Logo

Cerita Miris Bocah 7 Tahun di Malang, Dibiarkan Kelaparan dan Nyaris Digantung Ayahnya  

Reporter:,Editor:

Sabtu, 14 October 2023 14:27 UTC


Cerita Miris Bocah 7 Tahun di Malang, Dibiarkan Kelaparan dan Nyaris Digantung Ayahnya
 

no image available

JATIMNET.COM, Malang - Kasus kekerasan anak dibawah umur yang dialami bocah berusia 7 tahun berinisial DN yang dilakukan ayah biologisnya berinisial JA (38) dan EN dan keluarga ibu tirinya mengisahkan kesedihan mendalam di masyarakat. Setelah DN berhasil diselamatkan dari rumah penyiksaan di Jalan KH Malik Dalam Gang Permata Gading, Kelurahan Buring, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, terungkap cerita kekejian yang dilakukan ayah kandungnya, selain setiap hari mendapatkan kekerasan fisik berupa pukulan dan kekerasan verbal, DN juga sempat akan digantung di gudang belakang rumahnya. 

Ketua RW 4, Nur Junaedi mengatakan berdasarkan keterangan warga, jika kekerasan yang dialami DN oleh ayahnya dan ibu tirinya terjadi sudah lama, semenjak korban diambil tersangka JA dari ibu kandungnya dan ikut bersama ibu tiri dan keluarganya. 

"Awalnya DN diambil JA dari ibunya setelah keduanya pisah. Ceritanya JA mengambil DN, karena DN disuruh mengamen, hingga akhirnya DN diambil secara paksa oleh JA untuk dirawat," ungkap Nur Junaedi, kepada wartawan, Sabtu (14/10/2023).

Ia melanjutkan selama 4 tahun tinggal bersama ibu tirinya, kondisinya baik-baik tidak ada kekerasan yang dialami DN. DN kondisinya sehat dan juga bermain bersama teman-teman sebayanya.

Namun, pada 2 tahun terakhir, kasih sayang JA terhadap DN berubah. Bahkan, DN juga tidak diperbolehkan keluar rumah sampai akhirnya kasus penyiksaan ini terungkap.

Kekerasan demi kekerasan fisik dilakukan oleh JA kepada anak kandungnya tersebut. Perbuatan keji dan biadab yang dilakukan JA dan ibu tirinya berinisial EN beserta seluruh keluarganya terhadap DN pun semakin menjadi. 

Selama 6 bulan terakhir penyiksaan amat pedih dirasakan DN yakni kekerasan fisik mulai dari pukulan di tubuh dan tendangan di kepala korban, sampai tangan korban dicelupkan ke air mendidih sehingga mengalami luka bakar. Kemudian sampai disulut api rokok di tubuh, mulut dan lidah korban, sampai wajahnya di pukul pisau cutter sampai luka di jidat oleh nenek tirinya.

"Luka yang terakhir di wajahnya karena dipukul dengan cincin akik oleh ayahnya. Entah persoalan apa yang menyebabkan DN jadi korban penganiayaan. Apakah faktor ayahnya tidak suka DN, atau faktor lainnya terpengaruh keluarga tirinya yang tidak suka dengan keberadaan DN mungkin karena sering dianggap berpola. Tapi namanya anak kecil itu sangat wajar.," tandasnya.

Lebih memprihatinkan lagi, kata Nur Junaedi, selama mengalami penyiksaan ayah kandung dan ibu tirinya, DN sampai mengalami pingsan. Dan agar sadar kembali DN disiram dengan air.

"Saat pingsan anak itu disiram air, kaget bangun terus disiram lagi," ungkapnya.

Bahkan, kata dia,korban DN juga pernah akan digantung ayahnya, tapi akhirnya diselamatkan pamannya. "Banyak cerita miris dan yang dialami korban. Dari cerita-cerita warga dan saya mendengar sendiri anak itu sempat akan digantung, tapi akhirnya diamankan dibawa lari keluar rumah oleh pamannya untuk meredakan situasi di dalam rumah saat itu. Memang JA suka melakukan kekerasan, bahkan, kalau sudah pegel (marah) korban dimasukkan ruangan kecil atau ruang terisolir yang di dalamnya banyak dihuni tawon dan juga ada rumah tawonnya, sehingga membuat wajahny bentol-bentol," bebernya.

Ironisnya lagi, selain mendapat penyiksaan, DN juga tidak pernah diberi makan. Sehingga, dalam kondisi kelaparan, dia kerap makan sisa-sisa makanan. "Kalau melihat kondisinya sampai busung lapar, kemungkinan tidak diberi makan. Kalau toh makan ya makan sisa - sisa makanan," pungkasnya.