Logo
Kunjungan Menbud Fadli Zon ke Paiton Probolinggo

‎Candi Jabung Bangkit, Jejak Majapahit di Probolinggo Didorong Jadi Pusat Budaya

Reporter:,Editor:

Minggu, 25 January 2026 10:23 UTC

‎Candi Jabung Bangkit, Jejak Majapahit di Probolinggo Didorong Jadi Pusat Budaya

‎Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat meninjau Candi Jabung di Paiton Probolinggo. Foto: Zulafif

JATIMNET.COM, Probolinggo – Candi Jabung yang berada di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, kembali mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat kebudayaan di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur.

Perhatian itu ditandai dengan kunjungan kerja Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, ke kawasan Candi Jabung pada Minggu sore, 25 Januari 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya penguatan pelestarian sekaligus pengembangan kawasan cagar budaya agar mampu berfungsi lebih luas bagi masyarakat.

Melalui kunjungan tersebut, pemerintah pusat ingin memastikan bahwa pelestarian Candi Jabung tidak hanya berfokus pada aspek fisik bangunan, tetapi juga diarahkan untuk menjadikan kawasan ini sebagai sentra aktivitas budaya yang berkelanjutan.

Fadli Zon mengapresiasi langkah revitalisasi yang telah dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI. Menurutnya, Candi Jabung memiliki nilai sejarah, arsitektural, dan budaya yang sangat tinggi sehingga layak mendapatkan perhatian khusus.

BACA: Teliti Struktur Diduga Pagar, BPK Jatim Ekskavasi Lahan Dekat Candi Brahu di Trowulan

Ia menilai Candi Jabung merupakan salah satu situs penting peninggalan Kerajaan Majapahit yang harus terus dijaga kelestariannya sekaligus dikembangkan secara berkelanjutan.

“Kawasan Candi Jabung ini relatif luas dan memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Revitalisasi yang dilakukan sudah sangat baik dan perlu terus dilanjutkan,” ujar Fadli Zon.

Ia menjelaskan bahwa Candi Jabung dibangun pada tahun 1276 Saka atau sekitar 1354 Masehi pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, sebagaimana tercatat dalam Kitab Negarakertagama.

Keunikan candi ini terletak pada penggunaan material bata merah sebagai bahan utama bangunan, berbeda dengan kebanyakan candi di Jawa Timur yang umumnya menggunakan batu andesit.

BACA: Temuan Fosil Diduga Manusia Bisa Jadi Petunjuk Penyebab Kehancuran Situs Kumitir

“Dari sisi arsitektur, Candi Jabung menunjukkan perkembangan teknologi bangunan pada masa Majapahit serta akulturasi antara Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal,” jelas doktor ilmu sejarah dari Universitas Indonesia (UI) ini. 

Selain pelestarian fisik, Fadli Zon juga menekankan pentingnya perlindungan kawasan Candi Jabung dari berbagai ancaman, baik vandalisme maupun faktor alam, mengingat letaknya yang berada di wilayah pesisir.

Ia mendorong agar pemanfaatan kawasan dilakukan sesuai dengan amanat undang-undang, tanpa mengurangi nilai sejarah maupun kesakralan situs tersebut.

“Kawasan ini berpotensi dikembangkan sebagai ekosistem budaya, mulai dari festival seni, tradisi lokal, wisata sejarah, wisata religi hingga wisata kuliner khas Kabupaten Probolinggo,” tambahnya.

BACA: Warga Blitar Kembali Temukan Benda Purbakala di Situs Gedog

Sementara itu, Bupati Probolinggo Mohammad Haris menyampaikan bahwa kunjungan Menteri Kebudayaan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penguatan dan revitalisasi situs-situs budaya di Kabupaten Probolinggo, setelah sebelumnya dilakukan peninjauan kawasan Tengger dan Bromo.

Ia menegaskan bahwa meskipun Candi Jabung berasal dari periode sejarah yang berbeda dengan budaya Tengger, seluruh peninggalan tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Kabupaten Probolinggo.

“Ke depan kami berharap ada perbaikan dan revitalisasi yang berkelanjutan agar situs-situs sejarah ini dapat dimanfaatkan secara optimal. Harapannya, Kabupaten Probolinggo memiliki satu sentra budaya yang bisa dipahami dan dinikmati oleh seluruh masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bupati Haris menekankan bahwa pengembangan pusat kebudayaan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku UMKM di sekitar kawasan.

“Setiap pusat budaya harus berdampak pada ekonomi masyarakat. Dengan meningkatnya kunjungan, UMKM bisa terlibat dan perekonomian masyarakat ikut bergerak. Budaya harus bermuara pada kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.