Logo

Dugaan Keracunan 178 Peserta Pradik PPDS Unair, RSUD Dr Soetomo Masih Tunggu Hasil Laboratorium

Reporter:,Editor:

Selasa, 29 September 2026 10:00 UTC

Dugaan Keracunan 178 Peserta Pradik PPDS Unair, RSUD Dr Soetomo Masih Tunggu Hasil Laboratorium

Manajemen RSUD dr Soetomo saat melakukan konfrensi pers, Selasa, 29 September 2026. Foto: Januar

JATIMNET.COM, Surabaya – Penyebab gangguan kesehatan yang dialami 178 orang dalam kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) masih belum diketahui secara pasti.

RSUD Dr Soetomo Surabaya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Pemeriksaan itu dilakukan untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami peserta setelah mengikuti kegiatan Pradik.

Direktur RSUD Dr Soetomo Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan makanan yang dikonsumsi peserta sebagai penyebab kejadian. Hal itu meskipun sebagian besar peserta melaporkan keluhan setelah mengonsumsi nasi kotak yang disediakan dalam kegiatan.

"Sampai saat ini, penyebab pasti belum dapat disimpulkan. Oleh karena itu, kejadian ini masih disebut sebagai dugaan keracunan atau gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan, sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," kata Cita saat konferensi pers, Selasa, 29 September 2026.

Cita menjelaskan, rumah sakit masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui hubungan antara makanan yang dikonsumsi dengan gangguan kesehatan yang dialami peserta. Karena itu, RSUD Dr Soetomo belum menyimpulkan makanan tersebut sebagai penyebab utama.

Dalam penanganannya, RSUD Dr Soetomo juga berkoordinasi dengan Fakultas Kedokteran Unair dan sejumlah institusi terkait. Koordinasi tersebut dilakukan untuk menangani sekaligus menelusuri penyebab kejadian.

"Tentu Soetomo terus berkoordinasi dengan FK Universitas Airlangga," ujarnya.

Sementara itu, pendataan terbaru menunjukkan jumlah orang yang melaporkan mengalami gejala mencapai 178 orang. Dari jumlah tersebut, 172 orang merupakan peserta Pradik PPDS dan enam lainnya merupakan karyawan RSUD Dr Soetomo.

Enam karyawan tersebut termasuk petugas cleaning service yang ikut mengonsumsi nasi kotak dalam kegiatan Pradik.

"Kegiatan Pradik diikuti oleh 289 PPDS, dan berdasarkan pendataan terakhir, terdapat 178 orang yang telah melaporkan mengalami gejala, terdiri atas 172 peserta Pradik PPDS dan 6 orang karyawan RSUD Dr Soetomo, termasuk petugas cleaning service yang ikut mengonsumsi makanan tersebut," kata Cita.

Para peserta dan karyawan yang mengalami gangguan kesehatan melaporkan sejumlah keluhan, antara lain mual, muntah, diare, dan pusing. RSUD Dr Soetomo langsung melakukan pendataan dan pemantauan setelah menerima laporan tersebut.

Rumah sakit juga melakukan triase untuk menentukan pasien yang membutuhkan penanganan medis. Petugas kemudian menyiapkan pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) bagi mereka yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Keluhan yang dilaporkan antara lain mual, muntah, diare, pusing, dan gangguan kesehatan lain. Begitu menerima laporan, Soetomo segera melakukan pendataan, pemantauan kondisi, triase, segera menyiapkan pelayanan IGD bagi yang membutuhkan penanganan medis. Memang SOP-nya demikian untuk dugaan keracunan ya," ucapnya.

Meski jumlah orang yang melaporkan gejala mencapai 178 orang, Cita memastikan kondisi mereka saat ini telah membaik. RSUD Dr Soetomo juga memastikan tidak ada lagi korban yang menjalani rawat inap.

"Kondisi sekarang sudah tidak ada lagi yang dirawat di rumah sakit. Jadi gejala-gejala sudah membaik semua dan kami terus melakukan pemantauan via WA," katanya.

RSUD Dr Soetomo masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan tersebut. Hasil pemeriksaan itu nantinya menjadi salah satu dasar dalam menelusuri apakah kejadian tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi peserta Pradik.

Sebelum hasil pemeriksaan keluar, RSUD Dr Soetomo tetap menyebut kejadian tersebut sebagai dugaan keracunan atau gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan.