Dari Perempuan Jepang ke Kembang Jepun

Baehaqi Almutoif

Minggu, 21 April 2019 - 13:29

JATIMNET.COM, Surabaya – Nama Kembang Jepun sudah tidak asing bagi warga Kota Surabaya. Geliat perdagangan di daerah itu mampu menopang ekonomi Kota Pahlawan.

Jalan Kembang Jepun berada di wilayah Kecamatan Pabean Cantikan. Tepatnya di Utara Surabaya. Dari Balai Kota Surabaya berjarak 4,5 kilometer atau butuh waktu sekitar 13 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Posisi Jalan Kembang Jepun cukup strategis. Letaknya berada di muara Sungai Kalimas, membuat daerah ini berkembang pesat era Hindia Belanda. Mulai pertokoan hingga pergudangan berjejer di Jalan Kembang Jepun hingga sekarang.

Lantas dari mana penamaan Kembang Jepun?

BACA JUGA: Asal Usul Kampung Made Surabaya

Sejarawan Universitas Airlangga (Uniar) Shinta Devi Ika Santhi Rahayu menyebut bahwa era Pemerintah Kolonial Belanda memberi nama nama jalan di Timur Jembatan Merah ini adalah Handelstraat. Artinya jalan perdagangan.

Sebagai pusat perdagangan, Handelstraat membentang mulai dari Jalan Rajawali hingga perempatan Jalan Kembang Jepun dan Jalan Pegirian. “Awalnya Kembang Jepun bernama Handelstraat, sebagai pusat perdagangan,” ujar Shinta dihubungi Jatimnet, Jumat 19 April 2019.

Kembang Jepun memiliki dua makna. Kembang berarti bunga, sedangkan Jepun berarti Jepang. Memang kawasan Kembang Jepun erat kaitannya dengan wanita Jepang. Hal tersebut dibenarkan Shinta.

PUSAT DAGANG. Aktivitas Jalan Kembang Jepun pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Foto: Wikimedia

Dosen Sejarah Unair itu menuturkan, disebutnya Kembang Jepun karena di sana banyak terdapat penginapan, serta warung yang ditinggali perempuan Jepang. Mereka memiliki paras cantik yang berprofesi sebagai Karayukisan.

Menurut Shinta, Karayukisan merupakan perempuan penghibur Jepang yang mulai menyebar ke berbagai negara era Restorasi Meiji. Diperkirakan sekitar tahun 1860-an mereka mulai masuk ke Surabaya.

Karayukisan, menurut Shinta, berbeda arti dengan Gheisa. Meski sama-sama perempuan penghibur, namun Karayukisan lebih ke arah pekerja seks komersial.

BACA JUGA: Kisah di Balik Nama Jalan Kramat Gantung Surabaya

Hanya saja, Shinta tidak tahu pasti siapa pengguna Karayukisan di Kembang Jepun. “Kalau itu saya tidak memiliki data valid,” ungkapnya sembari tersenyum.

Pastinya menurut Shinta, Karayukisan turut andil membangun kawasan yang juga disebut Pecinan atau China Town ini sebagai pusat perdagangan. “Mereka berperan dalam upaya Jepang mendirikan bank, karena awalnya nasabah bank Jepang adalah Karayukisan,” tuturnya.

Terlepas dari sejarah Karayukisan di Surabaya, keberadaan perempuan Jepang ini sudah sangat terkenal di awal tahun 1900-an. Sehingga tidak heran masyarakat lantas menyebut wilayah itu sebagai Kembang Jepun.

Bahkan dari peta yang didapat Jatimnet.com, Kembang Jepun menjadi sebutan bagi wilayah tersebut. Kendati para perempuan itu sudah berangsur meninggalkan Surabaya sejak 1942, tetapi sebutan itu bertahan hingga kini. Untuk menggantikan nama Jalan Handelstraat menjadi Jalan Kembang Jepun.

Baca Juga

loading...