dapat bergerak ke banyak arah.

 

Label Lokal Tak Bisa Lagi Menjual Nasionalisme Saja

Agustus selalu memberi panggung besar bagi warna merah putih. Motif Nusantara kembali muncul, koleksi bertema kemerdekaan diluncurkan, dan ajakan menggunakan produk dalam negeri terdengar lebih sering. Namun, lemari pakaian konsumen punya logika sendiri.

Kemeja yang potongannya kurang nyaman tetap akan jarang dipakai. Sepatu yang cepat rusak sulit mendapatkan pembelian kedua. Sebaliknya, produk lokal yang pas di badan, awet, mudah dipadukan, dan memiliki harga masuk akal bisa menjadi favorit tanpa perlu terus-menerus mengingatkan pembeli bahwa barang tersebut buatan Indonesia.

Persaingan ini makin terasa karena fesyen nasional sudah berhadapan langsung dengan pasar internasional. Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor tekstil dan pakaian jadi Indonesia pada 2024 mencapai US$11,96 miliar, meningkat 2,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Sementara data pemerintah mengenai ekonomi kreatif pada semester I 2024 mencatat ekspor subsektor fesyen senilai sekitar US$6,77 miliar. Fesyen menjadi penyumbang terbesar ekspor ekonomi kreatif dalam pencatatan tersebut, berada di atas kriya dan kuliner. 

Pasar luar negeri tentu berbeda dengan rak pakaian konsumen Surabaya. Meski demikian, kemampuan menembus ekspor memberi gambaran bahwa fesyen Indonesia tidak bergerak dalam ruang kecil.

 

Surabaya Punya Selera yang Praktis

Ada faktor yang kadang terlupakan ketika membicarakan mode: cuaca. Surabaya panas dan aktivitas kotanya cepat. Orang berpindah dari rumah ke kantor, naik kendaraan, berjalan menuju tempat makan, masuk mal, kemudian kembali menghadapi udara luar yang hangat.

Pakaian yang terlalu rumit punya tantangan tersendiri. Bahan ringan, potongan longgar, kemampuan menyerap keringat, warna yang mudah dipadukan, serta desain yang dapat berpindah dari suasana kerja ke acara santai mempunyai nilai praktis. Tren boleh datang dari mana saja, tetapi akhirnya harus bernegosiasi dengan kehidupan pemakainya.

Itu pula yang membuat adaptasi unsur tradisional terasa menarik. Batik tak harus hadir sebagai kemeja formal berlengan panjang. Motifnya dapat masuk ke outer, sneakers, tas, atau detail kecil pada pakaian.

Wastra juga tidak perlu kehilangan karakter agar terlihat kontemporer. Pekerjaan desainer justru berada pada cara membawa material, motif, atau teknik lokal ke bentuk yang nyaman bagi kehidupan sekarang. Dalam konteks tersebut, “lokal” tidak identik dengan nostalgia.

 

Industri Fesyen Juga Punya Tagihan Lingkungan

Semakin sering orang membeli pakaian, semakin relevan pula pertanyaan mengenai apa yang terjadi setelah pakaian tidak lagi digunakan.

Kementerian Ekonomi Kreatif telah menempatkan fesyen berkelanjutan sebagai isu yang perlu diperhatikan, termasuk melalui upcycling dan pengurangan limbah tekstil. Kementerian Perindustrian juga mendorong transformasi industri fesyen menuju praktik yang lebih ramah lingkungan. 

Bagi konsumen, pembahasannya tidak harus langsung berubah menjadi aturan rumit tentang cara berpakaian. Memeriksa bahan sebelum membeli sudah berguna.

Begitu pula memilih ukuran yang benar, memperhatikan kualitas jahitan, merawat pakaian sesuai karakter kain, memperbaiki kerusakan kecil, dan mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar akan sering digunakan.

Produk lokal bahkan memiliki peluang menarik pada wilayah ini. Produksi dalam skala lebih terbatas dapat membuka ruang bagi sistem pre-order, penggunaan sisa kain, koleksi kecil, perbaikan produk, atau eksperimen material yang sulit dilakukan dengan pola produksi massal.

Tentu label “lokal” sendiri tidak otomatis membuat sebuah produk berkelanjutan. Konsumen tetap perlu melihat praktik mereknya, bukan sekadar membaca asal produksinya.

 

Bangga Indonesia Mulai Terlihat Lebih Santai

Sektor ekonomi kreatif Indonesia menyerap 26,47 juta tenaga kerja pada 2024, menurut Kementerian Ekonomi Kreatif. Pada tahun yang sama, pertumbuhan PDB ekonomi kreatif tercatat 5,69 persen. Fesyen termasuk kelompok subsektor yang memberikan kontribusi besar dalam ekosistem tersebut. 

Skala itu membuat pilihan pakaian punya dimensi ekonomi yang menarik. Namun, konsumen tidak perlu merasa setiap transaksi harus menjadi pernyataan besar tentang bangsa.

Justru perkembangan fesyen lokal terasa lebih matang ketika produknya dipilih secara biasa. Seseorang membeli jaket lokal karena potongannya bagus.

Seorang pekerja memilih sepatu buatan Indonesia karena nyaman dipakai seharian. Anak muda mengenakan batik kontemporer karena cocok dengan celana yang sudah ada di lemari.
Pada titik tersebut, kebanggaan tidak perlu dicetak besar di dada.
Agustus mungkin membuat orang lebih sering memperhatikan karya dalam negeri. Sesudah perayaan kemerdekaan selesai, ujian sesungguhnya kembali sederhana: apakah pakaian itu masih ingin diambil dari lemari pada Senin pagi.
Jika jawabannya iya, fesyen lokal Indonesia sudah memenangkan sesuatu yang lebih penting daripada tren musiman—tempat dalam kehidupan sehari-hari.