Minggu, 21 June 2026 03:00 UTC

Ilustrasi kekeringan. Foto: Pixabay.
JATIMNET.COM, Madiun – Ancaman kekeringan dan kebakaran hutan mulai menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Madiun pada musim kemarau tahun ini.
Sedikitnya 20 titik juga telah dipetakan sebagai wilayah yang berpotensi terdampak kekurangan air. Pemetaan tersebut berdasarkan pengalaman kemarau pada 2025.
Selain itu, berlandaskan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan musim kemarau tahun ini lebih ekstrem
“Ada sekitar 20 wilayah yang sudah kami petakan berpotensi terdampak. Kami berharap kondisi tersebut tidak sampai seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi kesiapsiagaan tetap kami lakukan,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun, Ageng Kurnia Wijayanto, Kamis, 18 Juni 2026.
Sebanyak 20 wilayah itu meliputi dataran rendah karena berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air bersih. Salah satunya, di wilayah Kecamatan Madiun yang masuk dalam radar pemantauan BPBD.
Sementara itu, ancaman karhutla lebih difokuskan pada kawasan yang memiliki area hutan luas. Kecamatan Gemarang, Kare, dan Saradan menjadi tiga wilayah yang mendapat perhatian karena kondisi lahannya rentan terbakar saat musim kemarau.
BPBD telah meminta pemerintah kecamatan hingga desa meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap lahan kering dan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Selain kesiapan personel dan peralatan, BPBD juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Warga diminta mengutamakan kebutuhan utama dan menghindari pemborosan air.
“Penggunaan air harus efektif dan efisien agar cadangan yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal selama kemarau,” pungkasnya.
