Digitalisasi Musik Tekan Pembajakan

Nani Mashita

Sabtu, 6 April 2019 - 20:15

JATIMNET.COM, Surabaya - Era digitalisasi dan teknologi di setiap sektor tidak dapat dihindari termasuk industri musik. Tren masyarakat dalam menikmati musik juga sudah jauh berubah, mulai dari era piringan hitam, kaset pita, compact disc (CD) atau Digital Video Disc (DVD), hingga layanan musik berbasis streaming dengan sistem unduh.

Sistem digital pada musik, juga berdampak pada berkurangnya pembajakan karya musik.

Dengan adanya digitalisasi, secara otomatis membuat produk fisik menghilang secara pelan namun pasti. Puncak kejayaan rilisan fisik terasa hingga tahun 2010, seiring dengan meroketnya ring back tone (RBT) sepanjang tahun 2008-2010.

Menurut musisi sekaligus Manager Stasiun UB Radio, Redy Eko Prastyo, digitalisasi musik punya dampak positif karena memberi kemudahan bagi pengguna.

BACA JUGA: Berusia 25 Tahun, GIGI Rencanakan Gelar Konser Musik

“Hanya dengan satu media dan sentuhan jari, saat ini masyarakat dapat dengan mudah mendengar lagu kesukaannya,” katanya saat mengisi Museum Talk bertajuk “Digitalisasi Musik” di  House of Sampoerna, dalam siaran pers, Sabtu 6 April 2019.

Selain itu, berbagai aplikasi musik seperti Spotify, Joox, Youtube, Soundcloud, terbukti mampu mengurangi pembajakan, yang beberapa tahun sebelumnya sangat dikeluhkan musisi.

Era digital juga memungkinkan tiap orang mendapatkan kesempatan untuk bekarya, dan membuat album digital  ke layanan streaming, tanpa banyak interupsi dari pihak luar.

“Hal positif lain adalah menghemat kertas untuk membuat sampul,” ujarnya.

BACA JUGA: Salah Izin Konser Musik

Sementara itu, Ketua Museum Musik Indonesia Hengki Herwanto menilai, langkah digitalisasi ini dirasa cukup efektif dalam menyelamatkan lagu dan musik, yang pernah terekam di masa lalu.

Hingga saat ini, Museum Musik Indonesia telah mendigitalisasi sekitar 28.000 musik, dalam bentuk lagu dari total sekitar 200.000 koleksi.

“Dalam proses digitalisasi, musik di dokumentasi dengan rapi mulai judul, penyanyi, pencipta, tahun, label produksi serta data lain yang dirasa penting,” ujarnya.

Diskusi ini merupakan rangkaian dari kegiatan Pameran Museum “Indonesia Bermusik” yang diselenggarakan di House of Sampoerna mulai dari tanggal 20 Maret – 28 April 2019.

Baca Juga

loading...